Mengungkap Bahaya Fast Fashion: Dampak Lingkungan yang Mengejutkan di 2026

Mengungkap Bahaya Fast Fashion: Dampak Lingkungan yang Mengejutkan di 2026
Foto: Mengungkap Bahaya Fast Fashion: Dampak Lingkungan yang Mengejutkan di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Fast fashion kini menjadi fenomena dengan gaya belanja yang menawarkan kemudahan dan kecepatan untuk tetap tampil trendi. Produk dengan harga terjangkau, desain yang selalu mengikuti tren, dan diskon besar-besaran membuatnya semakin populer. Namun, di balik segala kemudahan ini, sebenarnya ada dampak lingkungan yang harus dibayar mahal.

Trend ini memicu kecenderungan perilaku konsumtif dalam masyarakat, menjadikan belanja sebagai hiburan. Menurut pandangan dari sosiolog Jean Baudrillard, barang yang dibeli sering kali bukan untuk kebutuhan, tetapi lebih kepada pemuasan keinginan semu. Meski pakaian adalah kebutuhan dasar, masalah sebenarnya terletak pada cara kita berinteraksi dengan tren fast fashion yang justru merusak lingkungan.

Mengapa kita harus melawan fast fashion? Mempopulerkan konsep capsule wardrobe bisa menjadi salah satu langkah efektif untuk mengurangi dampak negatif. Tidak untuk menghapus kebutuhan akan fesyen, tetapi mengubah pola konsumsi kita untuk lebih peduli lingkungan. Menurut Britannica, fast fashion adalah produksi pakaian yang berlangsung cepat dan murah, tetapi cenderung berkualitas rendah. Produksinya meniru tren dari merek besar lalu dijual dengan harga terjangkau.

Model bisnis ini dimulai di Barat sejak 1970-an ketika perusahaan ritel memindahkan produksi ke negara lain yang memiliki biaya lebih rendah, terutama di Asia. Fast fashion telah mengubah lanskap industri fashion, yang sebelumnya menghadirkan koleksi musiman kini mampu memproduksi koleksi baru jauh lebih sering. Tekanan untuk selalu up-to-date menjadi lebih kuat, mendorong konsumen membeli pakaian seperti barang sekali pakai.

Berdasarkan data Zippia, industri fesyen dunia diperkirakan bernilai sekitar US$1,9 triliun pada 2026, meningkat sekitar 5,8 persen per tahun dari 2023 hingga 2026. Sayangnya, sektor ini juga menyumbang sekitar 10 persen emisi karbon global. Industri fesyen disebut memiliki emisi karbon lebih besar dari penerbangan internasional dan pengiriman laut jika digabungkan.

Dampak Fast Fashion di Indonesia

Di Indonesia, fast fashion mulai berkembang pesat sejak awal 2010-an dengan masuknya beberapa merek global. Kesuksesan merek internasional ini membuat merek lokal ikut mencicipi model bisnis fast fashion. Studi oleh Nurul Anwar mengungkapkan, industri ini memberikan dampak ekologis dan sosial, mempengaruhi UMKM dan kualitas air, tanah, serta udara, terutama di kawasan industri seperti Bandung dan Solo.

Limbah dari industri ini jadi perhatian. Di Jawa Barat, lebih dari 40 persen limbah cair tekstil melebihi batas aman. Pembakaran limbah pakaian bekas juga menambah emisi karbon dan mikroplastik di udara. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, limbah tekstil menyumbang 2,87 persen dari total sampah nasional, artinya, pada tahun 2023 sekitar 1,75 ton sampah tekstil dihasilkan setiap tahun.

Wahyu Eka Setyawan dari Eksekutif Nasional Walhi mengatakan limbah tekstil dan pakaian bekas belum jadi fokus utama penanganan. Kapasitas TPA harus cepat ditambah, sementara limbah tekstil butuh waktu lama untuk terurai.

Perilaku Konsumtif dan Solusi

Dampak kerusakan dari fast fashion diperparah oleh gaya belanja konsumen. Menurut laporan McKinsey, konsumsi pakaian global akan meningkat 63 persen pada 2030. Konsumen fast fashion cenderung lebih cepat membuang pakaian, seolah-olah mereka barang sekali pakai. Wahyu menyebut gaya hidup ini sebagai throw away lifestyle, membuat tekstil sulit didaur ulang dan menumpuk menjadi residu berbahaya.

Beberapa orang seperti Cynthia S. Lestari dari Komunitas Bersaling-silang berusaha mengurangi dampaknya dengan aksi tukaran barang bekas, memperpanjang masa pakai barang. Konsep capsule wardrobe juga menjadi pilihan untuk mengurangi konsumsi berlebihan, dengan pendekatan membeli pakaian lebih sedikit namun berkualitas dan tahan lama.

Studi dari Virginija Daukantienė menunjukkan bahwa slow fashion, yang mendorong konsumen memilih produk lebih tahan lama atau ramah lingkungan, bisa menyeimbangkan pola konsumsi. Dengan memulai dari edukasi sejak dini, ini akan membentuk perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Akhirnya, meski fast fashion tampak menggoda karena menawarkan solusi cepat dan murah, kita perlu mempertimbangkan dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan. Capsule wardrobe bukan untuk mematikan kreativitas berbusana, tetapi lebih kepada mendorong kesadaran dan pemikiran kritis terhadap tren yang merusak lingkungan.

Artikel terkait

Rekomendasi