Studi Terbaru: Lobster Terbukti Rasakan Sakit Luar Biasa Saat Direbus Hidup-hidup, Ini Saran Ilmuwan 2026

Studi Terbaru: Lobster Terbukti Rasakan Sakit Luar Biasa Saat Direbus Hidup-hidup, Ini Saran Ilmuwan 2026
Foto: Studi Terbaru: Lobster Terbukti Rasakan Sakit Luar Biasa Saat Direbus Hidup-hidup, Ini Saran Ilmuwan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Praktik memasak lobster dengan cara merebusnya hidup-hidup mungkin sudah dianggap sebagai hal yang lazim bagi banyak orang. Namun, penelitian terbaru memberikan pandangan yang mengejutkan mengenai prosedur pengolahan makanan tersebut.

Studi ilmiah menunjukkan bahwa kelompok krustasea seperti lobster dan kepiting ternyata mampu merasakan sensasi sakit saat mengalami trauma fisik. Temuan ini menantang anggapan lama yang menyebut bahwa hewan laut berkulit keras tidak memiliki kepekaan rasa nyeri.

Bukti Sensivitas Nyeri pada Hewan Laut

Bukan hanya lobster, hewan invertebrata lain seperti gurita dan kepiting juga menunjukkan perilaku yang mengindikasikan rasa sakit. Kepiting diketahui akan segera meninggalkan tempat persembunyiannya jika terkena rangsangan yang menyakitkan, seperti sengatan listrik.

Begitu pula dengan gurita yang cenderung menghindari area atau lokasi yang pernah membuat tubuh mereka terluka. Hal ini membuktikan bahwa sistem saraf mereka mampu mengenali dan mengingat rasa tidak nyaman sebagai bentuk pertahanan diri.

Beberapa negara telah menerapkan aturan ketat terkait penanganan hewan laut ini:

  • Inggris: Menetapkan Undang-Undang Kesejahteraan Hewan sejak 2022 yang mengakui krustasea sebagai makhluk yang bisa merasakan sakit.
  • Selandia Baru: Mewajibkan pelaku usaha untuk membuat udang karang dan lobster tidak sadar sebelum diproses atau dijual.
  • California (AS): Melarang secara tegas aktivitas budidaya gurita karena dianggap sebagai bentuk penyiksaan hewan.

Regulasi internasional ini mulai berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran publik mengenai etika perlakuan terhadap hewan laut. Langkah ini diambil untuk memastikan proses pengolahan makanan tetap memperhatikan aspek kesejahteraan hewan.

Mekanisme Rasa Sakit pada Lobster

Secara biologis, lobster memiliki saraf nosiseptor yang berfungsi mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Saat merasa terancam atau kesakitan, lobster akan melakukan gerakan khas yaitu mengibaskan ekornya sebagai upaya untuk melarikan diri.

Respons ini dinilai identik dengan reaksi manusia saat mengalami cedera pada bagian tubuh tertentu. Menariknya, penelitian menemukan bahwa rasa sakit yang dialami lobster bisa diredam menggunakan obat pereda nyeri yang biasa digunakan manusia.

Berikut adalah ringkasan hasil uji coba pengaruh obat pereda nyeri terhadap lobster:

Kelompok Uji Metode Perlakuan Hasil Pengamatan
Tanpa Obat Sengatan listrik tanpa pereda nyeri. Seluruh lobster langsung mengibaskan ekor.
Aspirin Suntikan aspirin sebelum sengatan listrik. Hanya 3 dari 13 lobster yang bereaksi.
Lidokain Larutan lidokain di dalam tangki air. Hanya 7 dari 13 lobster yang bereaksi.

Data dari penelitian yang terbit di jurnal Scientific Reports pada April 2026 ini memperkuat bukti adanya sistem saraf yang kompleks pada lobster. Pemberian aspirin dan lidokain terbukti efektif menekan reaksi fisik lobster terhadap kejutan listrik.

Pentingnya Perlakuan yang Etis

Lynne Sneddon, profesor zoofisiologi dari Universitas Gothenburg, menjelaskan bahwa kesamaan respons terhadap obat pereda nyeri menunjukkan kemiripan biologis antara manusia dan lobster. Fakta ini seharusnya mengubah cara pandang masyarakat dalam memperlakukan hewan krustasea.

Ia menekankan pentingnya menerapkan standar kesejahteraan yang sama seperti yang diberlakukan pada hewan ternak seperti ayam atau sapi. Meminimalisir rasa sakit saat proses penyembelihan atau pemasakan menjadi poin utama yang disarankan oleh para ilmuwan.

Kesadaran ini diharapkan dapat mendorong industri kuliner untuk beralih ke metode yang lebih manusiawi. Dengan begitu, penyajian hidangan laut tidak lagi harus melibatkan penderitaan fisik bagi hewan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi