Terungkap! Alasan Pertamina Tak Naikkan Harga Pertamax Saat Minyak Dunia Naik

Terungkap! Alasan Pertamina Tak Naikkan Harga Pertamax Saat Minyak Dunia Naik
Foto: Ilustrasi Terungkap! Alasan Pertamina Tak Naikkan Harga Pertamax Saat Minyak Dunia Naik.
Ukuran teks

PT Pertamina (Persero) secara resmi menjelaskan alasan di balik keputusan perusahaan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) di tengah situasi pasar energi global. Meskipun harga minyak mentah dunia dan produk BBM di level internasional mengalami lonjakan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir, Pertamina tetap mempertahankan harga jual di level Rp12.300 per liter.

Keputusan strategis ini diambil dengan pertimbangan utama untuk menjaga daya beli masyarakat Indonesia serta memastikan stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga dengan baik. Hingga memasuki bulan Mei 2026, harga jual Pertamax tersebut dilaporkan tidak mengalami perubahan atau kenaikan sejak penyesuaian terakhir yang dilakukan pada tanggal 1 April 2026 yang lalu.

Komitmen Menjaga Stabilitas Ekonomi

Roberth MV Dumatubun selaku Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam memberikan perlindungan terhadap kondisi ekonomi para konsumen. Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menyusun skema subsidi energi secara cermat berdasarkan hasil kajian mendalam terhadap pola konsumsi masyarakat luas di berbagai wilayah.

Fokus utama pemberian subsidi saat ini memang dialokasikan pada Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) seperti Pertalite karena komoditas tersebut merupakan bahan bakar dengan volume konsumsi terbesar bagi publik. Roberth menekankan bahwa efektivitas subsidi energi tidak hanya berfungsi untuk menekan harga di tingkat pengecer, tetapi juga menjadi instrumen krusial dalam menggerakkan roda perekonomian nasional.

Menurut pemaparannya kepada Bisnis pada Minggu (10/5/2026), kebijakan subsidi ditujukan untuk menciptakan ketahanan nasional dengan cara melindungi kemampuan belanja masyarakat dari dampak volatilitas harga global. Dengan harga energi yang terkendali, diharapkan aktivitas ekonomi warga tetap produktif dan tidak terganggu oleh beban biaya transportasi yang melonjak secara mendadak.

Pertamax dan Mekanisme Harga Pasar

Secara teoretis, Pertamax merupakan kategori bahan bakar minyak umum nonsubsidi yang penetapan harganya seharusnya mengikuti fluktuasi mekanisme harga pasar atau nilai keekonomian yang berlaku saat ini. Namun, dalam implementasinya, pemerintah tetap mengambil peran aktif untuk memastikan harga Pertamax tidak mengalami kenaikan yang drastis pada periode penyesuaian harga di bulan April 2026.

Koordinasi intensif antara pihak pemerintah dan Pertamina terus dilakukan untuk menimbang segala aspek, terutama dampaknya terhadap kondisi ekonomi riil di tingkat akar rumput. Roberth menuturkan bahwa stabilitas dalam negeri menjadi prioritas utama sehingga koordinasi dilakukan agar tidak terjadi penyesuaian harga per 1 April 2026 demi menjaga situasi tetap kondusif.

Langkah ini sangat penting mengingat Pertamax banyak digunakan oleh kelompok masyarakat kelas menengah yang memiliki kontribusi besar terhadap perputaran ekonomi di sektor jasa dan perdagangan. Jika harga Pertamax dilepas sepenuhnya ke harga pasar saat terjadi gejolak global, dikhawatirkan akan terjadi migrasi besar-besaran konsumen ke BBM subsidi yang dapat membebani anggaran negara.

Daftar Harga BBM Pertamina per Mei 2026

Jenis Produk BBM Harga per Liter Status Subsidi
Pertalite (RON 90) Harga Subsidi Pemerintah Disubsidi (JBKP)
Pertamax (RON 92) Rp12.300 Nonsubsidi (Ditahan)
Pertamax Turbo Rp19.400 Nonsubsidi
Dexlite Rp26.000 Nonsubsidi

Sebagai informasi tambahan, meskipun harga Pertamax tetap stabil, Pertamina telah melakukan penyesuaian harga untuk tiga jenis produk nonsubsidi lainnya yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sejak 18 April 2026. Penyesuaian harga pada produk-produk high-end tersebut dilakukan sebagai respons terhadap dinamika pasar minyak dunia yang mengalami kenaikan ongkos produksi dan distribusi internasional.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa perbedaan perlakuan harga antara Pertalite dan Pertamax merupakan bagian dari strategi manajemen subsidi agar bantuan tepat sasaran kepada masyarakat yang paling membutuhkan. Pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah di bursa global guna menentukan kebijakan energi nasional yang paling tepat dalam menghadapi krisis energi yang sedang berlangsung.

M Ryan Hidayatullah melaporkan untuk Bisnis.com bahwa situasi di lapangan menunjukkan aktivitas pengisian BBM di berbagai SPBU di Jakarta tetap berjalan normal tanpa adanya antrean yang berlebihan. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan bijak dalam mengonsumsi bahan bakar sesuai dengan spesifikasi kendaraan yang dimiliki untuk menjaga performa mesin dan kualitas lingkungan.

Artikel terkait

Rekomendasi