Iding Pardi, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), muncul sebagai salah satu kandidat kuat Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam pemaparannya, Iding mengusung visi strategis yang menitikberatkan pada penguatan tata kelola atau governance di lingkungan bursa saham nasional.
Ia menekankan bahwa penguatan tata kelola ini merupakan fondasi utama agar pasar modal Indonesia dapat tumbuh dengan lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.
Salah satu langkah konkret yang direncanakan adalah memperketat seleksi terhadap perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Iding berharap dengan fokus pada aspek kualitas emiten baru, para investor pasar modal akan lebih aktif dalam bertransaksi secara nyata.
Tujuannya agar pertumbuhan jumlah investor tidak hanya sekadar menjadi angka statistik dalam data single investor identification (SID), melainkan mencerminkan partisipasi aktif.
Poin utama visi strategis Iding Pardi mencakup beberapa aspek penting berikut ini:
- Memperkuat tata kelola bursa dan pasar sebagai fondasi pertumbuhan yang sehat.
- Meningkatkan kualitas perusahaan yang melakukan IPO untuk menjaga kepercayaan publik.
- Mendorong keberlanjutan investasi agar investor tidak merasa kapok setelah bertransaksi.
- Menjaga komunikasi intensif dengan penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE.
- Mengelola pasar dengan prinsip kehati-hatian (prudence) di tengah fluktuasi ekonomi.
Poin-poin di atas menjadi landasan bagi Iding dalam upaya meningkatkan citra bursa Indonesia di mata para pelaku pasar domestik maupun internasional.
Fokus pada Kualitas Investor dan Emiten
Iding menjelaskan bahwa saat ini jumlah investor memang telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, menurutnya pertumbuhan kuantitas tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas investor serta kualitas perusahaan yang melantai di bursa.
Ia menegaskan pentingnya menjaga agar investor tetap memiliki keberlanjutan dalam berinvestasi dan tidak langsung berhenti setelah mengalami pengalaman pertama di pasar.
"Kita ingin investor bisa berkelanjutan, tidak transaksi terus kemudian kapok," ujar Iding saat memberikan keterangan di Gedung BEI, Jakarta.
Selain pembenahan internal, Iding juga menyoroti pentingnya menjalin hubungan baik dengan institusi penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE.
Lembaga-lembaga internasional tersebut dianggap sebagai cermin utama yang merepresentasikan bagaimana investor global melihat stabilitas bursa saham di Tanah Air.
Menghadapi Tantangan Pasar Global
Saat ini, kondisi pasar modal domestik sedang berada dalam tekanan akibat berbagai kombinasi sentimen negatif yang cukup kompleks.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah mengalami penurunan lebih dari 20 persen sejak awal tahun.
Tekanan ini juga diikuti dengan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencapai angka hingga puluhan triliun rupiah.
Beberapa faktor eksternal yang memengaruhi antara lain pengumuman indeks MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga lonjakan harga minyak mentah dunia.
Kondisi pasar yang penuh ketidakpastian global ini juga menjadi salah satu topik bahasan dalam proses seleksi direksi baru.
Berikut adalah ringkasan tantangan dan fokus penanganan pasar yang sedang dihadapi saat ini:
| Faktor Tekanan Pasar | Fokus Solusi Iding Pardi |
|---|---|
| Penurunan IHSG lebih dari 20% sejak awal tahun. | Memperkuat tata kelola bursa sebagai institusi pengelola. |
| Aksi jual bersih (net sell) investor asing dalam skala besar. | Menjaga hubungan harmonis dengan penyedia indeks MSCI dan FTSE. |
| Ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar. | Menerapkan prinsip kehati-hatian (prudence) dalam manajemen pasar. |
| Sentimen negatif dari harga minyak dan kebijakan ekspor. | Fokus pada kualitas emiten IPO untuk memperkuat fundamental pasar. |
Tabel ini menunjukkan bahwa di tengah fluktuasi harga yang dipengaruhi faktor eksternal, penguatan tata kelola tetap menjadi kunci utama bagi bursa.
Proses Seleksi Direksi BEI
Iding Pardi mengungkapkan bahwa permasalahan pasar yang terjadi saat ini juga menjadi perhatian khusus bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Hal tersebut turut ditanyakan oleh regulator dalam proses uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test yang telah berlangsung.
Proses seleksi untuk jajaran Direksi BEI yang baru sendiri dijadwalkan akan segera rampung sebelum masa jabatan direksi saat ini berakhir.
Sebagai informasi, masa bakti jajaran direksi Bursa Efek Indonesia yang menjabat sekarang akan resmi selesai pada tanggal 29 Juni 2029.
OJK telah melaksanakan fit and proper test terhadap para kandidat pada Selasa, 12 Mei 2026, sebagai bagian dari prosedur pemilihan resmi.
Iding menegaskan kembali bahwa meskipun pergerakan naik turunnya pasar dipengaruhi banyak faktor, bursa sebagai institusi harus tetap teguh pada tata kelola.
"Kita fokus sebagai institusi bursa, ya memperkuat tata kelola itu sebagai prioritas utama kita ke depan," pungkasnya di hadapan awak media.
Upaya Iding ini diharapkan mampu membawa angin segar bagi transparansi dan integritas pasar modal Indonesia di masa yang akan datang.