Bursa Asia Merah Membara Pagi Ini, Mengekor Wall Street yang Rontok di 2026

Bursa Asia Merah Membara Pagi Ini, Mengekor Wall Street yang Rontok di 2026
Foto: Bursa Asia Merah Membara Pagi Ini, Mengekor Wall Street yang Rontok di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik terpantau bergerak di zona merah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (4/6/2026). Penurunan ini terjadi mengikuti jejak Wall Street yang lebih dulu melemah akibat meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kondisi keamanan yang tidak menentu tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dunia. Para investor kini merasa khawatir bahwa lonjakan biaya energi akan memicu tekanan inflasi global yang lebih tinggi.

Konflik AS-Iran Memanas di Timur Tengah

Ketegangan terbaru dipicu oleh laporan serangan Iran yang menyasar Bandara Internasional Kuwait pada Rabu dini hari. Insiden ini terjadi hanya sehari setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah menggagalkan serangan rudal dan drone milik Iran.

Sebagai bentuk pertahanan diri, militer AS melancarkan serangan balasan ke Pulau Qeshm di Teluk Persia. Situasi kian memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan kesiapan pihaknya bersama AS untuk menyerang balik jika diperlukan.

Netanyahu memperingatkan bahwa Iran sedang melakukan tindakan yang sangat berisiko atau "bermain api". Ia meminta Iran untuk tidak meremehkan kekuatan militer gabungan kedua negara tersebut dalam wawancara eksklusif bersama CNBC.

Lonjakan Harga Minyak Dunia

Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di Timur Tengah langsung memicu kenaikan tajam pada komoditas minyak mentah. Harga kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 2% dan menyentuh level US$96,02 per barel.

Berikut adalah ringkasan pergerakan harga minyak mentah di pasar global:

  • Minyak WTI: Naik lebih dari 2% ke posisi US$96,02 per barel.
  • Minyak Brent: Menguat hampir 2% hingga mencapai level US$97,81 per barel.

Kenaikan harga ini mencerminkan tingginya risiko konflik bersenjata di wilayah penghasil minyak utama dunia. Pasar terus memantau apakah tren kenaikan ini akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Dampak Terhadap Bursa Saham Asia

Indeks Kospi di Korea Selatan langsung merosot 2% saat perdagangan dibuka kembali setelah masa libur. Sebaliknya, indeks Kosdaq yang didominasi saham kapitalisasi kecil justru menunjukkan penguatan lebih dari 2%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,4% setelah sebelumnya sempat mencatatkan rekor tertinggi sejarah. Sementara itu, indeks Topix menyusut 0,91% karena investor mulai melakukan aksi ambil untung di tengah ketidakpastian global.

Ringkasan pergerakan indeks saham utama di kawasan Asia-Pasifik:

Indeks Saham Negara Perubahan Performa
Kospi Korea Selatan Turun 2%
Nikkei 225 Jepang Turun 1,4%
S&P/ASX 200 Australia Turun 0,84%
Topix Jepang Turun 0,91%

Penurunan juga terlihat pada kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong yang berada di level 25.312. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi penutupan terakhirnya di level 25.633,21.

Sentimen Negatif dari Wall Street

Sebelum pasar Asia dibuka, bursa saham Amerika Serikat telah mengalami tekanan hebat pada perdagangan Rabu waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 620,72 poin atau sekitar 1,21% ke level 50.687,07.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga tidak luput dari koreksi, masing-masing turun sebesar 0,74% dan 0,89%. Tekanan ini diprediksi masih akan berlanjut melihat pergerakan kontrak berjangka yang masih di zona merah.

Para pelaku pasar saat ini sangat waspada terhadap stabilitas pasokan energi dunia akibat konflik Timur Tengah. Lonjakan harga minyak ini dianggap bisa menyulitkan langkah bank sentral dalam mengendalikan laju inflasi ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi