Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, memberikan proyeksi optimis mengenai kondisi fiskal Indonesia pada akhir tahun 2026. Ia meyakini bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan menyusut menjadi 2,56 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka proyeksi ini ternyata jauh lebih rendah dibandingkan target awal yang dipatok pemerintah sebesar 2,68 persen dari PDB. Said menilai bahwa tekanan ekonomi global justru akan mendorong pemerintah untuk melakukan efisiensi dan penghematan anggaran yang lebih ketat.
Kekhawatiran publik mengenai ketahanan APBN 2026 yang dianggap berisiko jebol hingga melampaui batas 3 persen PDB juga dibantah olehnya. Menurut Said, meski ada tekanan dari depresiasi rupiah dan situasi makroekonomi global, kas negara pada kuartal pertama tahun ini tetap menunjukkan performa yang solid.
Pemerintah sendiri saat ini memang melakukan strategi percepatan belanja yang berdampak pada pelebaran defisit sementara. Hingga Maret 2026, defisit tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau setara dengan 0,93 persen dari PDB.
Walaupun terlihat meningkat, Said menegaskan bahwa posisi defisit tersebut masih dalam rentang yang sangat terkendali bagi kesehatan fiskal nasional. Ia memprediksi bahwa realisasi belanja hingga akhir tahun berpotensi lebih rendah dari pagu yang ditetapkan.
Strategi Efisiensi dan Penggunaan Saldo Anggaran
Pemerintah berencana menempuh langkah penyesuaian atau refocusing anggaran pada sejumlah program kerja yang ada. Hal ini dilakukan sebagai respons atas tekanan eksternal, seperti kenaikan harga minyak mentah dunia serta fluktuasi nilai tukar rupiah.
Said menjelaskan bahwa karena adanya pilihan refocusing tersebut, total defisit diperkirakan hanya akan menyentuh Rp658,3 triliun. Jumlah ini lebih kecil jika dibandingkan dengan rencana awal yang mencapai Rp689,1 triliun.
Selain langkah efisiensi, otoritas fiskal juga masih memiliki tumpuan cadangan berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) dalam jumlah besar. Bantalan anggaran ini dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu untuk menutupi kebutuhan dan menekan angka defisit.
Politisi dari PDI Perjuangan tersebut juga meluruskan simpang siur informasi mengenai besaran saldo kas negara yang tersisa. Ia membantah kabar yang menyebutkan bahwa SAL APBN 2026 hanya tersisa sekitar Rp120 triliun saja.
Fakta mengenai ketersediaan cadangan kas negara saat ini :
- Total Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari landasan APBN 2025 tercatat masih utuh sebesar Rp420 triliun.
- Sebanyak Rp300 triliun dari saldo tersebut saat ini ditempatkan di bank-bank Himbara melalui Bank Indonesia.
- Penempatan dana di bank pemerintah tersebut memberikan imbal hasil (yield) tambahan bagi kas negara.
- Penggunaan dana SAL untuk keperluan belanja wajib mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari pihak DPR.
Dengan ketersediaan dana cadangan yang mencukupi, pemerintah memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam menjaga stabilitas fiskal. Dana ini bertindak sebagai jaring pengaman jika terjadi gejolak ekonomi yang tidak terduga di masa depan.
Tantangan di Kuartal Kedua dan Kebijakan Mode Aman
Said Abdullah mengingatkan bahwa tantangan fiskal akan terasa jauh lebih berat saat memasuki kuartal kedua tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh hilangnya faktor musiman seperti momentum konsumsi selama Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Selain itu, tren kenaikan harga komoditas global juga menuntut pengelolaan keuangan negara yang jauh lebih ekstra hati-hati. Banggar DPR secara resmi mendukung pemerintah untuk mulai mengaktifkan kebijakan mode aman atau safe mode.
Kebijakan ini melibatkan koordinasi antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa serta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Langkah tersebut diharapkan mampu meredam kebutuhan pembiayaan dalam jumlah besar di tengah tingginya biaya modal (cost of fund).
Berikut adalah ringkasan proyeksi ekonomi makro dan target fiskal tahun 2026 :
| Indikator Fiskal | Target Awal Pemerintah | Proyeksi Banggar DPR |
|---|---|---|
| Persentase Defisit terhadap PDB | 2,68% | 2,56% |
| Nominal Defisit Anggaran | Rp689,1 Triliun | Rp658,3 Triliun |
| Realisasi Defisit per Maret 2026 | 0,93% PDB | Rp240,1 Triliun |
| Cadangan Saldo Anggaran Lebih (SAL) | - | Rp420 Triliun |
Tabel di atas merangkum bagaimana penghematan dan kebijakan refocusing anggaran dapat mengubah arah defisit menjadi lebih sehat. Penggunaan cadangan SAL juga menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan kas negara sepanjang tahun berjalan.
Mendorong Sektor Riil melalui Program Quick Win
Sebagai bentuk kompensasi atas pengetatan belanja negara, Said mendesak pemerintah agar segera meluncurkan berbagai program quick win. Program ini harus terukur dan difokuskan untuk membangkitkan kembali gairah di sektor riil nasional.
Fokus utama diarahkan pada sektor manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, serta pertambangan. Kelompok sektor ini memiliki peran krusial karena menyumbang hingga 63,52 persen terhadap total Produk Domestik Bruto Indonesia.
Said menekankan bahwa pemerintah tidak bisa hanya bergantung pada belanja negara yang proporsinya terhadap PDB hanya sebesar 6,72 persen. Kebijakan fiskal harus mampu memberikan stimulus atau insentif agar sektor swasta dapat tumbuh secara ekspansif.
Jika sektor-sektor produktif ini berkembang, maka penyerapan tenaga kerja di sektor formal akan meningkat dengan sendirinya. Kondisi ini secara otomatis akan memperkuat ekonomi kelas menengah di dalam negeri.
Menurut Said, ketika daya beli dan ekonomi kelas menengah tumbuh, beban APBN untuk program perlindungan sosial akan semakin ringan. Dengan demikian, anggaran negara dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih produktif dan berkelanjutan.