Dolar AS Tembus Rp18.050: Apa Dampaknya bagi Ekonomi Kita?

Dolar AS Tembus Rp18.050: Apa Dampaknya bagi Ekonomi Kita?
Foto: Dolar AS Tembus Rp18.050: Apa Dampaknya bagi Ekonomi Kita?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
```html

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Jumat (5/6/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah sebesar 0,17% menjadi Rp18.050 per dolar AS. Ini melanjutkan pelemahan dari perdagangan sebelumnya.

Pada hari Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke posisi Rp18.020 per dolar AS. Level ini mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah rupiah terhadap dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan mata uang dolar terhadap enam mata uang utama dunia, stabil di level 99,438 pada pukul 09.00 WIB. Pada perdagangan sebelumnya, DXY melemah 0,12%.

Faktor Eksternal dan Respons BI

Kinerja rupiah kali ini diperkirakan dipengaruhi oleh gerak dolar AS di pasar global di tengah konflik meningkat di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, mengalami kendala dalam upaya menghentikan perang dan mencapai kesepakatan damai dengan Teheran. Milisi Hizbullah yang mendapat dukungan Iran menolak gencatan senjata baru di Lebanon. Israel juga menolak menarik pasukannya.

Pekan ini, peningkatan ketegangan disertai pertempuran antara pasukan Iran dan AS. Akibatnya, harga minyak Brent bertahan di atas US$90 per barel, mendukung dolar AS sebagai aset safe haven.

Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pergerakan rupiah di Rp18.000 per dolar AS masih berada dalam kontrol Bank Indonesia (BI). "Semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka," ujarnya saat berada di Gedung DPR, Jakarta, pada Kamis (4/6/2026).

Purbaya juga menegaskan, pemerintah belum berencana mengadakan pertemuan darurat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di luar jadwal reguler untuk menghadapi tekanan rupiah. "Nanti Anda melihat saya panik. Jadi tidak ada rapat darurat KSSK," katanya, menambahkan bahwa BI masih menjalankan kebijakan dengan baik.

Pernyataan Bank Indonesia

Bank Indonesia menyatakan, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan domestik. "Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai. Ini mendorong harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, serta arus dana keluar dari negara berkembang," papar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan tertulis.

Destry menambahkan, "Selain itu, kebutuhan domestik juga masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri." Hal ini menggambarkan tekanan yang dihadapi ekonomi Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

```

Artikel terkait

Rekomendasi