Rupiah dan IHSG Anjlok, Purbaya Buka Suara Soal Heboh 'Sell Indonesia' 2026

Rupiah dan IHSG Anjlok, Purbaya Buka Suara Soal Heboh 'Sell Indonesia' 2026
Foto: Rupiah dan IHSG Anjlok, Purbaya Buka Suara Soal Heboh 'Sell Indonesia' 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, akhirnya memberikan respons terkait narasi "Sell Indonesia" yang belakangan ini ramai diserukan oleh investor global. Aksi jual tersebut dipicu oleh merosotnya nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan.

Purbaya menegaskan bahwa situasi ekonomi saat ini sangat berbeda dengan krisis hebat yang terjadi pada tahun 1998. Ia menjamin bahwa kondisi fiskal nasional tetap terjaga dan fondasi ekonomi Indonesia masih berada dalam kategori yang sehat.

Upaya Memulihkan Kepercayaan Pasar

Menurut Purbaya, gejolak pada nilai tukar rupiah lebih disebabkan oleh faktor sentimen negatif yang bersifat sementara. Ia percaya bahwa koordinasi yang erat antara Kementerian Keuangan dan bank sentral mampu memperbaiki kondisi pasar tersebut.

Purbaya menilai pihak-pihak yang menyerukan aksi jual tidak memahami fakta lapangan mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Untuk membuktikan hal tersebut, pemerintah mempercepat publikasi laporan APBNKita guna menunjukkan transparansi fiskal kepada publik.

Pemerintah menekankan poin-poin utama terkait kekuatan ekonomi nasional saat ini:

  • Kesehatan anggaran negara atau fiskal yang tetap terjaga dengan baik.
  • Pertumbuhan ekonomi nasional yang masih menunjukkan tren positif dan stabil.
  • Kepemimpinan Presiden yang dinilai kuat dalam menjalankan strategi pembangunan jangka panjang.
  • Koordinasi antarlembaga keuangan yang terus ditingkatkan untuk menstabilkan pasar.

Melalui data-data tersebut, Purbaya optimis bahwa sentimen negatif yang menghantam pasar modal dan rupiah akan segera mereda seiring waktu. Ia juga mengimbau para investor untuk melakukan analisis lebih dalam sebelum mengambil keputusan besar.

Kinerja Pasar Modal dan Tantangan Global

Kondisi pasar modal Indonesia memang sedang menghadapi tekanan yang luar biasa berat sepanjang tahun 2026. Dalam kurun waktu lima bulan sejak mencapai level tertinggi, IHSG justru terjun bebas hingga mengalami koreksi sebesar 36 persen.

Penurunan tajam ini menempatkan bursa saham Indonesia sebagai salah satu yang terburuk di antara 90 indeks global lainnya versi Bloomberg. Fenomena ini menjadi sorotan tajam bagi investor yang sebelumnya melihat Indonesia sebagai tujuan investasi utama di pasar negara berkembang.

Ringkasan perbandingan kondisi pasar dan faktor pemicu sentimen negatif bagi investor:

Indikator Ekonomi Kondisi Terkini
Kinerja IHSG 2026 Turun 36% dari rekor tertinggi.
Posisi Global Indeks dengan performa terburuk di dunia.
Kekhawatiran Utama Kebijakan populis dan intervensi negara.
Sentimen Investor Hilangnya kepercayaan setelah mundurnya Sri Mulyani.

Tabel di atas merangkum faktor-faktor krusial yang membuat investor global bersikap skeptis terhadap prospek ekonomi Indonesia saat ini. Ketidakpastian politik dan pergantian tim ekonomi menjadi variabel penting yang terus dipantau pasar.

Faktor Kepemimpinan dan Perubahan Kebijakan

Para pemegang modal menyatakan kecemasan terhadap arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap semakin bersifat populis. Peningkatan intervensi negara dalam aktivitas ekonomi dinilai bisa mengancam iklim investasi yang selama ini ramah bagi pihak asing.

George Boubouras dari K2 Asset Management menyebut bahwa saat ini strategi utama di Asia adalah melepas aset-aset dari Indonesia. Ia bahkan telah menarik seluruh posisi investasinya karena merasa tidak ada kepastian jaminan disiplin fiskal seperti masa sebelumnya.

Sejak menjabat pada Oktober 2024, Presiden Prabowo berkomitmen mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Berbagai program besar seperti makan siang gratis hingga pembentukan lembaga Danantara menjadi agenda prioritas pemerintah baru.

Namun, langkah pengambilalihan kendali langsung atas ekspor komoditas untuk menekan kebocoran pajak justru memicu kekhawatiran baru. Hal ini dianggap oleh sebagian kalangan sebagai intervensi berlebihan yang mengganggu kenyamanan para eksportir dan pemilik modal.

Kepercayaan pasar semakin terguncang menyusul berakhirnya masa jabatan Sri Mulyani Indrawati pada tahun 2025 lalu. Mantan menteri keuangan tersebut lama dikenal sebagai tokoh kunci yang menjamin pengelolaan anggaran negara tetap konservatif dan disiplin.

Tanpa kehadiran sosok tersebut, investor mulai meragukan apakah komitmen stabilitas fiskal akan tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Tantangan besar kini ada di tangan tim ekonomi baru untuk mengembalikan citra Indonesia sebagai destinasi investasi yang aman.

Artikel terkait

Rekomendasi