Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja mengumumkan langkah strategis untuk merespons lonjakan harga bahan bakar di negaranya. Ia berencana untuk menangguhkan pajak federal atas Bahan Bakar Minyak (BBM) guna meringankan beban masyarakat akibat dampak perang Iran.
Keputusan ini diambil setelah harga bensin di Amerika Serikat terus merangkak naik secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Trump menegaskan bahwa penghapusan pajak ini bersifat sementara hingga kondisi pasar energi kembali stabil.
Dalam sebuah wawancara telepon dengan Kantor Berita Anadolu pada Rabu (13/5/2026), Trump menjelaskan skema kebijakan tersebut. Ia menyebutkan bahwa pajak bensin akan dihentikan untuk sementara, namun akan kembali diberlakukan secara bertahap saat harga sudah mulai melandai.
Meskipun rencana ini sudah diumumkan secara publik, implementasinya tidak bisa dilakukan secara sepihak oleh Presiden. Donald Trump membutuhkan lampu hijau atau persetujuan dari Kongres Amerika Serikat untuk melegalkan penangguhan pajak cukai federal tersebut.
Rincian Pajak dan Kondisi Pasar Energi di AS
Saat ini, pemerintah Amerika Serikat menerapkan tarif pajak federal yang berbeda untuk setiap jenis bahan bakar. Berikut adalah rincian tarif pajak federal yang saat ini berlaku bagi konsumen di Amerika Serikat:
Besaran pajak federal untuk bahan bakar di Amerika Serikat saat ini adalah:
- Bensin: Sebesar US$18,4 sen untuk setiap galon yang terjual.
- Diesel: Sebesar US$24,4 sen untuk setiap galon yang terjual.
Data di atas menunjukkan beban pajak yang ingin ditangguhkan oleh Trump demi menekan harga jual eceran di tingkat masyarakat. Namun, hingga kini para anggota Kongres dilaporkan belum menunjukkan ketertarikan untuk menghentikan pungutan pajak tersebut sebagai solusi krisis energi.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa harga bensin di Amerika Serikat telah mengalami lonjakan yang sangat drastis. Tercatat kenaikan harga mencapai lebih dari 50 persen sejak konflik bersenjata di Iran pecah pada 28 Februari 2026 yang lalu.
Berdasarkan laporan terbaru dari American Automobile Association (AAA), lonjakan ini bahkan sempat menyentuh angka tertinggi. Pada Minggu (11/5/2026), harga bensin di Negeri Paman Sam tersebut sempat menembus angka US$4,52 per galon.
Faktor Penyebab Tingginya Harga Energi Global
Para analis pasar energi berpendapat bahwa harga kemungkinan besar akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini disebabkan oleh aksi Iran yang terus memblokade Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Selat Hormuz berperan penting karena menjadi jalur utama bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) ke berbagai belahan dunia. Penutupan jalur ini secara praktis telah mengganggu keseimbangan pasokan dan permintaan energi global sejak akhir Februari 2026.
Berikut adalah beberapa dampak utama dari penutupan akses Selat Hormuz bagi pasar internasional:
- Terhambatnya distribusi pasokan minyak mentah dunia dari produsen utama.
- Kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang mengganggu sektor penerbangan global.
- Kelangkaan stok diesel yang dibutuhkan untuk industri transportasi dan logistik.
- Peningkatan kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan energi dalam jangka panjang.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi Amerika Serikat, tetapi juga memicu gejolak harga komoditas energi di berbagai negara lain. Pasokan yang terbatas membuat harga pasar terus berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat setiap harinya.
Tanggapan Trump Terhadap Negosiasi dan Ketegangan Militer
Di sisi lain, Donald Trump juga menanggapi perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan pihak Iran. Ia mengungkapkan bahwa respons terbaru Iran terhadap tawaran perdamaian AS sebenarnya mengandung beberapa poin konsesi terkait program nuklir mereka.
Namun, Trump secara tegas menolak tawaran tersebut dan menganggapnya masih jauh dari kata memadai. Ia bahkan melontarkan kritik pedas dengan menyebut proposal perdamaian yang diajukan pihak Iran tersebut tetap terasa sangat konyol dan tidak masuk akal.
Trump juga mengomentari pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengenai situasi di Selat Hormuz. Netanyahu sebelumnya menyebut bahwa tidak ada pihak yang memiliki prediksi akurat terkait kapan penutupan jalur laut tersebut akan dilakukan oleh Iran.
Menanggapi hal itu, Trump justru mengklaim bahwa dirinya sudah memperkirakan langkah blokade tersebut sejak awal. Menurut sang Presiden, Iran tidak memiliki pilihan lain karena Selat Hormuz adalah satu-satunya senjata strategis yang mereka miliki saat ini.
Untuk mengatasi kebuntuan distribusi di jalur laut tersebut, Trump memberikan sinyal akan menghidupkan kembali operasi militer. Operasi yang dikenal dengan nama "Project Freedom" ini direncanakan akan mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Trump menegaskan bahwa jika operasi tersebut dijalankan kembali, maka Amerika Serikat akan menggunakan pendekatan yang jauh lebih keras. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan jalur pelayaran internasional dan memulihkan stabilitas pasokan energi dunia.
Berikut adalah ringkasan perbandingan situasi harga bensin sebelum dan sesudah pecahnya konflik di Iran yang memengaruhi kebijakan pajak ini:
Tabel perbandingan harga bensin dan status pajak federal di Amerika Serikat:
| Kategori Informasi | Kondisi Sebelum Februari 2026 | Kondisi Per Mei 2026 |
|---|---|---|
| Harga Bensin per Galon (Rata-rata) | Relatif Stabil (Sekitar US$3,00) | Melonjak hingga US$4,52 |
| Status Pajak Federal | Berlaku Penuh | Diusulkan untuk Ditangguhkan |
| Akses Selat Hormuz | Terbuka Normal | Ditutup/Blokade oleh Iran |
| Kenaikan Persentase Harga | 0% (Base) | Lebih dari 50% |
Data dalam tabel tersebut menggambarkan urgensi dari rencana kebijakan yang diusulkan oleh Trump kepada Kongres. Krisis ini terus menjadi perhatian serius mengingat dampaknya yang merambat ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari transportasi hingga logistik global.
Situasi ini juga memicu pelemahan mata uang di beberapa negara berkembang seiring dengan ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah. Hingga berita ini diturunkan, pelaku pasar masih memantau langkah apa yang akan diambil Kongres AS terkait usulan penangguhan pajak tersebut.