Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mengungkapkan kabar menarik mengenai potensi investasi besar di pasar modal Indonesia. Kabar ini berkaitan dengan minat perusahaan teknologi tingkat dunia untuk masuk ke tanah air dalam waktu dekat.
Danantara menilai bahwa narasi pasar modal global saat ini sangat didominasi oleh perkembangan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Hal ini menjadi faktor pembeda yang sangat kontras antara bursa luar negeri dengan kondisi di dalam negeri.
Minat Raksasa Teknologi Global Terhadap Sektor Energi Indonesia
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, memberikan bocoran mengenai hasil kunjungannya ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Ia menyebut ada empat perusahaan teknologi raksasa dunia yang telah menyatakan ketertarikan mereka untuk menanamkan modal di Indonesia.
Pandu menjelaskan bahwa fokus utama dari para raksasa teknologi ini bukan sekadar investasi biasa, melainkan untuk mengincar sektor energi. Ketertarikan tersebut disampaikan langsung saat dirinya bertemu dengan jajaran pimpinan perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia tersebut.
Pernyataan Pandu Sjahrir mengenai minat investor teknologi global:
- Pertemuan tersebut melibatkan empat perusahaan teknologi dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia yang sangat berpengaruh.
- Fokus utama para raksasa global ini di Indonesia adalah untuk mencari ketersediaan dan dukungan sumber energi yang memadai.
- Keinginan tersebut didorong oleh kebutuhan mendesak akan infrastruktur energi guna mendukung operasional teknologi masa depan.
Pandu menegaskan hal ini saat ditemui di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 11 Mei 2026. Ia menggarisbawahi bahwa kebutuhan energi menjadi kunci utama bagi masuknya pemain besar teknologi ke pasar domestik.
AI Sebagai Penggerak Pasar Modal di Negara Tetangga
Dalam pandangan Danantara, pasar modal Indonesia saat ini dinilai belum optimal dalam memaksimalkan potensi besar dari sektor AI. Hal ini terlihat dari komposisi fundamental pasar modal nasional yang masih sangat didominasi oleh industri konvensional.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan bursa di Taiwan dan Korea Selatan yang berhasil melonjak signifikan berkat tren teknologi canggih. Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru tercatat mengalami koreksi hingga dua digit sejak awal tahun.
Pandu berpendapat bahwa pertumbuhan AI seharusnya dibarengi dengan perkembangan basis energi yang mampu mendukung teknologi tersebut secara berkelanjutan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada emiten di bursa lokal yang benar-benar mengikuti atau memanfaatkan tren AI ini.
Mengenai kekhawatiran pasar terhadap penyesuaian indeks MSCI yang dianggap memicu pelemahan IHSG, Pandu merasa dampak tersebut sebenarnya sudah relatif melunak. Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi pasar modal Indonesia saat ini adalah masalah kreativitas dalam membangun narasi pertumbuhan.
Perbandingan Strategi Investasi dengan India dan Taiwan
Pandu memberikan perbandingan menarik mengenai bagaimana negara lain berhasil menggaet investor melalui sektor energi yang terhubung dengan AI. Sebagai contoh, India mampu membangun proyek pembangkit listrik dengan kapasitas mencapai 30 gigawatt (GW) khusus untuk mendukung ekosistem AI.
Hal ini sangat mengesankan mengingat peringkat kredit (credit rating) India sebenarnya masih berada di bawah Indonesia saat ini. Namun, keberanian mereka dalam membangun infrastruktur pendukung AI memberikan nilai tambah yang luar biasa di mata investor global.
Fakta perbandingan pasar modal antara Indonesia dengan negara lain di Asia:
| Aspek Perbandingan | Kondisi di Indonesia | Kondisi di Negara Lain (Taiwan/India) |
|---|---|---|
| Dominasi Sektor | Masih didominasi perbankan besar (big banks) dan industri tradisional. | Didominasi oleh sektor teknologi tinggi dan semikonduktor seperti TSMC. |
| Kapasitas Energi AI | Belum memiliki proyek energi masif yang khusus dialokasikan untuk pusat data AI. | India sudah membangun pembangkit listrik 30 GW demi mendukung perkembangan AI. |
| Kapitalisasi Pasar | Masih terbatas pada sektor fundamental konvensional tanpa cerita pertumbuhan AI. | Market cap TSMC di Taiwan bahkan lebih besar dari total pasar seluruh negara ASEAN. |
Tabel di atas menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi oleh emiten lokal agar tetap kompetitif di pasar global. Indonesia perlu belajar dari kesuksesan negara tetangga dalam mengintegrasikan sektor energi dengan kebutuhan teknologi modern.
Peluang Emiten Energi Nasional yang Belum Tergarap
Lebih lanjut, Danantara melihat bahwa banyak emiten energi di Indonesia yang belum memanfaatkan narasi pertumbuhan AI secara maksimal. Padahal, strategi ini terbukti ampuh dalam mendongkrak harga saham emiten energi di pasar global secara signifikan.
Pandu mengaku telah menjalin komunikasi dengan beberapa pemilik perusahaan energi besar di Indonesia mengenai peluang emas ini. Ia mendorong para pengusaha tersebut untuk mulai mencari pembeli siaga (off-taker) dari industri pusat data atau data center.
Dengan memiliki kemitraan bersama pusat data, perusahaan energi dapat membangun narasi kuat sebagai penyedia "energi untuk AI". Pandu menambahkan bahwa di negara seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan, cerita semacam ini mampu menaikkan harga saham hingga 5-6 kali lipat.
Meskipun saran ini telah disampaikan kepada beberapa pemain besar di sektor energi, ia menyayangkan karena strategi tersebut belum dijalankan sepenuhnya. Hal ini menjadi catatan penting bagi pelaku pasar untuk lebih jeli melihat peluang kolaborasi antara sektor energi dan teknologi masa depan.
Ke depannya, Danantara berharap agar pasar modal Indonesia tidak hanya mengandalkan sektor perbankan besar semata. Diperlukan transformasi nyata dari emiten energi untuk mulai masuk ke dalam ekosistem AI demi menarik minat investor raksasa dunia yang tengah mengincar Indonesia.