Volume pengiriman minyak mentah dari Arab Saudi menuju China diprediksi akan mengalami penurunan yang sangat signifikan pada Juni 2026 mendatang. Ekspor minyak ke Negeri Tirai Bambu tersebut diperkirakan hanya mencapai 10 juta barel atau sekitar 333.000 barel per hari.
Penyebab utama merosotnya angka ini adalah melambungnya harga komoditas minyak global. Selain itu, penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz terus mengganggu keseimbangan distribusi energi antara produsen dan konsumen terbesar dunia tersebut.
Dampak Gangguan Logistik di Selat Hormuz
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan bahwa proses normalisasi rantai pasok minyak global tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Walaupun beberapa rute pelayaran alternatif sudah mulai dioperasikan, kendala logistik masih tetap membayangi industri energi.
Menurut Nasser, membuka kembali akses distribusi tidak otomatis memulihkan kondisi pasar yang telah kehilangan pasokan hingga satu miliar barel minyak. Hal ini disampaikan sebagai respons atas gangguan berkepanjangan yang memicu kekhawatiran pelaku pasar global.
Target ekspor pada Juni mendatang mencatatkan penurunan drastis jika disandingkan dengan realisasi pengiriman pada bulan Mei yang mencapai 20 juta barel. Padahal, angka di bulan Mei sendiri sudah dianggap sebagai salah satu level terendah dalam sejarah perdagangan kedua negara.
Perbandingan volume pengiriman minyak Arab Saudi ke China berdasarkan kondisi pasar:
| Periode atau Kondisi | Volume Pengiriman (Bulan/Hari) |
|---|---|
| Kondisi Normal (Sebelum Konflik) | 45 Juta - 57 Juta Barel/Bulan |
| Mei 2026 | 20 Juta Barel/Bulan |
| Juni 2026 (Prediksi) | 10 Juta Barel (333.000 Barel/Hari) |
Data di atas memperlihatkan tren penurunan yang sangat tajam akibat dampak berantai dari instabilitas keamanan jalur laut dan penyesuaian harga pasar.
Kilang China Mulai Kurangi Permintaan
Beberapa raksasa kilang minyak di China, termasuk Sinopec dan Sinochem, dilaporkan mulai memangkas permintaan pasokan untuk periode Juni. Keputusan ini diambil karena harga yang ditawarkan saat ini dianggap masih terlalu membebani biaya operasional mereka.
Arab Saudi sebenarnya telah mencoba menarik minat pasar dengan menurunkan harga jual resmi (OSP) minyak jenis Arab Light sebesar USD4 per barel. Namun, premi sebesar USD15,50 di atas acuan Oman/Dubai tersebut rupanya masih belum sesuai dengan harapan pasar yang menginginkan diskon lebih besar.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan impor minyak di China antara lain:
- Penurunan Impor Tahunan: Data perdagangan menunjukkan impor minyak mentah China pada April merosot hingga 20% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Operasional Kilang: Perusahaan minyak negara di China mengurangi tingkat operasional kilang mereka sekitar 5% dari bulan sebelumnya.
- Harga Energi: Kenaikan harga BBM, LPG, dan LNG secara global menekan daya beli dan konsumsi energi di tingkat domestik.
- Level Terendah: Volume impor pada April menjadi titik terendah sejak Juli 2022 akibat pelemahan permintaan pasar.
Kombinasi antara harga energi yang tetap tinggi dan melambatnya aktivitas pengolahan di China diperkirakan akan terus menekan angka perdagangan minyak global dalam beberapa waktu ke depan.
Krisis di Selat Hormuz tetap menjadi faktor kunci yang menentukan masa depan distribusi energi dunia. Selama ketegangan di wilayah tersebut belum mereda, ketidakpastian harga dan ketersediaan pasokan akan terus menghantui ekonomi negara-negara importir besar.