Gubernur BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Kolaps, Optimis Menguat Juli 2026! Terbukti Terbaru

Gubernur BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Kolaps, Optimis Menguat Juli 2026! Terbukti Terbaru
Foto: Gubernur BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Kolaps, Optimis Menguat Juli 2026! Terbukti Terbaru. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan keyakinannya bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah akan segera mereda dalam waktu dekat. Ia memprediksi mata uang Garuda akan mulai bergerak stabil dan menunjukkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Proyeksi penguatan kurs rupiah tersebut diperkirakan baru akan mulai terlihat secara signifikan pada periode Juli hingga Agustus 2026 mendatang. Keyakinan ini muncul di tengah upaya keras bank sentral dalam menjaga stabilitas moneter nasional.

Langkah Strategis BI Menghadapi Tekanan Kurs

Sebagai langkah nyata untuk menyelamatkan mata uang nasional, Bank Indonesia telah memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps). Keputusan ini membuat suku bunga acuan kini berada di level 5,25%.

Kebijakan tersebut juga diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,25%. Selain itu, suku bunga Lending Facility turut dikerek naik sebanyak 50 bps hingga menyentuh posisi 6,00%.

Perry menegaskan bahwa jika merujuk pada indikator fundamental ekonomi saat ini, nilai tukar rupiah sebenarnya berada di bawah nilai wajarnya. Kondisi undervalue ini menunjukkan bahwa potensi penguatan di masa depan masih terbuka lebar.

Menurutnya, anjloknya nilai tukar yang terjadi belakangan ini murni disebabkan oleh hantaman berbagai sentimen eksternal dari pasar global. Faktor-faktor luar negeri inilah yang memberikan tekanan besar terhadap pergerakan rupiah.

Faktor Eksternal yang Memicu Pelemahan Rupiah

Beberapa tantangan global yang diidentifikasi menjadi penyebab utama tertekannya kurs rupiah meliputi isu proteksionisme tarif perdagangan di tingkat dunia. Selain itu, ketegangan militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut memperburuk kondisi pasar keuangan.

Kenaikan harga komoditas energi serta kebijakan moneter ketat dari bank-bank sentral utama dunia juga menjadi pemicu utama. Terutama, kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang tetap bersifat restriktif.

Berikut adalah rangkuman faktor-faktor global yang menekan nilai tukar mata uang dunia termasuk rupiah:

  • Melonjaknya harga minyak mentah dunia yang membebani neraca perdagangan.
  • Melambatnya angka pertumbuhan ekonomi di tingkat global secara keseluruhan.
  • Peningkatan inflasi global yang memicu ketidakpastian pasar finansial.
  • Tren suku bunga tinggi di berbagai negara, termasuk kenaikan Fed Fund Rate.
  • Meningkatnya imbal hasil (Yield) US Treasury yang mendorong penguatan dolar AS.

Faktor-faktor tersebut menciptakan tekanan hebat yang memicu pelemahan mata uang di hampir seluruh belahan dunia, bukan hanya menimpa rupiah. Hal ini disampaikan Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Meskipun saat ini kondisi pasar sedang bergejolak, Bank Indonesia optimistis bahwa kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi pasar akan membuahkan hasil. Stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama guna mendukung pemulihan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Ringkasan Perubahan Suku Bunga Bank Indonesia

Tabel berikut menunjukkan rincian kenaikan suku bunga terbaru yang diputuskan oleh Bank Indonesia:

Instrumen Kebijakan Kenaikan (bps) Level Terbaru (%)
BI-Rate 50 bps 5,25%
Suku Bunga Deposit Facility 50 bps 4,25%
Suku Bunga Lending Facility 50 bps 6,00%

Penyesuaian suku bunga ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di mata investor asing. Dengan demikian, aliran modal masuk diharapkan kembali meningkat dan memperkuat cadangan devisa negara.

Di sisi lain, desakan agar otoritas moneter bertindak lebih agresif juga sempat muncul setelah rupiah sempat menyentuh angka Rp17.600 per dolar AS. Namun, BI tetap meyakini bahwa pondasi ekonomi dalam negeri masih cukup kuat untuk menghadapi badai sentimen global tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi