Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan siang hari ini. Hingga pukul 13.00 WIB, mata uang Garuda terpantau semakin tertekan dan mulai mendekati level psikologis baru di angka Rp18.200 per dolar AS.
Berdasarkan data dari Refinitiv, pelemahan ini sudah terlihat sejak pembukaan pasar. Hanya dalam tujuh menit awal perdagangan atau pukul 09.07 WIB, rupiah langsung terkoreksi 0,50 persen ke posisi Rp18.100 per dolar AS.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Sepanjang Hari
Kondisi nilai tukar rupiah terpantau terus mengalami tekanan secara bertahap sejak pagi hingga siang hari. Setelah sempat berada di level Rp18.100, mata uang domestik kembali merosot ke Rp18.150 pada pukul 10.00 WIB.
Tren negatif ini berlanjut satu jam kemudian, di mana rupiah menyentuh angka Rp18.160 per dolar AS. Pada pukul 13.00 WIB, posisi rupiah semakin melemah ke level Rp18.180, yang sekaligus menjadi rekor terendah sepanjang masa.
Berikut adalah ringkasan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdasarkan waktu pemantauan :
| Waktu (WIB) | Nilai Tukar (Rp/US$) | Keterangan |
|---|---|---|
| 09.07 | Rp18.100 | Melemah 0,50% |
| 10.00 | Rp18.150 | Terus tertekan |
| 11.00 | Rp18.160 | Tren menurun |
| 13.00 | Rp18.180 | Level terendah sejarah |
Data di atas memperlihatkan konsistensi pelemahan rupiah dalam rentang waktu empat jam terakhir. Meski sempat ada fluktuasi tipis, arah pergerakan mata uang menunjukkan tekanan jual yang cukup besar.
Faktor Eksternal dan Indeks Dolar AS
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sedang mengalami sedikit koreksi pada perdagangan pagi ini. Per pukul 09.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya turun 0,07 persen ke level 99,998.
Meskipun sedang turun tipis, posisi DXY tersebut dinilai masih sangat kuat bagi pasar global. Hal ini merupakan dampak dari lonjakan signifikan sebesar 0,66 persen pada penutupan pekan lalu yang membawa indeks kembali menembus angka 100.
Kondisi Cadangan Devisa Indonesia
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah merilis data cadangan devisa (Cadev) yang mengalami penurunan pada akhir Mei 2026. Posisi Cadev Indonesia tercatat sebesar US$ 144,9 miliar, menyusut US$ 1,3 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama yang membebani likuiditas valuta asing negara. Faktor tersebut mencakup kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian global.
Penyebab utama penurunan cadangan devisa pada periode Mei 2026 meliputi :
- Pembayaran utang luar negeri rutin oleh pemerintah Indonesia.
- Langkah stabilitas nilai tukar untuk meredam gejolak pasar keuangan dunia.
- Peningkatan permintaan valuta asing secara musiman dari sektor domestik.
Walaupun mengalami penyusutan, Bank Indonesia menegaskan bahwa posisi cadangan devisa saat ini masih dalam kategori sangat kuat. Angka tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan jika ditambah dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Secara keseluruhan, ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dinilai masih terjaga karena posisi Cadev tetap berada di atas standar kecukupan internasional. Sesuai ketentuan global, cadangan devisa dianggap memadai jika berada di atas standar minimal 3 bulan impor.