Mengejutkan, Pria Usia 28 Tahun Alami Gagal Ginjal Stadium Akhir: Ini Pelajarannya

Mengejutkan, Pria Usia 28 Tahun Alami Gagal Ginjal Stadium Akhir: Ini Pelajarannya
Foto: Mengejutkan, Pria Usia 28 Tahun Alami Gagal Ginjal Stadium Akhir: Ini Pelajarannya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Di usia 26 tahun, Niven Hopkins merasa dalam kondisi fisik yang prima. Ia aktif berolahraga di gym, berlari, dan mengerjakan pekerjaan teknik yang menuntut fisik. Niven tidak pernah merasa tidak sehat. Namun, perubahan drastis terjadi pada suatu malam di bulan Juni 2024. Pulang kerja, kakinya tiba-tiba terasa nyeri hebat seperti patah, meskipun tidak terbentur.

Keesokan harinya, Niven bangun dengan kaki bengkak, memerah, dan nyeri yang luar biasa. Dokter mendiagnosisnya dengan serangan asam urat parah; hal ini dianggap aneh karena Niven jarang mengonsumsi alkohol. Usai tes darah, ia diperbolehkan pulang.

Beberapa hari kemudian, saat berlibur di Lake District, Inggris, ponsel Niven berdering pukul 4 pagi. Pihak rumah sakit memintanya datang segera. Tes darah menunjukkan Niven mengalami gagal ginjal. "Saya ingat berpikir, ini pasti salah," kata Niven, diambil dari wawancara dengan Newsweek.

Pemeriksaan genetik lanjutan mengungkap bahwa Niven mengidap kelainan genetik langka. Ibunya juga sudah menjalani dua kali transplantasi ginjal. Kondisinya memburuk hingga terdiagnosis penyakit ginjal stadium 4, dan kini berkembang ke stadium 5 atau stadium akhir.

Berikut adalah beberapa gejala awal gagal ginjal yang sempat Niven abaikan:

  • Kelelahan Kronis: Rasa lelah yang dianggapnya normal akibat pekerjaan dan aktivitas fisik.
  • Urine Berbusa: Gelembung yang susah hilang menjadi tanda kebocoran protein karena ginjal terganggu.
  • Sakit Punggung: Dirasakan lama, diabaikan karena dianggap cedera otot.
  • Kabut Otak: Kehilangan fokus saat menulis email atau lupa topik percakapan.

Di usianya yang kini 28 tahun, kehidupan Niven berubah drastis. Setiap malam, ia membutuhkan mesin dialisis selama sembilan jam melalui metode Automated Peritoneal Dialysis (APD). Sebuah selang khusus dipasang di perutnya menggantikan fungsi ginjal. "Setiap bangun tidur, saya harus mengecek berat badan, memantau tekanan darah, dan minum obat sepanjang hari," ungkapnya.

Meski masih bisa berolahraga dan bertemu teman usai dialisis, tantangan terbesar Niven adalah rasa lelah yang tidak menentu. Beberapa pagi ia merasa sangat lemah seperti mabuk berat. Niven merasa terisolasi karena informasi mengenai penyakit ginjal di internet kebanyakan untuk pasien usia lanjut. Hal ini mendorongnya untuk berbagi kisah di media sosial, meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini di kalangan muda.

Artikel terkait

Rekomendasi