Hasil riset terbaru dari Indikator Politik Indonesia mengungkapkan bahwa masyarakat kini semakin terbebani oleh tingginya harga kebutuhan pokok. Berdasarkan survei yang dilakukan pada April 2026, lebih dari separuh responden merasa harga pangan saat ini jauh lebih sulit dijangkau dibandingkan tahun sebelumnya.
Data survei tersebut mencatat sebanyak 54,6 persen masyarakat mengeluhkan kondisi ekonomi rumah tangga mereka yang kian terhimpit. Angka ini mencakup 16,2 persen responden yang merasa harga sangat mahal dan 38,4 persen lainnya menyatakan harga lebih tidak terjangkau.
Di sisi lain, terdapat sekitar 31,7 persen responden yang berpendapat bahwa tidak ada perubahan signifikan pada harga barang pokok. Mereka menilai kondisi ekonomi terkait harga belanjaan masih berada pada level yang sama dengan periode sebelumnya.
Hanya sebagian kecil masyarakat yang merasa harga kebutuhan pokok saat ini justru lebih mudah dijangkau oleh kantong mereka. Kelompok ini hanya berjumlah 12,8 persen, yang terdiri dari 11,4 persen merasa lebih terjangkau dan 1,4 persen merasa jauh lebih terjangkau.
Peringatan bagi Pemerintahan Mendatang
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, memberikan peringatan keras kepada pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa persoalan daya beli masyarakat ini merupakan isu krusial yang harus segera mendapatkan solusi nyata.
Burhanuddin menjelaskan bahwa persepsi publik terhadap keterjangkauan harga kebutuhan pokok terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Jika masalah ini dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan tepat, ia mengkhawatirkan dampaknya akan menjadi bom waktu bagi stabilitas nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Burhanuddin dalam agenda Economic Forum 2026 yang berlangsung di Hotel Kempinski, Jakarta, pada Selasa (19/5/2026). Ia menyebut situasi ini dipicu oleh dua faktor utama yang terjadi secara bersamaan di tengah masyarakat.
Faktor penyebab kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat:
- Kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok yang terus merangkak naik di pasaran secara signifikan.
- Penurunan pendapatan riil rumah tangga yang membuat daya beli masyarakat semakin melemah dibandingkan periode lalu.
Sekitar 40 persen dari total responden yang mengeluhkan kenaikan harga sembako mengakui bahwa mereka terjepit oleh kombinasi kedua faktor tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa beban ekonomi masyarakat tidak hanya datang dari harga pasar, tetapi juga dari kondisi finansial pribadi yang memburuk.
Ekonomi sebagai Penentu Stabilitas Politik
Temuan survei ini juga memotret pergeseran fokus perhatian masyarakat yang kini lebih memprioritaskan isu ekonomi ketimbang dinamika politik. Kondisi ini mencerminkan bahwa stabilitas politik nasional sangat bergantung pada kenyamanan ekonomi yang dirasakan warga sehari-hari.
Burhanuddin mengungkapkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, tingkat kepuasan publik terhadap kondisi ekonomi nasional mulai menunjukkan tren penurunan. Pemerintah perlu memahami bahwa persepsi politik masyarakat sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka alami di sektor ekonomi.
Ringkasan perbandingan persepsi masyarakat terhadap harga kebutuhan pokok:
| Kategori Persepsi Masyarakat | Persentase (%) |
|---|---|
| Harga Lebih Tidak Terjangkau (Gabungan) | 54,6% |
| Kondisi Tetap/Tidak Ada Perubahan | 31,7% |
| Harga Lebih Terjangkau (Gabungan) | 12,8% |
Data di atas memperlihatkan dominasi kekhawatiran publik terhadap lonjakan harga yang tidak sebanding dengan pendapatan mereka. Situasi ini menuntut langkah strategis dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara merata.
Burhanuddin menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa isu ekonomi jauh lebih penting bagi publik dibandingkan isu politik saat ini. Kegagalan dalam menangani urusan perut rakyat dapat menggerus tren positif stabilitas politik yang selama ini telah dibangun oleh pemerintah.