Dukungan DPR Perkuat BI dan Purbaya, Rupiah Siap Kembali Perkasa di 2026!

Dukungan DPR Perkuat BI dan Purbaya, Rupiah Siap Kembali Perkasa di 2026!
Foto: Dukungan DPR Perkuat BI dan Purbaya, Rupiah Siap Kembali Perkasa di 2026!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah mencapai kesepakatan penting untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Pertemuan strategis yang berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) ini berfokus pada sinkronisasi kebijakan demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Mohamad Hekal, menjelaskan bahwa poin utama pertemuan tersebut adalah memastikan koordinasi yang solid antara Menteri Keuangan dan Gubernur BI. Sinergi ini diperlukan agar eksekusi kebijakan fiskal dan moneter dapat berjalan beriringan dengan efektif.

Sinergi Fiskal dan Moneter demi Kepercayaan Investor

Pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Gubernur BI Perry Warjiyo, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya menegaskan komitmennya untuk fokus pada kebijakan fiskal, terutama dalam pengelolaan APBN yang sehat.

Hekal menilai performa APBN saat ini sudah berada di jalur yang tepat dengan penerimaan yang meningkat serta defisit yang terkendali. Hingga Mei 2026, pendapatan negara menyentuh angka Rp1.185 triliun dengan belanja negara sebesar Rp1.365,4 triliun.

Berikut adalah ringkasan data realisasi APBN hingga akhir Mei 2026:

Indikator Ekonomi Nilai Capaian
Pendapatan Negara Rp1.185 Triliun
Belanja Negara Rp1.365,4 Triliun
Defisit Anggaran Rp180,4 Triliun (0,70% PDB)
Keseimbangan Primer Surplus Rp58,6 Triliun

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun terdapat defisit tipis, keseimbangan primer tetap mencatatkan hasil positif. Kondisi fiskal yang stabil ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mendukung pergerakan nilai tukar rupiah ke depan.

Langkah Bank Indonesia Memperkuat Rupiah

Di sisi moneter, Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk meredam pelemahan rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Salah satu langkah yang telah diambil adalah menetapkan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,25%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, juga mengusulkan agar pengelolaan kas pemerintah kembali dipusatkan di bank sentral. Sebagai timbal baliknya, BI siap memberikan bunga atau remunerasi yang lebih tinggi kepada pemerintah guna menjaga likuiditas pasar.

Beberapa strategi utama yang disepakati dalam pertemuan tersebut meliputi:

  • Mengoptimalkan peran masing-masing lembaga dalam nahkoda kebijakan moneter dan fiskal.
  • Meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia.
  • Melakukan intervensi pasar secara terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
  • Memastikan sinkronisasi operasi moneter agar tetap mendukung penguatan rupiah.

Rangkaian strategi ini diharapkan mampu menciptakan sentimen positif di pasar keuangan nasional. Dengan kerja sama yang erat, otoritas optimis arus modal asing akan kembali masuk ke dalam negeri.

Optimisme Rupiah Kembali ke Nilai Fundamental

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat menyentuh level Rp18.010 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini posisi saat ini sudah menjauh dari nilai fundamental yang sebenarnya.

Purbaya optimis bahwa sinergi penuh antara pemerintah dan BI akan memicu penguatan rupiah secara signifikan dalam waktu dekat. Ia menekankan bahwa penyatuan kebijakan ini adalah kunci agar mata uang Garuda tidak terus mengalami depresiasi lebih dalam.

Artikel terkait

Rekomendasi