Ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah memaksa para pelaku industri pelayaran untuk memutar otak demi keamanan. Baru-baru ini, sejumlah kapal tanker pengangkut minyak mentah dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman setelah menerapkan strategi khusus.
Para awak kapal memutuskan untuk mematikan sistem pelacak atau transponder mereka saat melintasi jalur perairan yang rawan tersebut. Taktik ini diambil sebagai langkah preventif untuk menghindari potensi ancaman serangan yang bisa muncul sewaktu-waktu di wilayah tersebut.
Berdasarkan data pelacakan yang dihimpun dari sumber terpercaya Kpler dan LSEG:
- Strategi pemutusan sinyal pelacak dilakukan untuk menjaga kelancaran ekspor energi global di tengah ketidakstabilan keamanan.
- Langkah ini menjadi tren operasional terbaru bagi kapal-kapal besar yang melintasi titik-titik krusial di Timur Tengah.
- Sedikitnya terdapat tiga kapal tanker raksasa yang terpantau meninggalkan Selat Hormuz sejak pekan lalu hingga Minggu, 11 Mei 2026.
- Sistem navigasi kapal-kapal tersebut sengaja dinonaktifkan agar posisi mereka tidak mudah terdeteksi oleh pihak-pihak yang mengancam.
Keberhasilan pelayaran ini menjadi bukti nyata bagaimana risiko keamanan di perairan internasional saat ini memengaruhi pola logistik energi dunia. Data pelacakan menunjukkan bahwa mayoritas kapal yang menerapkan taktik ini merupakan jenis kapal pengangkut minyak mentah berkapasitas besar.
Detail Kapal Tanker yang Melintas
Dua dari tiga kapal yang terdeteksi merupakan jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang mengangkut muatan dalam jumlah fantastis. Kapal bernama Agios Fanourios I dan Kiara M dilaporkan masing-masing membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Irak.
Agios Fanourios I dijadwalkan menuju Vietnam untuk melakukan pembongkaran muatan minyak jenis Basrah Medium. Fasilitas Nghi Son Refinery and Petrochemical akan menjadi tempat tujuan utama bongkar muat pada 26 Mei mendatang.
Berikut adalah ringkasan mengenai rincian kapal tanker yang berhasil melintasi jalur berisiko tersebut:
| Nama Kapal | Jenis Kapal | Volume Muatan | Status Operasional |
|---|---|---|---|
| Agios Fanourios I | VLCC | 2 Juta Barel | Menuju Vietnam |
| Kiara M | VLCC | 2 Juta Barel | Tujuan Belum Teridentifikasi |
Tabel di atas merincikan dua kapal tanker utama yang terpantau menggunakan strategi mematikan transponder demi keamanan muatannya. Strategi ini terbukti efektif meskipun sempat ada kendala teknis dalam beberapa percobaan sebelumnya.
Kapal Agios Fanourios I sendiri tercatat sempat gagal dalam dua kali upaya pelintasan sejak memuat minyak pada pertengahan April lalu. Namun, dengan penyesuaian strategi pelacakan, kapal tersebut akhirnya berhasil keluar dari area Teluk dengan selamat.
Di sisi lain, kapal Kiara M yang mengibarkan bendera San Marino juga terpantau telah meninggalkan kawasan Teluk pada hari Minggu. Kapal yang dikelola oleh perusahaan asal Shanghai ini tetap menjaga kerahasiaan lokasi tujuan akhirnya hingga saat ini.
Situasi ini menggambarkan betapa tingginya risiko yang dihadapi oleh industri energi di jalur Selat Hormuz. Keberhasilan kapal-kapal ini menjadi angin segar bagi stabilitas pasokan minyak mentah dunia yang belakangan terus dibayangi kenaikan harga energi global.