Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi cukup dalam pada penutupan perdagangan hari Senin (8/6). Indeks saham domestik ini merosot hingga 252,63 poin atau setara dengan 4,52 persen.
Kini IHSG bertengger di posisi 5.342,14, yang merupakan titik terendahnya dalam kurun waktu sekitar 4,5 tahun terakhir. Terakhir kali level serendah ini tercatat terjadi pada November 2020 silam.
Ringkasan Transaksi Pasar Modal
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas perdagangan tercatat sangat dinamis dengan total nilai transaksi mencapai Rp21,73 triliun. Volume saham yang berpindah tangan pada hari tersebut menembus angka 32,52 miliar lembar.
Beberapa emiten dengan nilai transaksi paling dominan di lantai bursa antara lain:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan total nilai Rp3,47 triliun.
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatatkan nilai Rp2,53 triliun.
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan perolehan Rp1,66 triliun.
Meskipun volume transaksinya tinggi, pergerakan harga saham ketiga perusahaan besar ini menunjukkan tren yang bervariasi. Saham BBCA terkoreksi 4,43 persen dan BBRI menyusul turun 5,47 persen, namun TPIA justru melonjak signifikan hingga 22,99 persen.
Penyebab Utama Melemahnya IHSG
Analis dari Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa pelemahan tajam ini merupakan imbas dari gabungan sentimen negatif domestik dan global. Salah satu faktor utama adalah eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel yang memanas.
Kondisi geopolitik tersebut telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar 4 persen dalam waktu singkat. Lonjakan harga energi ini akhirnya membebani bursa saham di kawasan Asia, termasuk pasar modal Indonesia.
Dilihat dari analisis teknikal, IHSG saat ini sudah berada di bawah garis Moving Average (MA) 200 bulanan. Posisi ini memberikan sinyal bahwa ada peluang bagi indeks untuk melanjutkan tren penurunan pada periode mendatang.
Tekanan pada Mata Uang Rupiah
Kondisi pasar modal yang lesu juga dibarengi dengan tekanan di pasar valuta asing. Nilai tukar Rupiah terpantau melemah 0,84 persen, sehingga posisinya kini berada di angka Rp18.188 per dolar AS.
Tren pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga dialami oleh beberapa negara berkembang di Asia Pasifik lainnya. Sebagai contoh, Ringgit Malaysia tercatat mengalami depresiasi sebesar 1,09 persen terhadap mata uang Amerika Serikat.
Berikut adalah perbandingan pergerakan beberapa mata uang di kawasan Asia Pasifik:
| Mata Uang | Perubahan Terhadap Dolar AS | Status |
|---|---|---|
| Rupiah Indonesia | Melemah 0,84% | Terkoreksi |
| Ringgit Malaysia | Melemah 1,09% | Terkoreksi |
| Won Korea Selatan | Menguat 1,52% | Apresiasi |
| Yuan China | Menguat 0,05% | Apresiasi |
Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar mata uang regional tertekan, Won dan Yuan masih mampu bertahan di zona hijau. Situasi ekonomi global yang fluktuatif membuat investor terus waspada terhadap pergerakan aset-aset berisiko.