Memiliki hunian pribadi, membangun rumah tangga, hingga menempuh pendidikan tinggi dulunya dipandang sebagai pencapaian standar bagi mereka yang memasuki usia produktif. Namun, bagi anak muda zaman sekarang, target-target tersebut tampak semakin sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat.
Kenaikan biaya hidup yang drastis serta harga properti yang terus melambung membuat banyak generasi muda merasa terdesak oleh kondisi ekonomi. Akibat tekanan finansial yang berkepanjangan ini, mereka cenderung memilih untuk menunda berbagai rencana besar demi menjaga stabilitas keuangan.
Munculnya Fenomena Generasi Nanti Dulu
Laporan survei bertajuk 2026 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis oleh Deloitte mengungkap fakta menarik mengenai pandangan hidup generasi masa kini. Tekanan ekonomi menjadi faktor penentu utama yang mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan dan masa depan.
Berdasarkan riset yang melibatkan lebih dari 22.500 responden di 44 negara, isu biaya hidup tetap menjadi kekhawatiran nomor satu selama lima tahun terakhir. Masalah ini bahkan dianggap lebih mendesak dibandingkan isu pengangguran, situasi politik, keamanan, hingga kelestarian lingkungan.
Sekitar 38 persen responden dari kalangan Gen Z dan 42 persen milenial sepakat bahwa beban pengeluaran harian adalah tantangan terberat saat ini. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan istilah "maybe later generation" atau generasi yang serba menunda.
Meskipun mereka tetap aktif bekerja dan memiliki ambisi besar, banyak keputusan penting dalam hidup terpaksa dihentikan sementara. Keputusan-keputusan tersebut mencakup aspek personal maupun profesional yang krusial.
Beberapa keputusan besar yang paling sering ditunda oleh generasi muda meliputi:
- Membangun ikatan pernikahan atau hubungan yang lebih serius.
- Keinginan untuk memiliki anak atau menambah anggota keluarga.
- Rencana memulai usaha mandiri atau membangun bisnis baru.
- Melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk pengembangan diri.
Data menunjukkan 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial secara sadar mengerem keputusan hidup mereka karena keterbatasan dana. Salah satu responden milenial bernama Khalil menyebutkan bahwa kenaikan harga barang yang tidak sebanding dengan pertumbuhan gaji telah merusak daya beli mereka.
Tantangan Memiliki Hunian yang Semakin Berat
Persoalan finansial ini tidak hanya menyentuh aspek konsumsi harian, tetapi juga kebutuhan paling mendasar yaitu tempat tinggal. Mayoritas anak muda kini merasa harga properti sudah berada di luar jangkauan kemampuan finansial mereka.
Harga hunian yang kian mahal terbukti memengaruhi pilihan karier dan lokasi kerja banyak orang. Sebanyak 69 persen Gen Z dan 64 persen milenial mengaku faktor keterjangkauan rumah menjadi pertimbangan utama saat mereka memilih tempat bekerja.
Kondisi kepemilikan rumah di mata generasi muda dapat diringkas sebagai berikut:
| Kategori Generasi | Merasa Tidak Mampu Membeli Rumah | Pilihan Karier Dipengaruhi Harga Hunian |
|---|---|---|
| Gen Z | 51 Persen | 69 Persen |
| Milenial | 40 Persen | 64 Persen |
Tabel di atas menunjukkan bahwa lebih dari separuh Gen Z merasa pesimis untuk bisa memiliki rumah sendiri dalam waktu dekat. Hal ini mencerminkan adanya hambatan yang nyata bagi mereka untuk mencapai kemandirian finansial sepenuhnya.
Seorang responden Gen Z bernama Rukaya menceritakan bahwa meski penghasilannya meningkat, daya belinya tetap menyusut jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia merasa membeli rumah saat ini mustahil karena tingginya suku bunga, padahal ia dan pasangannya memiliki pendapatan yang cukup besar.
Pandangan serupa diungkapkan oleh Mel, seorang milenial yang merasa harga rumah di lingkungan yang aman sudah hampir tidak terjangkau lagi. Fenomena ini mempertegas bahwa bagi generasi muda, menunda bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk adaptasi di tengah realitas ekonomi yang menantang.