Suryopratomo resmi menjabat sebagai Presiden Direktur baru PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL) untuk memimpin perusahaan menghadapi tantangan global. Sosok yang akrab disapa Mas Tom ini langsung menyiapkan strategi khusus guna memitigasi risiko geopolitik dan geoekonomi yang saat ini membayangi dunia usaha.
Keputusan pengangkatan Suryopratomo diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026. Dalam forum tersebut, pemegang saham juga menyepakati perubahan jajaran petinggi lainnya di dalam struktur manajemen perseroan.
Selain menetapkan nakhoda baru, rapat tersebut meresmikan Ris Sutarto dan Sugeng Rahardjo sebagai Komisaris PT Gajah Tunggal Tbk. Sugeng Rahardjo sendiri merupakan pendahulu Suryopratomo yang sebelumnya menduduki kursi Presiden Direktur sebelum akhirnya bergeser ke dewan komisaris.
Suryopratomo mengungkapkan bahwa Gajah Tunggal merupakan entitas bisnis yang memiliki rekam jejak panjang di industri otomotif. Ia menilai perusahaan produsen ban merek GT Radial ini sudah memiliki peta jalan atau rencana jangka panjang yang sangat terukur.
Menurutnya, kekuatan utama perusahaan terletak pada tim internal yang sangat solid dan profesional dalam menjalankan roda bisnis. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk terus mengawal dan menjalankan program-program strategis yang telah dicanangkan sebelumnya.
Fokus utama kepemimpinan Suryopratomo dalam waktu dekat adalah:
- Melanjutkan peta jalan atau rencana jangka panjang yang sudah ditetapkan perusahaan.
- Mengidentifikasi risiko yang muncul akibat dinamika geopolitik global.
- Memitigasi dampak tekanan geoekonomi terhadap rantai pasok dan operasional.
- Menjaga stabilitas performa perusahaan di tengah tantangan pasar yang fluktuatif.
- Memastikan strategi jangka pendek berjalan efektif untuk melewati fase transisi ekonomi.
Suryopratomo menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini memang berbeda dibandingkan periode sebelumnya, terutama karena faktor eksternal global. Ia bersama tim manajemen akan berupaya keras untuk mencari solusi terbaik demi menjaga pertumbuhan berkelanjutan bagi emiten berkode saham GJTL ini.
Profil dan Jejak Karier Suryopratomo
Suryopratomo memiliki latar belakang pendidikan dan karier yang sangat luas, mulai dari dunia akademis hingga diplomasi internasional. Ia merupakan lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1983 dan meraih gelar pascasarjana di kampus yang sama pada 1986.
Dunia jurnalistik menjadi pijakan awal karier profesionalnya saat bergabung dengan Harian Kompas pada tahun 1987. Kariernya melesat hingga dipercaya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Kompas selama periode 2000 hingga 2008.
Kepiawaiannya dalam memimpin media terus berlanjut saat ia menjabat sebagai Wakil CEO Kompas Gramedia Group pada kurun waktu 2005 hingga 2008. Setelah itu, ia memperluas cakrawala profesionalnya ke Media Group dengan posisi strategis di stasiun televisi berita Metro TV.
Di Metro TV, Suryopratomo pernah menjabat sebagai Direktur Pemberitaan pada 2008–2016 hingga akhirnya menjadi Direktur Utama pada 2017–2019. Hingga kini, pengaruhnya di dunia media masih terlihat sebagai anggota Dewan Redaksi Media Group dan Komisaris Metro TV.
Sebelum masuk ke jajaran eksekutif Gajah Tunggal, ia memiliki rekam jejak gemilang sebagai seorang diplomat ulung. Suryopratomo merupakan mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Singapura yang menjabat sejak September 2020 hingga Desember 2025.
Menariknya, transisi kepemimpinan di GJTL ini melibatkan dua sosok yang sama-sama memiliki latar belakang sebagai mantan duta besar. Sugeng Rahardjo yang digantikannya juga merupakan seorang diplomat senior yang pernah bertugas di negara-negara besar.
Sugeng Rahardjo tercatat pernah menjadi Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia pada periode tahun 2014 hingga 2017. Ia juga pernah mengemban tanggung jawab besar sebagai Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri selama periode tahun 2010 sampai 2014.
Pengabdian Sugeng di Gajah Tunggal sebagai Presiden Direktur dimulai sejak tahun 2018 dan berakhir pada tahun 2026 ini. Estafet kepemimpinan kini berada di tangan Suryopratomo yang diharapkan membawa perspektif baru dalam menghadapi dinamika ekonomi dunia.
Kinerja Keuangan Gajah Tunggal (GJTL)
Meskipun kondisi ekonomi global sedang penuh tantangan, Gajah Tunggal tetap menunjukkan resiliensi dalam kinerja keuangannya. Perseroan berhasil menjaga tingkat profitabilitas meski pendapatan mengalami sedikit tekanan akibat kondisi pasar yang berubah.
Berikut adalah ringkasan performa keuangan PT Gajah Tunggal Tbk. dalam dua periode terakhir:
| Indikator Keuangan | Tahun 2024 | Tahun 2025 |
|---|---|---|
| Total Penjualan | Rp18,02 Triliun | Rp17,66 Triliun |
| Laba Bersih | Rp1,18 Triliun | Rp1,24 Triliun |
Data di atas menunjukkan bahwa meskipun penjualan mengalami sedikit penurunan, perusahaan mampu mengefisiensikan beban sehingga laba bersih tetap tumbuh. Hal ini mencerminkan manajemen biaya yang baik di tengah fluktuasi harga bahan baku ban di pasar internasional.
Tren positif ini berlanjut pada laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026 yang menunjukkan kenaikan laba bersih yang signifikan. Emiten yang juga menjadi salah satu koleksi investor kawakan Lo Kheng Hong ini membuktikan kemampuannya dalam mencetak keuntungan.
Pada kuartal I/2026, GJTL membukukan pendapatan sebesar Rp4,19 triliun, sedikit terkoreksi dari angka Rp4,40 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bersih perusahaan justru melesat menjadi Rp381 miliar dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp353 miliar.
Capaian laba bersih yang tumbuh di tengah penurunan pendapatan menandakan adanya perbaikan margin keuntungan perusahaan. Fokus pada mitigasi risiko geopolitik oleh direksi baru diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan positif ini hingga akhir tahun mendatang.
Langkah strategis yang diambil Suryopratomo akan menjadi kunci bagi GJTL dalam menavigasi hambatan dagang dan fluktuasi mata uang. Dengan tim yang solid dan rencana yang matang, Gajah Tunggal optimistis mampu memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri ban tanah air.