Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini tengah mengamati tantangan yang dihadapi oleh para emiten dalam memenuhi ketentuan saham free float. Tekanan jual yang signifikan di pasar modal menjadi hambatan utama bagi perusahaan tercatat untuk menyesuaikan porsi saham publik sesuai regulasi terbaru.
Kewajiban meningkatkan porsi saham yang beredar di masyarakat ini merupakan bagian dari upaya BEI memperkuat likuiditas pasar. Namun, kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang tertekan membuat proses penyerapan saham oleh investor menjadi lebih menantang.
Rincian Tenggat Waktu Pemenuhan Free Float
BEI telah menyusun jadwal bertahap bagi emiten untuk menyesuaikan porsi saham publik mereka. Aturan ini dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi pasar atau market cap yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan tercatat di bursa.
Berikut adalah rincian tenggat waktu penyesuaian saham free float bagi emiten :
| Kategori Emiten | Target Free Float | Tenggat Waktu |
|---|---|---|
| Market cap di bawah Rp5 triliun | Minimal 12,5% | 31 Maret 2027 |
| Market cap di bawah Rp5 triliun | Minimal 15% | 31 Maret 2028 |
| Emiten dengan porsi 12,5% - 15% | Minimal 15% | 31 Maret 2027 |
| Emiten dengan market cap di bawah Rp5 triliun (ketentuan akhir) | Minimal 15% | 31 Maret 2029 |
Penetapan jadwal yang cukup panjang ini bertujuan agar emiten memiliki waktu yang memadai dalam melakukan aksi korporasi. Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi penumpukan suplai saham secara mendadak yang bisa semakin menekan harga di pasar.
Ratusan Emiten Masih Belum Penuhi Syarat
Data internal Bursa Efek Indonesia per Februari 2026 menunjukkan bahwa masih banyak perusahaan yang harus bekerja keras. Tercatat sebanyak 267 emiten belum mampu mencapai batas minimum saham free float sebesar 15 persen.
Kondisi ini semakin krusial karena 49 di antaranya merupakan emiten berskala besar. Kelompok emiten besar ini memegang peranan vital karena berkontribusi hingga 90 persen terhadap total kapitalisasi pasar di Indonesia.
Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memberikan tanggapannya mengenai potensi pemberian kelonggaran lebih lanjut bagi emiten. Menurutnya, saat ini masih terlalu dini untuk memutuskan apakah diperlukan perpanjangan waktu kembali bagi para perusahaan tersebut.
Jeffrey menekankan bahwa meskipun IHSG telah mengalami penurunan lebih dari 30 persen sejak awal tahun, waktu yang tersedia masih cukup. Pihak bursa terus memantau perkembangan dan bekerja sama erat dengan asosiasi serta emiten terkait untuk memastikan semua tetap berjalan sesuai rencana.
Dalam pernyataannya di Gedung BEI Jakarta pada Kamis (4/6/2026), Jeffrey menyebut bahwa bursa tetap berada di jalur yang benar. Upaya bersama terus dilakukan agar target pemenuhan porsi saham publik tersebut dapat tercapai sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Langkah Strategis BEI Menarik Investor
Selain menetapkan aturan, BEI juga proaktif mencari solusi untuk meningkatkan daya serap pasar terhadap saham-saham tersebut. Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mempertimbangkan aspek sisi permintaan (demand side).
BEI berencana melakukan serangkaian kegiatan promosi atau roadshow untuk memperkenalkan potensi saham Indonesia kepada calon investor. Langkah ini dianggap penting agar tambahan saham yang dilepas oleh emiten nantinya bisa terserap dengan optimal oleh pasar.
Beberapa langkah strategis yang disiapkan BEI untuk menarik minat investor meliputi :
- Mengadakan roadshow domestik untuk meningkatkan partisipasi investor lokal di dalam negeri.
- Melakukan promosi ke luar negeri guna menjaring minat dari investor institusi internasional.
- Menjalin kolaborasi dengan beberapa bursa efek di mancanegara untuk memperluas jaringan pasar.
- Bekerja sama dengan perusahaan sekuritas atau brokerage firm asing dalam memperkenalkan profil emiten Indonesia.
Rencana-rencana tersebut diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara penambahan jumlah saham yang beredar dengan ketersediaan pembeli di pasar. Nyoman optimis bahwa pengenalan perusahaan tercatat yang lebih intensif akan menarik minat investor baru meskipun kondisi pasar global sedang fluktuatif.
Pandangan dari Sisi Emiten
Di sisi lain, Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) mengakui bahwa kondisi pasar saham yang sedang lesu menjadi tantangan tersendiri. Gilman Pradana selaku Direktur AEI menyatakan bahwa emiten sebenarnya sedang berupaya menjalankan berbagai strategi untuk memenuhi aturan tersebut.
Saat ini, banyak perusahaan yang sedang menimbang-nimbang waktu yang tepat untuk melakukan aksi korporasi. Kondisi pasar yang kurang bergairah membuat emiten harus berhati-hati agar pelepasan saham tambahan tidak justru merusak harga pasar mereka.
Gilman menjelaskan bahwa situasi pasar saat ini memaksa emiten untuk mengambil sikap wait and see atau menunggu momentum yang tepat. Ia menekankan bahwa keberhasilan peningkatan free float sangat bergantung pada dinamika pasar yang sedang terjadi.
Kekhawatiran utama para emiten terletak pada daya serap pasar di tengah banyaknya sentimen negatif yang beredar. Gilman menyebutkan bahwa saat ini pasar cenderung berpihak pada pembeli (buyers game), di mana investor akan sangat selektif dalam memilih saham.
Meskipun penuh dengan ketidakpastian, Gilman menegaskan bahwa perusahaan tetap aktif mencari jalan keluar terbaik. Hal ini dilakukan agar kewajiban regulasi dapat dipenuhi tepat waktu tanpa mengabaikan kepentingan pemegang saham dan stabilitas harga perusahaan di bursa.