OJK: Pasar Modal Indonesia Terbukti Aman dan Tahan Banting di 2026

OJK: Pasar Modal Indonesia Terbukti Aman dan Tahan Banting di 2026
Foto: OJK: Pasar Modal Indonesia Terbukti Aman dan Tahan Banting di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan penilaian positif terhadap kondisi pasar modal Indonesia yang dinilai memiliki daya tahan kuat. Meskipun sempat mengalami koreksi pada periode Mei 2026, likuiditas pasar diklaim tetap berada dalam kondisi yang terjaga.

Hasan Fawzi, Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus pengawas pasar modal, menjelaskan bahwa pasar saham domestik memang menghadapi tekanan besar. Hal ini terjadi akibat tingginya ketidakpastian ekonomi global dan langkah investor yang melakukan penyesuaian portofolio.

Performa Indeks Harga Saham Gabungan

Sepanjang bulan Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan signifikan sebesar 11,92 persen. Indeks acuan nasional tersebut menutup perdagangan di level 6.127 pada akhir bulan tersebut.

Jika ditarik lebih jauh, kinerja IHSG sepanjang tahun 2026 atau secara year-to-date (YtD) telah terkontraksi hingga 29,14 persen. OJK terus memantau dinamika ini secara intensif, terutama di tengah tingginya aksi jual yang dilakukan pelaku pasar.

Likuiditas dan Aktivitas Investor Asing

Walaupun angka indeks menunjukkan penurunan, Hasan menegaskan bahwa indikator likuiditas pasar modal di Indonesia masih cukup memadai. Hal ini terlihat dari rendahnya selisih harga antara permintaan dan penawaran di bursa.

Berikut adalah rincian data pasar modal per Mei 2026:

  • Rata-rata ask dan bid spread tercatat rendah di level 1,5 persen.
  • Likuiditas pasar masih terkategori baik di tengah fluktuasi harga.
  • Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 4,1 triliun sepanjang bulan tersebut.

Angka ask dan bid spread yang stabil di level rendah menjadi indikator penting bahwa transaksi di pasar masih berjalan lancar. Meski investor asing banyak melepas kepemilikan sahamnya, pasar dinilai masih mampu menyerap tekanan tersebut dengan baik.

Upaya Pengawasan OJK

Hasan menyebutkan bahwa memasuki bulan Juni 2026, pergerakan pasar modal diprediksi akan terus bergerak dinamis. OJK berkomitmen untuk terus memantau perkembangan indeks dari waktu ke waktu demi menjaga stabilitas pasar.

Langkah konsolidasi yang dilakukan investor saat ini dipandang sebagai respons alami terhadap kondisi makro ekonomi global. Fokus utama otoritas saat ini adalah memastikan mekanisme perdagangan tetap berjalan transparan dan efisien.

Sebagai ringkasan, berikut adalah perbandingan kinerja pasar modal yang dilaporkan OJK:

Indikator Pasar Capaian Mei 2026
Penurunan IHSG (Bulanan) 11,92%
Kinerja IHSG (YtD) 29,14%
Level Penutupan IHSG 6.127
Aksi Jual Bersih Asing Rp 4,1 Triliun
Ask dan Bid Spread 1,5%

Data di atas memperlihatkan kontras antara penurunan nilai indeks dengan kondisi fundamental likuiditas yang tetap solid. OJK berharap ketahanan ini mampu menjadi modal kuat bagi pasar modal Indonesia untuk kembali bangkit di masa mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi