Riset UGM Mengejutkan: Karyawan BUMN Workaholic Justru Lebih Bahagia di 2026

Riset UGM Mengejutkan: Karyawan BUMN Workaholic Justru Lebih Bahagia di 2026
Foto: Riset UGM Mengejutkan: Karyawan BUMN Workaholic Justru Lebih Bahagia di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Bekerja hingga larut malam atau terus-menerus memikirkan beban pekerjaan biasanya identik dengan risiko stres dan kelelahan mental atau burnout. Namun, sebuah riset terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) justru mengungkapkan temuan yang mengejutkan mengenai fenomena tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM ini menemukan bahwa karyawan yang memiliki kecenderungan gila kerja atau workaholic ternyata bisa merasa lebih bahagia. Kondisi ini ditemukan pada ratusan karyawan yang bekerja di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Faktor Pendorong Kebahagiaan bagi Workaholic

Hasil studi menunjukkan bahwa bekerja keras secara berlebihan tidak selalu berujung pada dampak negatif bagi kesehatan mental karyawan. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana individu tersebut memandang pekerjaannya serta dukungan dari lingkungan sekitar.

Beberapa kondisi utama yang membuat seorang workaholic tetap merasa bahagia di tempat kerja antara lain:

  • Rasa Berkembang: Karyawan merasa terus belajar dan mendapatkan keahlian baru saat menjalankan tugasnya yang berat.
  • Produktivitas Tinggi: Adanya perasaan puas ketika berhasil menyelesaikan target yang menantang dan memberikan kontribusi nyata.
  • Dukungan Pemimpin: Keberadaan atasan yang mampu merangkul dan menghargai dedikasi karyawan secara personal.
  • Makna Kerja: Dalam budaya Indonesia, kerja keras sering kali dianggap sebagai bentuk loyalitas dan nilai moral yang membanggakan.

Penjelasan di atas menggambarkan bahwa kerja keras bisa menjadi sumber kebahagiaan selama karyawan merasa mengalami thriving at work atau tumbuh secara profesional. Hal ini mematahkan anggapan bahwa semua workaholic pasti menderita karena beban kerjanya.

Peran Vital Kepemimpinan Inklusif

Profesor Reni Rosari, Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM yang memimpin riset ini, menekankan pentingnya peran pemimpin dalam menciptakan ekosistem kerja yang sehat. Ia menyebut konsep kepemimpinan inklusif atau inclusive leadership sebagai kunci utama.

Pemimpin yang inklusif tidak hanya fokus pada pencapaian angka dan target perusahaan semata. Mereka juga memastikan setiap anggota tim merasa didengar, dihargai, dan diberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan potensi diri.

Berikut adalah ringkasan perbedaan antara kepemimpinan biasa dengan kepemimpinan inklusif menurut studi tersebut:

Aspek Penilaian Kepemimpinan Konvensional Kepemimpinan Inklusif
Fokus Utama Pencapaian target dan hasil akhir saja. Keseimbangan antara target dan pertumbuhan manusia.
Komunikasi Cenderung searah atau instruktif. Terbuka, menghargai pendapat, dan mendengar.
Lingkungan Kerja Persaingan ketat dan kaku. Suportif, adil, dan memberikan ruang tumbuh.

Tabel tersebut menunjukkan bahwa pemimpin inklusif memanusiakan proses dalam mencapai hasil. Ketika karyawan merasa dihargai secara manusiawi, kerja keras yang mereka lakukan tidak lagi terasa sebagai beban berat melainkan sebuah dedikasi yang memuaskan.

Budaya Kerja di Lingkungan BUMN

Riset ini juga menyoroti keunikan budaya kerja di Indonesia, khususnya pada instansi BUMN yang memiliki struktur organisasi cenderung hierarkis. Di lingkungan seperti ini, kerja keras sering kali dipandang sebagai cerminan integritas dan nilai moral yang tinggi bagi seorang karyawan.

Oleh karena itu, peningkatan kebahagiaan di kantor tidak cukup hanya dengan memberikan fasilitas mewah atau insentif materi saja. Hubungan yang harmonis dan sehat antara atasan dan bawahan jauh lebih krusial dalam menjaga semangat kerja karyawan tetap terjaga.

Sebagai penutup, Profesor Reni menjelaskan bahwa kepemimpinan inklusif mengajarkan sebuah prinsip yang sangat mendalam bagi dunia kerja modern. Ketika setiap individu diberi kesempatan untuk terus bertumbuh, maka kerja keras sekalipun bisa bertransformasi menjadi sumber kebahagiaan yang hakiki.

Artikel terkait

Rekomendasi