Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah militer Iran secara terbuka memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk segera menjauh dari kawasan strategis Selat Hormuz. Otoritas keamanan Iran bahkan mengeluarkan ancaman serangan fisik apabila militer AS nekat memasuki wilayah perairan tersebut, sebuah situasi yang kini mulai berdampak pada kelancaran pengiriman logistik secara global.
Reaksi keras dari pihak Teheran ini muncul sebagai tanggapan langsung atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyampaikan rencana untuk membantu pembebasan kapal-kapal yang terisolasi di Selat Hormuz. Militer Iran menanggapi hal tersebut dengan ketegasan dan melarang keras Angkatan Laut AS melakukan aktivitas apa pun di wilayah kedaulatan mereka.
Ancaman Serangan Militer Iran terhadap Pasukan AS
Ali Abdollahi, selaku Kepala Komando Gabungan Militer Iran, menegaskan melalui saluran Al Jazeera bahwa pasukannya siap menyerang personel militer AS jika mereka tetap memaksa masuk ke area selat. Ia juga menginstruksikan seluruh kapal komersial maupun tanker minyak agar tidak melakukan pergerakan apa pun tanpa koordinasi resmi dengan pihak Iran demi menghindari risiko keamanan.
Abdollahi menambahkan bahwa setiap kehadiran kekuatan bersenjata asing, khususnya pihak Amerika Serikat yang ia sebut sebagai agresor, akan menghadapi konsekuensi serangan militer jika berupaya mendekati Selat Hormuz. Peringatan ini merupakan sinyal merah bagi stabilitas navigasi di salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia tersebut.
Hanya berselang beberapa jam setelah pernyataan Ali Abdollahi, kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melaporkan adanya serangan rudal. Laporan tersebut mengklaim bahwa dua rudal Iran telah berhasil menghantam kapal perang milik Amerika Serikat yang berada di sisi selatan Selat Hormuz.
Namun, klaim mengenai adanya serangan fisik terhadap armada laut tersebut segera dibantah secara resmi oleh pihak otoritas militer Amerika Serikat. Washington memberikan pernyataan sanggahan yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun kapal perang mereka yang terkena serangan rudal sebagaimana yang diberitakan oleh media Iran.
Rencana Proyek Kebebasan Donald Trump
Sebelumnya, pada hari Minggu (03/05/2026), Donald Trump sempat mengutarakan niatnya melalui platform media sosial Truth Social untuk membebaskan awak serta kapal yang terjebak di jalur perairan tersebut. Langkah ini direncanakan sebagai misi kemanusiaan dan penyelamatan bagi kapal-kapal yang telah mengalami krisis pasokan makanan serta kebutuhan dasar lainnya selama dua bulan konflik.
Trump memberikan informasi kepada negara-negara terkait bahwa Amerika Serikat akan bertindak sebagai pemandu agar kapal-kapal mereka bisa keluar dengan aman dari kawasan yang saat ini dianggap terlarang tersebut. Ia berharap melalui bantuan ini, aktivitas perdagangan internasional dapat kembali berjalan normal tanpa adanya intimidasi atau hambatan fisik dari pihak luar.
Mantan Presiden yang kembali menjabat itu juga menjelaskan bahwa operasi yang dinamakan "Proyek Kebebasan" ini dijadwalkan mulai beroperasi pada Senin pagi waktu setempat. Trump mengklaim bahwa para utusannya tengah melakukan proses komunikasi intensif dengan pihak Iran untuk mencari jalan tengah yang menguntungkan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Pengerahan Kekuatan Militer Skala Besar
Untuk menyukseskan misi "Proyek Kebebasan" tersebut, Laksamana Brad Cooper dari Komando Pusat AS telah menyiapkan dukungan militer yang sangat masif di kawasan perairan sensitif itu. Rencana pengamanan ini melibatkan puluhan ribu personel serta alat utama sistem persenjataan mutakhir guna memastikan koridor maritim tetap terbuka bagi kapal sipil.
| Kategori Personel/Alat Tempur | Jumlah Kekuatan yang Dikerahkan |
|---|---|
| Personel Militer Amerika Serikat | 15.000 Anggota |
| Pesawat Tempur (Darat & Laut) | Lebih dari 100 Unit |
| Armada Laut dan Udara | Kapal Perang & Drone |
Laksamana Brad Cooper menekankan bahwa dukungan terhadap misi pertahanan ini bersifat krusial bagi stabilitas keamanan regional serta keberlangsungan ekonomi global yang sedang tertekan. Kehadiran militer AS di sana juga bertujuan untuk mematahkan blokade laut yang selama ini menghambat arus distribusi komoditas internasional.
Sejak perselisihan bersenjata antara Iran melawan koalisi AS-Israel meletus, Iran memang telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas pelayaran di kawasan Teluk kecuali untuk kepentingan mereka sendiri. Penutupan akses selama dua bulan ini menjadi faktor utama yang memicu lonjakan harga energi di berbagai pasar dunia secara signifikan.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Organisasi Maritim Internasional, kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Teheran telah berdampak langsung pada operasional ratusan kapal niaga. Setidaknya terdapat 20.000 pelaut yang kini berada dalam posisi terjebak dan tidak memiliki akses untuk melewati jalur strategis tersebut menuju pelabuhan tujuan mereka.
Konflik yang terus bereskalasi ini telah memakan banyak korban jiwa dan luka-luka, di mana catatan terbaru menunjukkan angka korban mencapai ribuan orang akibat peperangan antara AS-Israel melawan Iran. Situasi ini membuat pasar global terus mencermati setiap perkembangan di Selat Hormuz karena potensi dampaknya yang luar biasa terhadap suplai minyak mentah dunia.