Mardijiyono, sosok berusia 103 tahun yang menjadi jemaah haji tertua dari Indonesia pada gelombang pertama tahun 2026, kini telah mulai diberangkatkan dari Madinah menuju Makkah. Keberangkatan ini menandai dimulainya rangkaian umrah wajib bagi pria yang akrab disapa Mbah Mardi tersebut sebagai persiapan menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna.
Mbah Mardi yang tergabung dalam Kloter YIA 09 meninggalkan Hotel Makarem Haram View Suites Madinah pada Senin sore waktu setempat. Ia menempuh perjalanan menggunakan bus bersama rombongan jemaah lainnya untuk menuju kota suci Makkah.
Di dalam bus, Mbah Mardi tampak duduk di kursi baris terdepan pada sisi kiri, tepat di samping jendela demi kenyamanan ekstra. Ia juga mengenakan alat penyangga kepala khusus guna menopang fisiknya selama perjalanan jauh dari Madinah ke Makkah.
Mengingat usianya yang telah melampaui satu abad, kondisi fisiknya memang sudah tidak memungkinkan untuk bergerak secara mandiri. Oleh karena itu, Ibnu Khaldun dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) senantiasa mendampingi dan menggendongnya saat naik ke kendaraan.
Detail keberangkatan jemaah haji tertua ke Makkah:
- Identitas Jemaah: Mardijiyono atau Mbah Mardi, berusia 103 tahun.
- Kelompok Terbang: Tergabung dalam Kloter YIA 09.
- Lokasi Penginapan: Hotel Makarem Haram View Suites, Madinah.
- Waktu Keberangkatan: Senin sore, 11 Mei 2026, waktu Arab Saudi.
- Metode Transportasi: Bus khusus dengan fasilitas penyangga kepala.
- Pendamping Ibadah: Ibnu Khaldun dari KBIHU setempat.
Informasi di atas merangkum momen bersejarah bagi Mbah Mardi yang tetap bersemangat menunaikan rukun Islam kelima meskipun fisiknya sangat terbatas. Petugas haji memberikan pengawasan ketat untuk memastikan keselamatannya sepanjang perjalanan menuju tanah haram.
Penyesuaian Jadwal dan Faktor Keselamatan
Pihak penyelenggara memutuskan untuk memajukan waktu pemberangkatan Kloter YIA 09 dari jadwal semula yang telah ditetapkan. Keputusan ini diambil karena seluruh anggota jemaah dalam kelompok tersebut dinyatakan telah siap secara administratif dan fisik.
Ketua Sektor 1 Madinah, Ramlan Sudarto, menjelaskan bahwa pemberangkatan lebih awal merupakan langkah strategis yang lebih efisien. Hal ini dilakukan agar para jemaah tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama untuk menunggu di dalam bus sebelum mesin dinyalakan.
Dalam perjalanan menuju Makkah, rombongan ini menyempatkan diri untuk singgah sejenak di Masjid Dzulhulaifah atau yang lebih dikenal sebagai Bir Ali. Lokasi ini menjadi titik krusial bagi para jemaah untuk mengambil miqat serta melafalkan niat ihram mereka.
Namun, atas saran dari petugas kesehatan, Mbah Mardi disarankan untuk tetap berada di dalam bus dan tidak turun menuju area masjid. Langkah antisipasi ini diambil mengingat kondisi cuaca di luar ruangan yang sangat ekstrem bagi jemaah lanjut usia.
Informasi mengenai kondisi cuaca dan kebijakan medis saat perjalanan:
| Faktor Lingkungan | Detail Kondisi | Kebijakan Petugas |
|---|---|---|
| Suhu Udara | Mencapai 41 derajat Celsius | Jemaah lansia dilarang turun bus |
| Lokasi Miqat | Masjid Bir Ali (Dzulhulaifah) | Niat dilakukan dari dalam kendaraan |
| Risiko Kesehatan | Kategori Risiko Tinggi (Risti) | Prioritas menjaga stamina untuk Armuzna |
Tabel tersebut menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi jemaah lansia akibat panasnya cuaca di Arab Saudi saat ini. Petugas berkomitmen penuh untuk menjaga kesehatan jemaah agar tetap prima hingga fase puncak haji nanti.
Kesehatan dan Optimisme Mbah Mardi
Meski tidak menginjakkan kaki di pelataran Masjid Bir Ali, Mbah Mardi tetap sah mengambil niat ihramnya. Prosesi pembacaan niat tersebut dipandu oleh petugas pembimbing ibadah langsung dari atas kursi bus yang ia tempati.
Ibnu Khaldun menegaskan bahwa faktor cuaca panas menjadi pertimbangan utama mengapa jemaah lansia dan risti disarankan beraktivitas di dalam ruangan. Seluruh rukun dan wajib haji lainnya akan diupayakan tetap terlaksana dengan pendampingan khusus saat sudah tiba di Makkah.
Saat sempat diajak berbincang mengenai kondisinya, Mbah Mardi memberikan jawaban yang singkat namun penuh semangat. Dengan wajah yang tenang, ia menyatakan bahwa dirinya saat ini merasa dalam keadaan sehat dan siap beribadah.
Doa yang ingin ia panjatkan di depan Kakbah nantinya pun tergolong sangat sederhana namun sangat bermakna bagi keluarganya. Ia hanya berharap agar selalu diberikan kesehatan dan bisa kembali ke tanah air dengan selamat tanpa kurang satu apa pun.
Perlu diketahui bahwa sebelum dinyatakan layak berangkat ke Makkah, kondisi kesehatan pria berusia 103 tahun ini sempat mengalami penurunan. Ia bahkan harus menjalani perawatan medis secara intensif di sebuah rumah sakit di Arab Saudi untuk memulihkan staminanya.
Setelah mendapatkan penanganan yang tepat dari tim medis, kondisi Mbah Mardi berangsur-angsur membaik dan stabil kembali. Pihak rumah sakit akhirnya memberikan izin bagi dirinya untuk bergabung lagi dengan rekan-rekan satu kloternya.
Selama masa pemulihan dan perawatan, tim medis memberikan pujian atas sikap kooperatif yang ditunjukkan oleh Mbah Mardi. Ia dikenal sebagai pasien yang mudah diarahkan dan memiliki nafsu makan yang sangat stabil meskipun berada di lingkungan asing.
Mbah Mardi pun sempat memuji kualitas makanan yang diberikan selama masa perawatan di Madinah. Ia merasa cocok dengan hidangan yang disediakan, yang mana hal ini turut membantu mempercepat proses pemulihan fisiknya.
Ketika ditanya mengenai rahasia panjang umurnya, Mbah Mardi mengungkapkan bahwa kunci utamanya adalah sikap ikhlas dalam menjalani kehidupan. Ia selalu berusaha untuk menjaga suasana hatinya tetap bahagia dan tidak membebani pikirannya dengan banyak masalah.
Selain faktor mental, pola hidup sehat juga menjadi salah satu rahasia kebugarannya hingga usia satu abad lebih. Mbah Mardi mengaku dengan tegas bahwa dirinya tidak pernah menyentuh rokok sama sekali sepanjang masa hidupnya.