Pria Ini Nekat Buka 'Pabrik Sperma' Ilegal di Medsos, Klaim Punya 180 Anak di 2026

Pria Ini Nekat Buka 'Pabrik Sperma' Ilegal di Medsos, Klaim Punya 180 Anak di 2026
Foto: Pria Ini Nekat Buka 'Pabrik Sperma' Ilegal di Medsos, Klaim Punya 180 Anak di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Praktik donor sperma ilegal yang dipasarkan melalui media sosial kini tengah menjadi sorotan tajam di berbagai belahan dunia. Fenomena ini kembali memicu kontroversi setelah seorang pria asal Amerika Serikat, Robert Albon, mengalami penolakan hukum atas aksinya tersebut.

Albon, yang lebih populer dengan julukan Joe Donor, mengklaim telah menjadi ayah biologis dari 180 anak secara global. Ia menyebarkan spermanya secara mandiri melalui iklan di platform Facebook dan Instagram tanpa pengawasan medis resmi.

Kegagalan Gugatan Hukum di Pengadilan

Kasus ini mencuat saat Albon berusaha menuntut hak hukum agar namanya tercantum sebagai ayah resmi pada akta kelahiran salah satu anak biologisnya. Anak tersebut lahir dari pasangan lesbian yang menggunakan jasanya melalui metode inseminasi buatan mandiri.

Namun, pasangan sang ibu justru mendaftarkan pasangan mereka yang merupakan seorang pria transgender sebagai ayah legal si bayi. Merasa haknya diabaikan, Albon kemudian mengajukan permohonan deklarasi orang tua ke Pengadilan Keluarga.

Hakim tertinggi Pengadilan Keluarga, Sir Andrew McFarlane, menolak mentah-mentah tuntutan Albon dalam persidangan tersebut. Hakim menilai tindakan Albon hanya didasari oleh ego pribadi dan mengabaikan kondisi psikologis ibu kandung sang bayi.

Kekalahan ini menjadi yang ketiga kalinya bagi Albon di meja hijau dalam kasus serupa. Pada beberapa kesempatan sebelumnya, ia bahkan sempat menuntut hak asuh penuh serta meminta pergantian nama belakang anak agar sesuai dengan namanya.

Risiko Besar di Balik Pabrik Sperma Ilegal

Albon dengan bangga menyebut aktivitasnya sebagai pabrik sperma pribadi meski dilakukan sepenuhnya di luar sistem kesehatan resmi. Padahal, otoritas medis telah berulang kali memberikan peringatan keras mengenai bahaya dari transaksi sperma bawah tanah ini.

Donor sperma yang dilakukan melalui grup media sosial atau aplikasi tidak memiliki standar keamanan bagi pasien maupun bayi yang dilahirkan. Berikut adalah beberapa risiko fatal yang mengintai dari praktik donor sperma tanpa pengawasan medis:

Poin risiko utama donor sperma ilegal:
  • Minimnya Skrining Kesehatan: Tidak ada jaminan pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual (PMS) maupun risiko kelainan genetik pada sperma yang didonorkan.
  • Lemahnya Perlindungan Hukum: Tanpa kontrak resmi di klinik berlisensi, donor bisa secara sepihak mengklaim hak asuh atau mengganggu kehidupan pribadi keluarga penerima.
  • Ancaman Genetik (Inses): Produksi anak yang terlalu banyak di wilayah yang sama meningkatkan risiko hubungan sedarah antar-saudara tiri di masa depan secara tidak sengaja.

Sebagai perbandingan, regulasi di Inggris sangat ketat dalam membatasi kontribusi seorang donor demi menjaga keseimbangan populasi. Di sana, satu donor sperma maksimal hanya diperbolehkan membantu hingga 10 keluarga saja.

Obsesi dan Eksploitasi Terhadap Wanita

Albon berdalih bahwa langkah hukumnya bertujuan agar anak tersebut tidak mengalami krisis identitas di kemudian hari. Ia mengaitkan hal ini dengan pengalaman pribadinya sebagai anak adopsi yang sempat kehilangan arah mengenai asal-usulnya.

Meski demikian, hakim memiliki pandangan berbeda dan melihat adanya motif lain di balik kegigihan Albon di pengadilan. Hakim menilai Albon memiliki obsesi untuk mengontrol orang lain dan diduga menggunakan celah hukum demi mendapatkan izin tinggal di Inggris.

Tindakan agresif Albon di pengadilan disebut telah memberikan dampak traumatis yang luar biasa bagi pihak ibu. Sir Andrew McFarlane menegaskan bahwa Albon sama sekali tidak memiliki empati terhadap kondisi mental wanita yang telah menggunakan jasanya.

Tabel berikut merangkum perbedaan mencolok antara praktik donor melalui jalur resmi dibandingkan dengan jalur ilegal di media sosial.

Perbandingan donor sperma resmi vs ilegal:
Aspek Perbandingan Klinik Resmi Berlisensi Donor Mandiri (Ilegal)
Pemeriksaan Medis Sangat ketat dan komprehensif Tidak ada jaminan medis
Status Hukum Dilindungi undang-undang Rentan gugatan dan konflik
Batasan Keturunan Dibatasi secara kuantitas Tidak terbatas (berisiko inses)

Tabel di atas menunjukkan betapa besarnya risiko keamanan yang dikorbankan demi kemudahan akses melalui jalur ilegal. Otoritas kesehatan tetap menyarankan masyarakat untuk selalu menggunakan layanan klinik fertilitas resmi demi keamanan jangka panjang.

Pihak Otoritas Fertilisasi dan Embriologi Manusia menekankan bahwa keselamatan medis dan kepastian hukum adalah prioritas utama. Menggunakan aplikasi atau situs web untuk mencari donor sperma hanya akan mendatangkan risiko serius bagi semua pihak yang terlibat.

Artikel terkait

Rekomendasi