Sektor perikanan tangkap di Papua diprediksi akan kembali mencapai masa kejayaannya melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Langkah ini diharapkan mampu mengukuhkan posisi Papua sebagai lumbung ikan tuna terbesar di wilayah timur Indonesia.
Papua memiliki potensi sumber daya laut yang luar biasa melimpah, namun ada tiga titik strategis yang hingga kini belum tersentuh program nasional. Lokasi tersebut mencakup perairan di Kabupaten Raja Ampat, Teluk Wondama, hingga wilayah Biak Numfor dan Supiori.
Titik Strategis Kebangkitan Ekonomi dan Pertahanan
Robert J. Kardinal, Anggota Komisi IV DPR, menekankan pentingnya menjadikan tiga kawasan di Papua ini sebagai prioritas utama program KNMP. Menurutnya, potensi ikan yang sangat besar dapat menjadi penggerak utama industri perikanan di Indonesia Timur.
Ketiga wilayah tersebut memiliki nilai strategis ganda, yakni sebagai pusat produksi perikanan sekaligus benteng pertahanan di pulau terluar. Hal ini penting mengingat posisi geografisnya yang lebih dekat dengan negara tetangga dibandingkan pusat pemerintahan lokal.
Daftar wilayah strategis yang diusulkan menjadi pusat Kampung Nelayan Merah Putih:
- Kepulauan Ayau (Raja Ampat): Terletak di Papua Barat Daya dengan kekayaan laut yang masih sangat alami.
- Kepulauan Auri (Teluk Wondama): Wilayah di Papua Barat yang dikenal sebagai salah satu habitat terbaik komoditas laut.
- Biak Numfor dan Supiori: Kawasan di utara Papua yang berbatasan langsung dengan perairan internasional.
Pengembangan di wilayah-wilayah tersebut akan memberikan dampak signifikan bagi ekonomi lokal dan keamanan nasional. Fokus utama program ini meliputi peningkatan kapasitas produksi nelayan serta penguatan hilirisasi hasil laut.
Potensi Ekspor dan Masa Lalu yang Gemilang
Kawasan utara Papua dikenal sebagai habitat utama tuna sirip kuning (yellowfin tuna) yang menjadi primadona pasar internasional. Selain tuna, laut Papua juga kaya akan komoditas lain seperti cakalang, kerapu, rumput laut, hingga teripang.
Robert secara spesifik menyoroti Kepulauan Mapia di Kabupaten Supiori yang pernah menjadi pusat industri perikanan besar. Wilayah yang dikenal sebagai Pulau Beras ini memiliki rekam jejak sebagai penghasil tuna raksasa di masa lalu.
Data historis industri perikanan di wilayah Biak Numfor dan sekitarnya:
| Aspek Industri | Keterangan Masa Kejayaan (1999-2003) |
|---|---|
| Pelaku Utama | PT Biak Mina Jaya (Jayanti Group) |
| Fasilitas Laut | 1.000 hingga 1.500 unit rumpon di perairan Papua |
| Dampak Sosial | Mempekerjakan ribuan tenaga kerja asli Papua |
| Jenis Industri | Penangkapan ikan dan pabrik pengalengan skala besar |
Tabel di atas merujuk pada periode emas di mana Biak menjadi kiblat industri perikanan di kawasan timur. Kejayaan tersebut membuktikan bahwa Papua memiliki infrastruktur alam dan sumber daya manusia yang memadai untuk industri skala global.
Melalui KNMP, pemerintah diharapkan dapat menghidupkan kembali ekosistem industri yang sempat redup tersebut. Keberhasilan program ini tidak hanya akan menyejahterakan nelayan, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan dan wilayah di ujung timur Indonesia.