Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum membahas mengenai penyesuaian tarif listrik untuk periode kuartal III-2026, yaitu bulan Juli hingga September. Hal ini terjadi meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan pelemahan.
Tri Winarno, Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, mengungkapkan bahwa pemerintah telah memutuskan bahwa harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak mengalami kenaikan. Kebijakan terkait tarif listrik kemungkinan akan mengikuti keputusan ini.
Tri menegaskan pentingnya evaluasi terhadap tarif listrik yang berlaku serta berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya. Ini termasuk mempertimbangkan asumsi nilai tukar terhadap dolar AS. Menurut Tri, keputusan pemerintah terkait minyak adalah tidak menaikkan harga hingga akhir tahun. Hal yang sama mungkin diberlakukan untuk tarif listrik, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu.
“Tetapi, evaluasi tentu dilakukan. Apakah nantinya akan ada kenaikan? Belum sampai ke sana,” ujar Tri kepada media di Kompleks Parlemen.
Fakta Ekonomi dan Energi Terkini
- Rupiah Terus Melemah: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh titik terendah sepanjang sejarah di angka Rp18.033.
- Impor Batu Bara Ditunda: China sementara menunda impor batu bara dari Indonesia, sementara kapasitas pembangkit listrik Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 108 gigawatt, dimana 56% di antaranya menggunakan batu bara.
- Kebijakan Pertambangan: ESDM membahas kemungkinan sistem bagi hasil gross split untuk pertambangan menjadi 70:30, meskipun hasil diskusinya belum difinalisasi.
Pemerintah juga tengah menghadapi tantangan dalam menstabilkan kondisi rupiah yang lemah. Salah satu langkah yang diambil adalah menggelontorkan dana Rp8 triliun melalui pasar obligasi. Kebijakan ini diharapkan dapat menopang rupiah agar tidak terjun lebih dalam.
Dalam bidang energi, terdapat seruan agar pemerintah mencari pasokan sulfur baru dari Australia dan Eropa. Langkah ini diperlukan guna memastikan keberlanjutan pasokan sumber daya energi di tanah air.
Proyeksi Kebijakan di Masa Mendatang
Ke depan, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah proaktif dalam mengatasi persoalan ekonomi dan energi. Dengan terus mengkaji serta menyiapkan strategi yang adaptif, stabilitas ekonomi dapat terjaga di tengah gejolak global.
```