Kenapa Manusia Bisa Merinding? Simak Penjelasan Lengkap Ahli Biologi Ini

Kenapa Manusia Bisa Merinding? Simak Penjelasan Lengkap Ahli Biologi Ini
Foto: Ilustrasi Kenapa Manusia Bisa Merinding? Simak Penjelasan Lengkap Ahli Biologi Ini.
Ukuran teks

Fenomena bulu kuduk yang berdiri atau merinding saat terpapar suhu dingin maupun ketika mendengarkan musik horor ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang mendalam. Para ahli biologi mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan warisan mekanisme evolusi manusia dari zaman purba yang berkaitan erat dengan cara tubuh merespons lingkungan sekitarnya.

Pada masa lalu, mekanisme merinding berfungsi sebagai alat pertahanan alami untuk menghangatkan tubuh dengan cara mengisolasi panas di sela-sela rambut yang berdiri tegak. Scott Travers, seorang pakar biologi evolusi dari Universitas Rutgers di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa merinding kini dianggap sebagai sisa evolusi atau "sifat vestigial" yang serupa dengan fungsi usus buntu.

Nenek moyang manusia yang mendiami kawasan savana Afrika diperkirakan mulai kehilangan sebagian besar rambut tebal di tubuh mereka sekitar 1,5 hingga 2 juta tahun yang lalu. Sejak perubahan fisik tersebut terjadi, fungsi merinding untuk menghangatkan tubuh sudah tidak lagi efektif dan kini hanya tersisa sebagai reaksi otomatis tubuh terhadap rangsangan tertentu.

Mekanisme Biologis di Balik Fenomena Merinding

Meskipun sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistis oleh sebagian masyarakat, merinding sebenarnya merupakan respons biologis yang sangat alami dan terukur. Secara teknis, rambut di permukaan kulit berdiri karena adanya aktivitas dari otot sangat kecil yang dikenal dengan nama arrector pili.

Otot-otot mikroskopis ini menempel pada setiap folikel rambut di bawah permukaan kulit dan bekerja tanpa bisa dikontrol secara sadar oleh manusia. Ketika seseorang merasakan kedinginan atau stres, sistem saraf simpatik akan melepaskan neurotransmitter berupa norepinefrin yang memicu kontraksi pada otot arrector pili tersebut.

Kontraksi ini menyebabkan folikel rambut tertarik ke arah atas sehingga menciptakan tonjolan kecil pada kulit yang secara populer kita kenal dengan istilah merinding. Berdasarkan studi tahun 2020 dalam jurnal Cell, otot arrector pili merupakan bagian dari sistem biologis kompleks yang menghubungkan folikel rambut dengan saraf simpatik.

Perbandingan Fungsi pada Manusia dan Hewan

Pada dunia hewan, fenomena berdirinya bulu memiliki fungsi yang jauh lebih krusial dibandingkan pada manusia modern saat ini. Mamalia seperti kucing, serigala, hingga simpanse menggunakan bulu yang berdiri sebagai bentuk komunikasi sosial sekaligus sinyal agresi terhadap ancaman luar.

Dengan membuat bulu mereka mengembang, hewan-hewan tersebut akan terlihat memiliki ukuran tubuh yang lebih besar guna mengintimidasi lawan atau musuh mereka. Selain sebagai alat pertahanan, bulu yang berdiri tegak pada hewan juga berfungsi sangat efektif untuk memerangkap panas demi menjaga kelangsungan hidup di cuaca ekstrem.

Subjek Pengamatan Fungsi Merinding / Bulu Berdiri Efektivitas Termal
Manusia Purba Isolasi panas tubuh di antara rambut tebal Sangat Tinggi
Mamalia (Kucing/Serigala) Sinyal agresi, perlindungan diri, dan penghangat Sangat Tinggi
Manusia Modern Respons emosional dan sisa evolusi (vestigial) Sangat Rendah

Berbeda dengan hewan, evolusi manusia yang menyebabkan hilangnya rambut lebat membuat fungsi utama merinding dalam menyimpan panas menjadi hilang. Karena rambut manusia saat ini cenderung sangat tipis, mekanisme tersebut tidak lagi mampu memberikan perlindungan suhu yang signifikan bagi tubuh kita.

Kaitan Antara Emosi dan Reaksi Fisik

Menariknya, sebuah penelitian pada tahun 2011 yang dimuat dalam Biological Psychology menemukan bahwa rangsangan audio yang emosional juga bisa memicu reaksi merinding. Film yang menyentuh jiwa atau alunan musik yang mengharukan mampu membangkitkan respons fisiologis yang sama kuatnya dengan paparan suhu dingin.

Saat seseorang merasa terharu atau takut, terjadi peningkatan aktivitas elektrodermal serta pola pernapasan yang menjadi lebih dalam di dalam tubuh. Proses ini melibatkan respons simpatik penuh yang menunjukkan bahwa saraf yang dahulu digunakan untuk bertahan hidup kini telah beralih fungsi menjadi respons emosional.

Oleh karena itu, fenomena merinding saat ini tidak hanya terjadi ketika kita merasa kedinginan di malam hari. Kita juga bisa merasakannya saat menyaksikan adegan film yang mencekam atau mendengarkan simfoni musik yang menggetarkan perasaan akibat cara kerja sistem saraf kita yang telah berevolusi.

Artikel terkait

Rekomendasi