Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyampaikan pandangan strategis mengenai kedaulatan negara. Ia menekankan bahwa Indonesia harus memiliki kekuatan militer yang tangguh untuk menghadapi dinamika ancaman global saat ini.
Yusril menjelaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat pertahanan nasional demi menghadapi risiko geopolitik yang terus meningkat. Langkah konkret yang diambil adalah melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
Selain memperkuat sektor militer, pemerintah juga tetap konsisten menjalankan prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Kombinasi antara kekuatan militer dan jalur diplomasi dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga kedaulatan Indonesia di mata dunia.
Pilar Penting Ketahanan Nasional
Dalam pemaparannya, Yusril menyebutkan bahwa kekuatan internal merupakan fondasi utama bagi keutuhan sebuah negara. Ia menguraikan empat pilar strategis yang wajib diperkuat oleh pemerintah Indonesia untuk menjamin stabilitas nasional secara menyeluruh.
Empat komponen utama ketahanan nasional tersebut meliputi:
- Ketahanan di bidang pangan untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat.
- Ketahanan di sektor energi demi mendukung aktivitas industri dan domestik.
- Stabilitas sosial dan politik guna menjaga persatuan bangsa.
- Sistem pertahanan militer yang kuat dan modern sebagai pelindung kedaulatan.
Pilar-pilar tersebut disampaikan Yusril saat memberikan kuliah umum di Universitas Negeri Surabaya pada Selasa, 19 Mei 2026. Ia menilai bahwa tanpa kekuatan yang nyata, sebuah negara akan sangat mudah ditekan oleh kepentingan pihak asing.
Menurut Yusril, pembangunan kekuatan militer bertujuan agar posisi tawar Indonesia semakin diperhitungkan di kancah internasional. Ia menyebut upaya pembaruan militer ini sebenarnya sudah mulai dipacu sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh membiarkan dirinya dalam posisi yang lemah sehingga mudah digertak oleh negara lain. Keberadaan militer yang kuat menjadi instrumen penting agar negara memiliki wibawa dalam setiap perundingan global.
Refleksi Sejarah Kekuatan Militer Indonesia
Yusril kemudian mengajak peserta kuliah umum untuk menengok kembali sejarah kejayaan pertahanan Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pada era tersebut, Indonesia memiliki armada militer yang sangat disegani, terutama di wilayah Asia.
Presiden Soekarno kala itu sangat fokus pada pembangunan kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara yang masif. Hal ini membuat posisi Indonesia sangat diperhitungkan oleh negara-negara tetangga maupun kekuatan besar dunia lainnya.
Namun, arah pembangunan militer ini mengalami pergeseran signifikan saat memasuki masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada era Orde Baru, doktrin militer lebih banyak diarahkan untuk menangani ancaman yang muncul dari dalam negeri.
Perubahan fokus tersebut dipengaruhi oleh kondisi politik global serta kepentingan stabilitas internal pada waktu itu. Yusril mencatat bahwa hal ini berdampak pada pertumbuhan kekuatan militer yang tidak merata di antara tiga matra.
Kondisi tersebut menyebabkan Angkatan Darat menjadi sangat dominan, sementara perkembangan Angkatan Laut dan Angkatan Udara cenderung tertinggal. Ketimpangan ini akhirnya memengaruhi postur pertahanan Indonesia secara keseluruhan dalam jangka panjang.
Yusril juga berbagi kisah pribadinya saat masih menjadi mahasiswa ketika dirinya sempat mendapatkan teguran keras dari Laksamana Sudomo. Saat itu, Sudomo menjabat sebagai Pangkopkamtib dan menuduh Yusril sebagai bagian dari kelompok ekstrem kanan.
Tuduhan tersebut muncul karena Yusril dianggap memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh dari organisasi Masyumi. Ia menceritakan momen ini untuk menggambarkan betapa kuatnya pengaruh situasi politik terhadap dinamika pertahanan pada masa lalu.
Ancaman Geopolitik dan Keterbatasan Amunisi
Posisi geografis Indonesia yang sangat strategis serta kekayaan sumber daya alamnya menjadikan negara ini sebagai magnet bagi kepentingan global. Namun, di sisi lain, kondisi ini membuat Indonesia rentan menjadi sasaran eksploitasi oleh negara-negara adidaya.
Negara besar umumnya berupaya mengamankan cadangan energi dan mineral yang banyak tersedia di wilayah negara berkembang. Yusril mencontohkan bahwa mineral penting melimpah di Greenland, namun akses ke sana sulit karena dipagari oleh kekuatan NATO.
Ia juga menyoroti keberadaan pangkalan militer asing yang lokasinya terhitung sangat dekat dengan perbatasan wilayah Indonesia. Salah satunya adalah pangkalan militer di Guam yang hanya berjarak tempuh sekitar enam jam dari wilayah Papua.
Yusril memberikan peringatan keras mengenai kapasitas bertahan militer Indonesia jika terjadi konflik bersenjata dalam skala besar. Ia mengungkapkan data yang cukup mengejutkan mengenai ketahanan amunisi nasional saat ini jika peperangan benar-benar terjadi.
Berikut adalah ringkasan tantangan pertahanan yang dihadapi Indonesia:
| Aspek Pertahanan | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Durasi Ketahanan Perang | Diperkirakan hanya mampu bertahan selama empat hari. |
| Kendala Logistik | Risiko kehabisan amunisi dalam waktu singkat yang memicu penyerahan diri. |
| Ancaman Eksternal | Kedekatan pangkalan militer asing dengan wilayah kedaulatan NKRI. |
| Sumber Daya Alam | Menjadi target utama negara adidaya untuk mengamankan energi dan mineral. |
Informasi tersebut menunjukkan bahwa penguatan sektor pertahanan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan yang mendesak. Tanpa kesiapan logistik dan persenjataan yang memadai, kedaulatan negara berada dalam risiko yang cukup serius.
Meskipun kekuatan fisik militer sangat krusial, Yusril mengingatkan bahwa diplomasi tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa. Pemerintah dituntut untuk selalu mengedepankan kepentingan nasional dalam setiap langkah politik luar negeri.
Oleh karena itu, prinsip politik bebas-aktif harus dijalankan secara cerdas agar Indonesia tetap berdaulat secara ekonomi maupun politik. Sinergi antara diplomasi yang kuat dan militer yang tangguh akan menjadi perisai utama bagi masa depan Indonesia.