Media sosial dihebohkan dengan strategi pemasaran ekstrem yang dilakukan beberapa hotel melati di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Video promosi kamar yang mereka unggah di TikTok mendapat kecaman karena menggunakan narasi vulgar yang dinilai melanggar norma kesusilaan.
Sebagai respons, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Pariwisata Kota Mataram melakukan inspeksi mendadak dan penertiban terhadap sejumlah akomodasi tersebut. Mereka bertindak cepat setelah menerima banyak aduan dari warga mengenai promosi yang dianggap kebablasan dalam menjamin privasi tamu.
Konten Promosi yang Kontroversial:Salah satu akun hotel mengunggah video yang menjamin keamanan pasangan dari razia. Video tersebut menyatakan bahwa tamu bebas melakukan apa saja tanpa takut digerebek, dengan fokus pada jaminan privasi dan keamanan.
Di tempat lain, sebuah penginapan di Jalan Pejanggik menyebarkan konten yang membandingkan kamar seharga Rp170 ribu dengan kegiatan asusila di ruang terbuka. Narasi dalam video tersebut mempromosikan kenyamanan dan keamanan tanpa khawatir digerebek.
Kepala Satpol PP Kota Mataram, Irwan Rahadi, menegaskan bahwa promosi digital tersebut melanggar etika publik dan meresahkan masyarakat yang religius. Penindakan ini mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Ketenteraman dan Ketertiban Umum.
Permohonan Maaf dan Tindakan Tegas:Manajemen hotel yang terlibat telah dipanggil dan diwajibkan untuk menghapus konten video tidak pantas itu. Mereka telah menyampaikan permohonan maaf resmi kepada Pemerintah Kota Mataram dan berjanji tidak mengulangi tindakan tersebut.
Satpol PP menegaskan tidak akan ragu untuk menutup usaha jika temuan serupa terjadi kembali di masa depan. Fokusnya adalah pada dampak kegaduhan yang merusak norma masyarakat, bukan masuk ke ranah hukum pidana.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Cahya Samudra, mengingatkan agar promosi tetap menjaga batas moral dan kepatutan sosial. Ia menekankan pentingnya konten digital yang selaras dengan nilai kesopanan untuk menjaga citra pariwisata daerah.
Perwakilan manajemen Solas Hotel Lombok, yang juga terkena teguran, memastikan bahwa seluruh materi promosi kontroversial telah ditarik dari semua platform. Mereka mengakui kesalahan dalam konten yang dibuat hanya untuk menarik perhatian.