Pasar saham domestik kembali didera tekanan jual yang masif pada perdagangan awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas, melanjutkan tren koreksi tajam yang sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Pada penutupan sesi pertama, IHSG bertengger di level 5.434,30 setelah anjlok sedalam 2,87 persen atau setara 160,46 poin. Bahkan, indeks sempat menyentuh titik terendah harian pada posisi 5.346,91 di tengah kepanikan pasar.
Ratusan Saham Berguguran di Sesi Pertama
Aksi lepas saham terjadi secara agresif di hampir seluruh sektor perdagangan Bursa Efek Indonesia. Data mencatat sebanyak 646 saham melemah, sementara hanya 88 saham yang mampu menguat dan 79 saham lainnya jalan di tempat.
Aktivitas perdagangan tergolong sangat padat dengan nilai transaksi mencapai Rp12,92 triliun. Volume saham yang berpindah tangan menyentuh angka 20,24 miliar lembar dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,38 juta kali.
Pada pembukaan pagi, tekanan jual bahkan sempat membuat indeks merosot lebih dari 4 persen hanya dalam kurun waktu 10 menit. Hal ini mengindikasikan adanya sentimen negatif yang cukup dominan dan memicu kepanikan investor sejak awal perdagangan.
Mayoritas sektor berakhir di zona merah, dengan sektor kesehatan, teknologi, dan konsumer non-primer menjadi yang paling terdampak. Hanya sektor barang baku yang berhasil melawan arus dan bertahan di zona hijau.
Sejumlah saham penggerak pasar turut membebani kinerja indeks pada hari ini. Beberapa di antaranya adalah emiten besar seperti TLKM, BBRI, dan BBCA yang menjadi pemberat utama di bursa.
Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Sentimen Global
Ketidakpastian di pasar keuangan Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Salah satu pemicu utama adalah memanasnya kembali hubungan antara Iran dan Israel yang merusak stabilitas kawasan.
Iran dilaporkan telah meluncurkan rudal ke arah Israel pada Minggu (7/6/2026). Serangan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai pada April lalu.
Pihak Iran berdalih bahwa serangan tersebut adalah respons atas blokade laut oleh Amerika Serikat dan tindakan Israel di Lebanon. Mereka kini menganggap aset Israel dan pangkalan AS di kawasan tersebut sebagai target sah.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri. Namun, ketegangan ini tetap mengancam upaya perdamaian yang selama ini sedang dibangun.
Poin penting terkait eskalasi konflik di Timur Tengah:
- Iran menuntut penghentian operasi militer di Lebanon dan pembatalan blokade oleh Amerika Serikat.
- AS mendesak Iran untuk menyerahkan material nuklir dan menghentikan ambisi pengembangan senjatanya.
- Garda Revolusi Iran memperingatkan akan adanya serangan lebih luas jika kesepakatan damai terus dilanggar.
- Konflik ini memicu kekhawatiran kenaikan harga energi global yang dapat mengerek biaya produksi di berbagai negara.
Ketegangan geopolitik yang kembali memuncak ini membuat para pelaku pasar bersikap sangat hati-hati. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global kini menjadi fokus utama yang membayangi stabilitas ekonomi.
Kondisi Fiskal Dalam Negeri dan Pelemahan Rupiah
Di tengah tekanan eksternal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat. Hal ini disampaikan berdasarkan laporan realisasi APBN hingga akhir Mei 2026.
Defisit APBN saat ini tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Meski sedikit meningkat dari posisi April, angka tersebut dinilai masih dalam batas aman dan sesuai rencana awal.
Ringkasan perbandingan realisasi defisit anggaran:
| Periode Laporan | Nilai Defisit (Rp) | Persentase terhadap PDB |
|---|---|---|
| Akhir April 2026 | 164,4 Triliun | 0,64% |
| Akhir Mei 2026 | 180,4 Triliun | 0,70% |
Pemerintah menyatakan bahwa pengelolaan pembiayaan dilakukan secara fleksibel dan sangat berhati-hati. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi gejolak pasar keuangan global yang sangat dinamis belakangan ini.
Selain bursa saham, mata uang rupiah juga tengah berada di bawah tekanan besar terhadap dolar AS. Menguatnya indeks dolar ke level 100,069 memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang.
Pekan lalu, nilai tukar rupiah sempat tersungkur hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS. Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa faktor geopolitik menjadi pemicu utama tingginya risiko inflasi global.
Selain faktor global, kebutuhan dolar di dalam negeri juga sedang melonjak tinggi. Hal ini dipicu oleh periode pembayaran utang luar negeri serta proses repatriasi dividen oleh perusahaan-perusahaan besar.