PT Mekar Asta Nusantara (MANU) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Kehutanan guna memperkuat sektor pangan nasional. Fokus utama dari kerja sama ini adalah pengembangan sistem agroforestri pangan yang berlokasi di wilayah Jawa Timur.
Kemitraan ini melibatkan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial melalui Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta. Langkah besar tersebut diambil sebagai upaya nyata dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mendongkrak taraf hidup warga di sekitar hutan.
Direktur Utama MANU, Evi Febriana Suhardi, menegaskan bahwa visi perusahaan adalah menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan. Ia menyampaikan hal ini dalam keterangan tertulisnya yang dirilis pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Menurut Evi, isu pangan tidak hanya berbicara tentang kebutuhan saat ini, tetapi juga persiapan masa depan. Ia ingin membangun sistem yang memungkinkan masyarakat dan alam tumbuh secara berdampingan dalam jangka waktu panjang.
Fokus Pengembangan MEKAR Ecosystem
Prosesi penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini menjadi landasan bagi pengelolaan kawasan hutan produktif yang lebih efisien. Salah satu sasaran utamanya adalah pemberdayaan Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) agar lebih mandiri dan berdaya saing.
Program ini juga menjadi pilar penting dalam perluasan "MEKAR Ecosystem" yang digagas oleh perusahaan. Inisiatif tersebut dirancang untuk mendorong pemanfaatan sumber daya hutan tanpa merusak kelestarian lingkungan asli.
Konsep agroforestri yang diusung akan mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan berbagai komoditas pangan. Dengan cara ini, lahan hutan memiliki fungsi ganda yang memberikan manfaat ekologis sekaligus keuntungan ekonomi bagi warga.
Saat ini, MANU sedang melakukan pengembangan lahan dengan memprioritaskan tanaman semusim seperti jagung. Meskipun mengejar hasil produksi, perusahaan tetap memastikan bahwa seluruh proses penanaman mengikuti kaidah keberlanjutan yang ketat.
Poin-poin utama dalam kerja sama pengembangan agroforestri di Jawa Timur meliputi:
- Pengembangan kawasan hutan menjadi lahan produktif yang berkelanjutan.
- Pemberian pelatihan dan penguatan kapasitas bagi Kelompok Perhutanan Sosial (KPS).
- Penerapan teknik agroforestri yang menggabungkan tanaman kayu dengan komoditas pangan.
- Fokus pada komoditas jagung sebagai tanaman semusim unggulan.
- Penciptaan nilai ekonomi baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Melalui daftar target tersebut, terlihat bahwa program ini tidak hanya berfokus pada hasil fisik tanah semata. Pemberdayaan manusia menjadi kunci agar manfaat ekonomi dari sektor agroforestri dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan.
MANU berkomitmen untuk memberikan pendampingan intensif bagi kelompok masyarakat setempat guna meningkatkan keterampilan teknis mereka. Hal ini diharapkan mampu mengubah pola pikir petani tradisional menjadi lebih profesional dalam mengelola lahan.
Langkah nyata ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam memanfaatkan potensi hutan secara bijak. Dengan dukungan pemerintah, kolaborasi ini diprediksi akan menjadi salah satu pendorong utama ekonomi hijau di Jawa Timur.