Survei Deloitte: Hampir 30 Persen Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan pada 2026

Survei Deloitte: Hampir 30 Persen Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan pada 2026
Foto: Ilustrasi Survei Deloitte: Hampir 30 Persen Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan pada 2026.
Ukuran teks

Bagi generasi milenial dan Gen Z, memiliki pekerjaan sampingan atau side job saat ini bukan lagi sekadar tren pengisi waktu luang. Fenomena ini telah bergeser menjadi strategi bertahan hidup demi menjaga stabilitas keuangan di tengah melambungnya biaya hidup.

Selain menambah pundi-pundi rupiah, pekerjaan tambahan ini juga dimanfaatkan untuk mengasah keterampilan baru. Dalam jangka panjang, hal tersebut diharapkan mampu membuka peluang karier yang lebih menjanjikan di masa depan.

Tekanan Ekonomi di Balik Fenomena Side Job

Berdasarkan laporan 2024 Gen Z and Millennial Survey dari Deloitte, hampir 30 persen Gen Z dan sekitar 25 persen milenial tercatat memiliki pekerjaan sampingan. Aktivitas ini mencakup pekerjaan paruh waktu maupun penuh waktu yang dilakukan di luar tanggung jawab utama mereka.

Kondisi ini muncul sebagai respons atas tekanan ekonomi yang kian memberatkan kedua generasi tersebut. Selama lima tahun berturut-turut, biaya hidup tetap menjadi sumber kecemasan utama bagi mayoritas responden.

Daftar isu yang paling mengkhawatirkan bagi generasi muda saat ini:

  • Tingginya biaya hidup sehari-hari.
  • Risiko pengangguran dan ketidakpastian kerja.
  • Dampak perubahan iklim terhadap masa depan.
  • Situasi geopolitik global yang tidak stabil.

Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial sepakat bahwa biaya hidup adalah isu paling mendesak dibandingkan masalah lainnya. Hal ini menunjukkan betapa besar beban finansial yang harus mereka pikul saat ini.

Penundaan Keputusan Hidup Akibat Masalah Finansial

Krisis keuangan ini berdampak langsung pada keputusan besar dalam hidup mereka. Banyak dari mereka terpaksa menunda langkah penting karena merasa belum memiliki pondasi ekonomi yang cukup kuat.

Sekitar 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial memilih untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan besar. Beberapa rencana yang terpaksa tertunda meliputi pernikahan, membangun keluarga, memulai usaha sendiri, hingga melanjutkan jenjang pendidikan.

Alasan utama generasi muda mengambil pekerjaan sampingan:

  • Kebutuhan finansial yang mendesak untuk mencukupi kebutuhan pokok.
  • Upaya untuk keluar dari pola hidup gaji ke gaji (paycheck to paycheck).
  • Keinginan untuk menabung di tengah kenaikan harga barang.
  • Mempersiapkan dana darurat untuk ketidakpastian masa depan.

Laporan Deloitte mengungkap bahwa 44 persen Gen Z dan 48 persen milenial mengambil side job murni karena faktor ekonomi. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa 47 persen dari mereka masih hidup dengan mengandalkan gaji bulanan tanpa tabungan yang memadai.

Tantangan Besar Memiliki Hunian Pribadi

Masalah kepemilikan rumah menjadi hambatan yang paling nyata bagi kedua generasi ini. Lebih dari separuh Gen Z dan sekitar 40 persen milenial merasa bahwa membeli rumah adalah hal yang mustahil untuk diwujudkan saat ini.

Berikut adalah perbandingan kendala finansial antara dua generasi tersebut:

Kategori Masalah Generasi Z Generasi Milenial
Merasa tidak mampu membeli rumah 51 Persen 40 Persen
Hidup dari gaji ke gaji 47 Persen 47 Persen
Kesulitan membayar biaya bulanan 34 Persen 34 Persen

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun berada di rentang usia yang berbeda, keduanya menghadapi tingkat kesulitan finansial yang hampir serupa. Kenaikan pendapatan ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan daya beli mereka.

Salah satu narasumber bernama Rukaya berbagi pengalamannya mengenai situasi ini. Meski ia dan pasangannya memiliki pendapatan tinggi, daya beli mereka justru merosot tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa kenaikan gaji mereka tidak mampu mengejar tingginya suku bunga perbankan. Hal inilah yang membuat impian untuk memiliki hunian pribadi menjadi sangat sulit dicapai bagi pekerja di perkotaan.

Senada dengan itu, responden lain bernama Mel menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok dan properti yang sangat cepat. Kondisi ini membuat pekerja muda sulit menyisihkan uang untuk menabung karena gaji habis hanya untuk biaya hidup dasar di lingkungan yang aman.

Artikel terkait

Rekomendasi