Banyak Kasus Katup Jantung Tak Terdeteksi, TAVI-MitraClip Jadi Solusi Medis Terbaru 2026 yang Aman dan Efektif

Banyak Kasus Katup Jantung Tak Terdeteksi, TAVI-MitraClip Jadi Solusi Medis Terbaru 2026 yang Aman dan Efektif
Foto: Banyak Kasus Katup Jantung Tak Terdeteksi, TAVI-MitraClip Jadi Solusi Medis Terbaru 2026 yang Aman dan Efektif. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kasus Penyakit Jantung Rematik (PJR) masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia sebagai negara berkembang. Selain itu, seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, prevalensi penyakit katup degeneratif yang dipicu oleh proses penuaan juga mengalami tren kenaikan.

Penyakit katup jantung sendiri merupakan suatu kondisi medis di mana terjadi kerusakan atau kelainan pada katup jantung seseorang. Fungsi katup ini sangat krusial karena bekerja layaknya pintu yang membuka dan menutup secara presisi guna memastikan darah mengalir ke arah yang tepat di dalam jantung.

Profesor Dr. dr. Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI dari Siloam International Hospitals mengungkapkan bahwa Indonesia kini tengah menghadapi lonjakan masalah katup jantung degeneratif. Beliau menjelaskan bahwa gangguan sirkulasi ini bisa berupa penyempitan sehingga katup tidak terbuka sempurna, maupun kebocoran yang membuat katup tidak menutup rapat.

Kondisi gangguan katup tersebut mengakibatkan beban kerja jantung menjadi jauh lebih berat dari biasanya. Jika terus dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, hal ini pada akhirnya akan mengganggu fungsi jantung secara menyeluruh bagi penderitanya.

Gejala yang Sering Luput dari Perhatian

Prof. Antonia menjelaskan bahwa banyak sekali kasus penyakit katup jantung yang gagal terdeteksi pada tahap-tahap awal. Hal ini disebabkan oleh munculnya gejala yang sering kali dianggap remeh atau tidak memiliki karakteristik yang khas bagi orang awam.

"Pasien sering kali hanya merasa lebih cepat lelah atau menyadari adanya penurunan kemampuan dalam beraktivitas dibandingkan sebelumnya," ungkap Prof. Antonia. Keluhan-keluhan ringan semacam ini biasanya disalahpahami masyarakat sebagai bagian normal dari proses penuaan saja.

Padahal, kondisi cepat lelah, jantung terasa berdebar-debar, hingga pingsan mendadak merupakan tanda-tanda yang menunjukkan gangguan jantung sudah berada pada tahap yang lanjut. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin menjadi kunci utama dalam menyelamatkan pasien.

Beberapa gejala umum yang harus diwaspadai antara lain:

  • Merasa mudah lelah meskipun hanya melakukan aktivitas fisik yang ringan.
  • Mengalami sesak napas, terutama ketika sedang berjalan jauh atau menaiki anak tangga.
  • Sensasi jantung berdebar kencang atau tidak teratur.
  • Munculnya rasa nyeri pada bagian dada secara tiba-tiba.
  • Terjadi pembengkakan pada area tungkai bawah atau kaki.
  • Sering merasa pusing hingga kehilangan kesadaran atau pingsan.

Gejala-gejala di atas sebaiknya tidak dianggap sepele oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat faktor risiko. Prof. Antonia menyarankan agar keluarga segera merutinkan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up bagi anggota keluarga yang sudah lanjut usia.

Faktor Risiko dan Pentingnya Gaya Hidup

Proses degeneratif pada katup jantung sangat dipengaruhi oleh pola hidup yang dijalani seseorang selama masa mudanya. Faktor-faktor seperti asupan makanan, cara berolahraga, serta kebiasaan buruk lainnya sangat menentukan kesehatan katup di masa tua.

Faktor risiko utama yang mempercepat kerusakan katup jantung meliputi:

  • Kondisi medis seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes, dan kadar kolesterol yang tinggi.
  • Riwayat penyakit ginjal kronis serta kebiasaan merokok yang merusak pembuluh darah.
  • Kondisi obesitas atau kegemukan serta kurangnya aktivitas fisik dalam jangka panjang.
  • Riwayat demam rematik, kelainan jantung bawaan, serta infeksi tertentu pada area jantung.

Penanganan hipertensi yang tidak tepat juga bisa menjadi pemicu komplikasi katup jantung. Sering kali pasien hanya meminum obat saat merasa tensinya tinggi saja, yang mana kebiasaan ini sebenarnya salah dan berbahaya bagi struktur jantung.

Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat memicu penebalan otot jantung, pembengkakan, hingga pelebaran serambi jantung. Kondisi-kondisi inilah yang nantinya akan menimbulkan masalah pada katup dan memicu gangguan irama jantung atau aritmia.

Metode Deteksi Dini yang Tersedia

Bagi masyarakat yang sudah menginjak usia di atas 40 tahun atau lansia dengan faktor risiko, pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) sangat direkomendasikan. EKG merupakan langkah awal yang efisien untuk mendeteksi gangguan irama jantung dan pembesaran ruang jantung.

"EKG itu tersedia di mana-mana, biayanya sangat hemat, dan prosedurnya sangat mudah dilakukan tanpa perlu spesialis khusus," jelas Prof. Antonia. Namun, untuk evaluasi yang lebih mendalam, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan ekokardiografi atau USG jantung.

Berikut adalah ringkasan pemeriksaan untuk deteksi penyakit katup jantung:

Jenis Pemeriksaan Tujuan dan Fungsi Utama
Elektrokardiogram (EKG) Mendeteksi gangguan irama jantung (aritmia) dan tanda pembesaran ruang jantung.
Ekokardiografi (USG Jantung) Menilai struktur dan fungsi katup secara detail serta tingkat keparahan kelainan.
MRI & CT Scan Jantung Memberikan gambaran anatomi jantung yang lebih kompleks untuk perencanaan tindakan.

Melalui rangkaian pemeriksaan tersebut, tim medis dapat menentukan jenis penanganan yang paling tepat bagi pasien. Penentuan terapi dilakukan berdasarkan evaluasi menyeluruh oleh tim multidisiplin yang melibatkan dokter jantung dan bedah jantung.

Teknologi TAVI dan MitraClip sebagai Solusi Modern

Kemajuan ilmu kedokteran saat ini memungkinkan penanganan katup jantung dilakukan tanpa harus melalui operasi bedah terbuka yang masif. Dua teknologi unggulan yang kini mulai banyak digunakan di Indonesia adalah prosedur TAVI dan MitraClip.

Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) difungsikan untuk menangani stenosis aorta, yaitu penyempitan katup yang menghambat aliran darah ke seluruh tubuh. Prosedur ini bersifat minim invasif karena pemasangan katup baru dilakukan melalui kateter yang dimasukkan lewat pembuluh darah di pangkal paha.

Prof. Antonia mengilustrasikan prosedur TAVI ini secara sederhana sebagai proses memasukkan katup baru ke dalam katup yang lama. Karena tidak memerlukan pembukaan rongga dada, waktu pemulihan pasien pun menjadi jauh lebih singkat dibandingkan operasi konvensional.

Sementara itu, MitraClip menjadi solusi bagi pasien yang mengalami kebocoran katup mitral atau regurgitasi mitral. Dalam prosedur ini, dokter akan memasang klip khusus pada katup agar dapat menutup lebih rapat, sehingga aliran balik darah ke serambi jantung bisa dicegah.

Keuntungan utama dari metode minimal invasif ini adalah masa pemulihan di rumah sakit yang biasanya hanya memakan waktu sekitar tiga hari. Pasien umumnya bisa kembali beraktivitas normal dalam waktu 6 hingga 8 minggu, meskipun belum diperbolehkan melakukan kegiatan yang terlalu berat.

Kesiapan Layanan di Indonesia

Masyarakat kini tidak perlu khawatir karena layanan diagnosis dan terapi katup jantung modern sudah tersedia di dalam negeri, khususnya di jaringan Siloam Hospitals. Selain fasilitas pemeriksaan lengkap, tindakan intervensi seperti TAVI dan MitraClip juga sudah rutin dilakukan.

Layanan yang diberikan mencakup sistem end-to-end, mulai dari evaluasi menyeluruh, pemilihan terapi, hingga pemantauan jangka panjang. Hal ini merupakan komitmen rumah sakit untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi pasien jantung di Indonesia.

Khusus di Siloam Hospitals Lippo Village, telah tersedia fasilitas Chest Pain Ready Hospital (CPRH) yang dirancang untuk menangani kegawatdaruratan jantung secara cepat. Fasilitas ini didukung oleh tim medis multidisiplin yang bersiaga selama 24 jam penuh setiap harinya.

Dengan memegang prinsip "time is muscle", kecepatan penanganan menjadi kunci utama dalam menyelamatkan otot jantung pasien. Bagi masyarakat yang merasakan nyeri dada hebat, sangat disarankan untuk segera menghubungi layanan darurat guna mendapatkan tindakan medis secepat mungkin.

Artikel terkait

Rekomendasi