Dukung Hilirisasi, Perusahaan Adik Prabowo Bakal Bangun Pusat Riset Logam Tanah Jarang

Dukung Hilirisasi, Perusahaan Adik Prabowo Bakal Bangun Pusat Riset Logam Tanah Jarang
Foto: Ilustrasi Dukung Hilirisasi, Perusahaan Adik Prabowo Bakal Bangun Pusat Riset Logam Tanah Jarang.
Ukuran teks

PT Arsari Tambang, perusahaan yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo, baru saja mengumumkan rencana strategis untuk membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka. Proyek ini merupakan langkah nyata dalam mendukung kebijakan hilirisasi sekaligus memperkuat kemandirian teknologi mineral di tanah air.

Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo, menjelaskan bahwa kehadiran pusat riset ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan teknologi pengolahan mineral strategis secara domestik. Ia menyayangkan kondisi industri timah nasional yang selama ini dinilai masih tertinggal dalam aspek pengembangan inovasi dan teknologi.

Aryo mengungkapkan keprihatinannya mengenai minimnya fasilitas riset meskipun industri timah di Indonesia sudah memiliki sejarah yang sangat panjang. Hal tersebut ia sampaikan secara langsung dalam gelaran acara Metconnex 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 13 Mei 2026.

“Sangat disayangkan, industri timah kita sudah berjalan selama 150 tahun, namun hingga kini kita belum memiliki pusat riset timah yang mumpuni,” ungkap Aryo dalam forum tersebut. Ia menekankan bahwa pusat riset tersebut akan menjadi pondasi bagi pengembangan teknologi pengolahan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE).

Selama ini, pemanfaatan logam tanah jarang di Indonesia masih tergolong sangat terbatas padahal komoditas ini merupakan produk sampingan timah dengan nilai jual yang sangat tinggi. Keberadaan logam ini sangat vital dalam menyokong kebutuhan industri teknologi canggih dan upaya transisi energi global di masa depan.

Beberapa unsur logam tanah jarang yang menjadi fokus utama dalam pengembangan teknologi ini meliputi:

  • Neodymium-Praseodymium (NdPr): Unsur penting yang banyak digunakan sebagai bahan baku magnet berperforma tinggi untuk motor listrik dan perangkat elektronik.
  • Dysprosium: Logam yang berfungsi meningkatkan ketahanan panas pada magnet, sangat dibutuhkan dalam turbin angin dan kendaraan listrik.
  • Formulasi Alloy: Pengembangan campuran logam standar tinggi yang diperlukan dalam produksi komponen semikonduktor.
  • Solder Paste: Inovasi produk hilir timah untuk kebutuhan industri perakitan sirkuit elektronik modern.

Penjelasan di atas menunjukkan betapa strategisnya nilai logam tanah jarang bagi kedaulatan industri nasional. Tanpa adanya penguasaan teknologi yang mandiri, Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi hijau dunia.

Menurut Aryo, Indonesia sudah saatnya mulai menguasai teknologi hilirisasi berbasis timah secara penuh, termasuk pembuatan solder untuk industri semikonduktor. Sektor ini membutuhkan formula alloy dengan spesifikasi khusus yang sangat ketat agar bisa bersaing di pasar internasional.

Kapasitas riset di dalam negeri harus terus diperkuat agar inovasi dan nilai tambah dari sumber daya alam tetap dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Aryo menegaskan bahwa ketergantungan terhadap teknologi dari pasar luar negeri harus segera dikurangi melalui penguatan ekosistem penelitian domestik.

“Kita harus mampu menguasainya sendiri. Teknologi ini harus dimiliki oleh Indonesia, diteliti di Indonesia, dan diproduksi secara lokal di Indonesia,” tegas Aryo. Baginya, kedaulatan industri hanya bisa dicapai jika proses intelektual dan produksinya dilakukan di dalam negeri.

Untuk mempercepat realisasi pusat riset ini, PT Arsari Tambang menyatakan sangat terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Aryo membuka peluang kerja sama dengan kalangan akademisi, perusahaan swasta lain, hingga perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor timah.

Ia meyakini bahwa sinergi dengan para pemain lama di industri timah adalah kunci untuk membangun ekosistem penelitian mineral nasional yang solid. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan terobosan baru dalam efisiensi pengolahan dan peningkatan mutu produk mineral.

Strategi masa depan industri pertambangan menurut Aryo kini harus beralih dari sekadar ekstraksi atau pengerukan sumber daya alam. Fokus utama perusahaan sekarang adalah menciptakan nilai tambah yang signifikan melalui program industrialisasi yang terintegrasi.

Oleh karena itu, industrialisasi menjadi prioritas utama PT Arsari Tambang agar posisi perusahaan tidak hanya sekadar menjadi pemasok bahan mentah bagi pasar global. Langkah ini juga selaras dengan visi pemerintah untuk mendorong hilirisasi di berbagai sektor pertambangan Indonesia.

Berikut adalah ringkasan unit bisnis dan target produk hilir yang dikembangkan oleh grup perusahaan milik adik Presiden Prabowo Subianto ini:

Entitas Perusahaan Lokasi Operasional Fokus Produk Hilirisasi
PT Arsari Tambang Bangka Pusat Riset Timah dan Logam Tanah Jarang (REE)
PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania) Batam, Kepulauan Riau Produksi Solder Bar dan Solder Paste
Unit Pengolahan Kimia Rencana Masa Depan Tin Chemical dan Produk Turunan Timah Lainnya

Data tersebut menggambarkan keseriusan grup Arsari dalam menggarap rantai pasok industri mineral dari hulu hingga ke hilir. Dengan adanya pabrik di Batam dan pusat riset di Bangka, alur produksi diharapkan menjadi lebih efisien dan kompetitif.

Ke depannya, Aryo menargetkan bahwa pabrik-pabrik milik Arsari Tambang tidak akan berhenti pada produksi solder bar konvensional saja. Perusahaan berambisi untuk masuk ke pasar solder paste yang digunakan dalam industri semikonduktor serta pengembangan tin chemical.

Ekspansi produk ini diharapkan dapat mengisi kebutuhan pasar yang selama ini masih didominasi oleh produk impor. Dengan riset yang kuat, PT Arsari Tambang optimis dapat menghasilkan produk mineral dengan standar kualitas internasional yang mampu bersaing secara global.

Langkah besar yang diambil oleh perusahaan adik Prabowo Subianto ini juga dipandang sebagai katalisator bagi perusahaan tambang lainnya. Investasi di bidang riset dianggap sebagai investasi jangka panjang yang akan menentukan daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.

Kehadiran pusat riset ini diharapkan dapat segera terealisasi untuk mendukung kemajuan industri teknologi tinggi di tanah air. Dengan demikian, kekayaan alam Indonesia dapat dikelola secara optimal melalui sentuhan teknologi buatan anak bangsa sendiri.

Artikel terkait

Rekomendasi