Seorang jemaah haji asal Indonesia menarik perhatian petugas keamanan di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, karena membawa perbekalan makanan dalam jumlah besar. Petugas terpaksa membongkar koper jemaah asal embarkasi Palembang tersebut setelah menemukan timbunan tempe orek seberat lima kilogram.
Tim Bagasi Bandara Jeddah dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muhammad Riza Fahlevi, memberikan penjelasan mendalam mengenai kronologi kejadian ini. Menurutnya, kecurigaan muncul saat koper tersebut melewati pemeriksaan mesin pemindai X-Ray di area kedatangan bandara.
Petugas bandara setempat merasa asing dengan tampilan visual barang-barang yang ada di dalam koper tersebut melalui layar monitor. Demi alasan keamanan dan penegakan prosedur, mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan manual dengan membongkar isinya.
Riza menceritakan momen unik saat proses pemeriksaan berlangsung di hadapan petugas bandara :
- Petugas menemukan tumpukan tempe orek dalam jumlah yang sangat banyak.
- Pihak PPIH segera memberikan penjelasan kepada otoritas bandara bahwa barang tersebut adalah makanan olahan tradisional.
- Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang terselip di antaranya.
- Setelah dipastikan aman, makanan tersebut dikembalikan kepada jemaah untuk dibawa menuju penginapan.
Riza menegaskan bahwa pembongkaran koper adalah prosedur standar untuk menjamin keamanan penerbangan dan kepatuhan terhadap aturan kepabeanan. Meskipun sempat disita sementara untuk diperiksa, tempe orek tersebut akhirnya diizinkan dibawa kembali oleh pemiliknya.
Temuan Barang Lain yang Mencurigakan
Selain kasus tempe orek, tim keamanan bandara juga menemukan barang lain yang memicu kewaspadaan petugas pemindai. Seorang jemaah diketahui membawa minyak zaitun yang dikemas secara tidak wajar dengan lilitan lakban yang sangat tebal.
Model pengemasan yang berlapis-lapis inilah yang membuat sensor X-Ray tidak bisa mengidentifikasi isinya dengan jelas. Akibatnya, petugas terpaksa meminta koper tersebut dibuka guna memastikan bahwa cairan di dalamnya bukan zat berbahaya.
Beberapa poin penting terkait aturan membawa barang bagi jemaah haji :
- Hindari membawa logistik atau makanan dalam jumlah yang terlalu berlebihan.
- Gunakan kemasan yang wajar dan mudah diidentifikasi oleh mesin pemindai bandara.
- Pastikan barang bawaan tidak melanggar aturan berat maksimal koper yang telah ditentukan.
- Jangan melilitkan lakban secara berlebihan pada botol cairan agar tidak terlihat mencurigakan.
Riza mengingatkan bahwa proses pembongkaran koper semacam ini sebenarnya sangat merugikan efisiensi waktu di bandara. Setiap pemeriksaan manual akan menghambat proses distribusi koper jemaah lainnya dari bandara menuju hotel di Makkah.
Perbedaan Prosedur di Madinah dan Jeddah
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, menjelaskan adanya perbedaan teknis dalam penanganan bagasi. Perbedaan ini bergantung pada lokasi pendaratan jemaah, apakah melalui Bandara Madinah atau Bandara Jeddah.
Di Bandara Madinah, koper-koper jemaah biasanya langsung diarahkan ke gedung khusus yang melayani kargo dan bagasi secara terintegrasi. Hal ini membuat manajemen arus barang menjadi lebih sistematis dan terpusat di satu titik pelayanan.
Ringkasan perbedaan penanganan bagasi jemaah haji di Arab Saudi :
| Lokasi Bandara | Sistem Penanganan Koper | Fasilitas Pendukung |
|---|---|---|
| Bandara Madinah | Masuk otomatis ke gedung khusus bagasi | Memiliki gudang kargo terintegrasi |
| Bandara Jeddah | Membutuhkan petugas penghubung manual | Area drop-off ditentukan secara situasional |
Tabel di atas menunjukkan bahwa jemaah yang mendarat di Jeddah memerlukan pengawasan lebih ketat dari petugas PPIH. Petugas harus ditempatkan sebagai penghubung di berbagai area untuk memantau di mana koper-koper tersebut akan diturunkan.
Setelah koper diturunkan, petugas haji bagian bagasi akan melakukan pengecekan fisik satu per satu untuk memastikan tidak ada kerusakan. Kualitas koper harus dipastikan tetap baik sebelum dipindahkan ke moda transportasi selanjutnya.
Untuk tahap pengiriman akhir, pihak syarikah atau perusahaan penyedia layanan transportasi Arab Saudi akan mengangkut koper-koper tersebut. Armada truk kontainer digunakan untuk membawa bagasi jemaah dari Bandara Jeddah menuju pemukiman di kota suci Makkah.
Hingga saat ini, proses kedatangan jemaah haji terus berlangsung dengan pengawasan ketat dari pihak berwenang. Koordinasi antara petugas Indonesia dan otoritas Arab Saudi diharapkan dapat meminimalkan kendala teknis terkait barang bawaan jemaah di masa mendatang.