Ancaman Karhutla Kemarau 2026: Pakar UGM Soroti Bahaya Bakar Lahan

Ancaman Karhutla Kemarau 2026: Pakar UGM Soroti Bahaya Bakar Lahan
Foto: Ilustrasi Ancaman Karhutla Kemarau 2026: Pakar UGM Soroti Bahaya Bakar Lahan.
Ukuran teks

Masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) senantiasa menjadi ancaman serius bagi lingkungan setiap kali siklus musim kemarau tiba di Indonesia. Meskipun pemerintah mengklaim adanya penurunan tren setiap tahunnya, luas area yang dilahap api masih berada pada angka ratusan ribu hektare.

Berdasarkan data resmi dari Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan, tercatat bahwa sepanjang tahun 2025 luas lahan yang terbakar telah menyentuh 359 ribu hektare. Tren ini tampaknya terus berlanjut ke awal tahun baru di mana pada periode Januari hingga Februari 2026, luasan karhutla sudah tercatat mencapai 32,6 ribu hektare.

Periode Waktu Luas Karhutla (Hektare)
Tahun 2025 (Total) 359.000
Januari-Februari 2026 32.600

Menteri Kehutanan Raja Antoni memberikan peringatan bahwa potensi karhutla pada tahun 2026 ini diprediksi jauh lebih mengancam akibat karakteristik kemarau yang lebih ekstrem. Beliau menjelaskan bahwa kondisi kekeringan akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Raja Antoni dalam sesi konferensi pers setelah agenda Rapat Koordinasi Terbatas Pengendalian Karhutla 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Senin, 6 April 2026. Hal ini menjadi perhatian kolektif karena ancaman kebakaran pada tahun 2026 diprediksi akan jauh lebih besar bagi seluruh lapisan masyarakat.

Praktik Pembukaan Lahan dengan Api

Penggunaan metode pembakaran dalam upaya pembukaan lahan baru masih menjadi faktor utama pemicu karhutla yang sangat sulit untuk dihilangkan secara total. Kondisi ini diperburuk dengan adanya prediksi kemunculan fenomena iklim El Nino yang diperkirakan akan menyelimuti sepanjang tahun 2026.

Pakar sekaligus dosen dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, mengungkapkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara fenomena El Nino dengan lonjakan risiko kebakaran. Meskipun El Nino membuat hutan menjadi sangat kering, ia menegaskan bahwa kekeringan saja sebenarnya tidak cukup untuk menyulut api tanpa adanya pemicu manusia.

Dalam pandangannya, persoalan utama bukan sekadar pada aspek pengelolaan lahan secara fisik, melainkan pada penggunaan api secara sembrono dalam proses pengolahan tanah. Penggunaan api yang tidak terkendali di tengah cuaca panas ekstrem inilah yang menjadi penyebab utama meluasnya karhutla di berbagai wilayah.

Metode Slash and Burn yang Membahayakan

Metode pembukaan lahan dengan cara membakar atau yang sering dikenal sebagai praktik slash and burn masih sangat populer karena dianggap efisien dan cepat. Namun, Fiqri mengingatkan bahwa langkah ini menyimpan risiko yang sangat fatal apabila dilakukan tanpa pengawasan dan kendali yang sangat ketat.

Banyak warga yang sering kali lalai dalam membuat sekat bakar atau gagal mengisolasi bahan bakar di area yang akan dibersihkan menggunakan api tersebut. Akibatnya, api dengan sangat cepat merembet ke area di sekitarnya karena tidak ada pembatas fisik yang menghentikan jalannya kobaran api.

Persoalan ini juga berakar pada belum optimalnya tata kelola kehutanan secara menyeluruh, terutama pada kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga. Fiqri menekankan urgensi adanya sinergi yang kuat antara pengelola hutan, pihak korporasi, serta masyarakat sekitar dalam menjaga ekosistem hutan secara kolektif.

Ancaman Terulangnya Tragedi Karhutla 2015

Sebelumnya, pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan bahwa El Nino akan memicu musim kemarau yang jauh lebih gersang. Hingga akhir Maret 2026, tercatat sekitar 7 persen dari total Zona Musim (ZOM) di Indonesia sudah mulai memasuki periode musim kering.

Tanpa adanya perbaikan signifikan dalam sistem tata kelola hutan saat intensitas El Nino menguat, terdapat kekhawatiran besar bahwa tragedi karhutla dahsyat tahun 2015 akan terulang. Pada masa itu, kebakaran hebat telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang masif dan kerugian ekonomi yang luar biasa besar bagi negara.

Kawasan dengan tanah gambut diidentifikasi sebagai wilayah yang paling rentan mengalami kebakaran karena sifatnya yang mudah terbakar hingga ke lapisan bawah tanah. Fiqri memperingatkan bahwa skenario terburuk adalah kembalinya bencana kabut asap berkepanjangan yang dipicu oleh tingginya angka deforestasi akibat kebakaran lahan.

Dampak dari kabut asap tersebut tidak hanya akan melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi, tetapi juga mengganggu jadwal penerbangan serta membahayakan kesehatan masyarakat secara luas. Hal ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk tidak meremehkan potensi bencana yang bisa timbul akibat kelalaian dalam menjaga hutan.

Langkah Peringatan Dini dan Pencegahan Konkret

Meskipun kondisinya mengkhawatirkan, Fiqri menilai bahwa kebijakan pemerintah dalam merespons dampak El Nino sudah berada pada jalur yang benar melalui sistem peringatan dini. BMKG dinilai telah proaktif memberikan informasi awal yang sangat krusial sebagai dasar mitigasi sebelum kebakaran benar-benar meluas di lapangan.

Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa peringatan dini tersebut harus dibarengi dengan tindakan nyata dan bukan sekadar menjadi tumpukan laporan di atas kertas. Pemerintah didorong untuk secara tegas membatasi penggunaan api dalam pengolahan lahan dan mempromosikan metode pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) kepada petani.

Langkah-langkah preventif seperti patroli hutan secara rutin dan pemantauan intensif terhadap kondisi ekosistem gambut harus diperkuat secara signifikan di berbagai daerah rawan. Selain itu, pemberian edukasi berkelanjutan kepada masyarakat yang bermukim di pinggiran hutan dianggap sangat vital untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi risiko karhutla.

Fiqri menutup argumennya dengan menegaskan bahwa kunci utama dalam menekan risiko karhutla saat El Nino menguat terletak pada kolaborasi semua pihak dalam tata kelola kehutanan. Penguatan pencegahan sejak dini merupakan strategi paling efektif untuk menghindarkan Indonesia dari bencana lingkungan yang lebih besar di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi