Kondisi persediaan minyak dunia saat ini tengah mengalami penyusutan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini dipicu oleh memanasnya konflik di Selat Hormuz yang kini telah memasuki bulan ketiga.
Krisis tersebut berdampak signifikan pada sektor hilir global, terutama di China. Produksi kilang minyak di negara tersebut dilaporkan anjlok hingga mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa krisis ini merupakan ancaman keamanan energi yang sangat serius. Bahkan, ia menilai dampaknya melampaui guncangan pasokan yang terjadi pada tahun 1973, 1979, dan 2022.
Anjloknya Persediaan Minyak Dunia
Berdasarkan laporan terbaru dari IEA, stok minyak mentah global merosot hampir 250 juta barel selama periode Maret hingga April. Penurunan drastis ini setara dengan kehilangan pasokan sekitar 4 juta barel setiap harinya.
Pemerintah di berbagai negara anggota IEA telah berupaya melakukan intervensi untuk menstabilkan pasar. Mereka telah melepas 164 juta barel minyak dari total rencana 400 juta barel cadangan darurat yang disiapkan.
Meskipun langkah intervensi ini tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah IEA, pasar diperkirakan masih akan mengalami defisit. Kondisi kekurangan pasokan ini diproyeksikan bakal terus bertahan hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.
Kondisi Sektor Energi di China
China, sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, menjadi negara yang paling terdampak oleh gangguan distribusi di Selat Hormuz. Lumpuhnya lalu lintas kapal tanker di wilayah tersebut memukul industri pengolahan minyak mereka.
Data dari National Bureau of Statistics of China mengungkapkan bahwa aktivitas pengolahan minyak domestik turun 5,8% secara tahunan. Volume produksi kini hanya mencapai 13,3 juta barel per hari, angka terendah sejak Agustus 2022.
Beberapa faktor utama yang memperburuk kondisi energi di China meliputi:
- Volume impor minyak mentah mengalami penurunan tajam sebesar 20 persen menjadi hanya 9,25 juta barel per hari.
- Pemerintah China mulai membatasi ekspor bahan bakar sejak Maret untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.
- Ekspor produk minyak olahan China merosot hingga 38 persen pada bulan April akibat keterbatasan stok.
Langkah pembatasan ekspor yang diambil pemerintah China dilakukan sebagai upaya perlindungan terhadap ketahanan energi nasional. Namun, hal ini berdampak pada berkurangnya suplai produk minyak olahan di pasar internasional.
Secara keseluruhan, situasi di Selat Hormuz telah menciptakan efek domino yang mengganggu stabilitas ekonomi global. Para pelaku industri kini menantikan langkah strategis selanjutnya untuk meredam krisis energi yang kian meluas ini.