IHSG Anjlok di Tengah Bursa Regional yang Stabil, Ternyata Ini Pemicunya Mengejutkan!

IHSG Anjlok di Tengah Bursa Regional yang Stabil, Ternyata Ini Pemicunya Mengejutkan!
Foto: IHSG Anjlok di Tengah Bursa Regional yang Stabil, Ternyata Ini Pemicunya Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

JAKARTA, KOMPAS.com - Walaupun situasi geopolitik di Timur Tengah mulai mereda, pasar modal Indonesia tetap menghadapi tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3,46 persen ke posisi 6.370. Di wilayah ini, IHSG terbilang salah satu indeks dengan performa terburuk, sedangkan sebagian besar bursa lainnya relatif stabil dan bahkan menguat.

Pakar pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan tekanan yang dihadapi pasar saham Indonesia bukan hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Menurutnya, ini juga memperlihatkan mulai menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan nasional dalam jangka pendek.

Baca juga: IHSG Hari Ini Ditutup Melemah, Anjlok 3,46 Persen ke Level 6.370,68

Sentimen pasar di tingkat global membaik usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda serangan terhadap Iran demi memberi jalan bagi negosiasi damai. Pernyataan tersebut mengurangi kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan minyak dunia dan menurunkan harga minyak mentah. Bursa Eropa menguat, sebagian besar indeks Asia Pasifik bergerak stabil, dan imbal hasil obligasi global mulai turun.

Namun, IHSG justru bergerak berkebalikan. "Ini menunjukkan bahwa tekanan domestik lebih signifikan dibandingkan dengan sentimen global," ujar Hendra kepada Kompas.com, Selasa malam (19/5/2026).

Menurut Hendra, pelemahan IHSG kali ini cukup serius karena hampir semua sektor terkena dampaknya, terutama industri dasar yang jatuh hingga 7,30 persen. Saham berkapitalisasi besar seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), hingga PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengalami tekanan jual yang signifikan.

Keadaan ini menunjukkan adanya aksi penurunan risiko secara besar-besaran dari investor institusional maupun asing. Sektor berbasis komoditas dan energi juga terkena dampak negatif akibat turunnya harga minyak serta meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang mampu bertahan di zona hijau karena dianggap lebih defensif di tengah ketidakpastian pasar yang tinggi.

Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah menjadi perhatian utama investor. Rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp 17.706 per dollar AS, dan situasi ini dipandang sebagai alarm penting bagi pasar.

Artikel terkait

Rekomendasi