PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) secara resmi mengumumkan rencana aksi korporasi besar melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Langkah strategis ini diambil perseroan untuk mendanai proses akuisisi perusahaan tambang milik PT Petrosea Tbk. (PTRO) dengan nilai transaksi mencapai triliunan rupiah.
Berdasarkan informasi resmi dari keterbukaan informasi perusahaan, SINI berniat menerbitkan sebanyak-banyaknya 721,5 juta saham baru. Setiap saham baru tersebut rencananya akan memiliki nilai nominal sebesar Rp100 per lembar saham.
Dengan estimasi harga pelaksanaan yang dipatok pada angka Rp5.000 per saham, SINI memiliki peluang besar untuk mengantongi dana segar hingga Rp3,6 triliun. Angka yang cukup fantastis ini akan dialokasikan untuk memperkuat ekspansi bisnis serta memperbaiki struktur permodalan perusahaan.
Fokus Penggunaan Dana dan Strategi Akuisisi
Direktur Utama SINI, Amir Antolis, menjelaskan bahwa prioritas utama dari perolehan dana rights issue ini adalah untuk mendukung pengambilan alih PT Karya Mineral Sentosa (KMS). Perusahaan tambang tersebut saat ini masih berada di bawah kepemilikan PT Petrosea Tbk. (PTRO).
Pihak manajemen SINI menyatakan keyakinannya bahwa langkah PMHMETD ini akan memberikan efek positif yang cukup besar bagi kondisi finansial perusahaan secara keseluruhan. Penguatan struktur permodal melalui peningkatan ekuitas menjadi target utama yang ingin dicapai dalam waktu dekat.
Dalam rencana transaksi ini, SINI dijadwalkan akan mengakuisisi sekitar 507,38 juta lembar saham KMS. Jumlah tersebut setara dengan penguasaan kepemilikan sebesar 99,995% saham pada perusahaan tambang yang bersangkutan.
Nilai keseluruhan untuk akuisisi tambang dari PTRO ini dilaporkan mencapai Rp1,73 triliun. Besarnya nilai transaksi tersebut membuat agenda ini dikategorikan sebagai transaksi material bagi perseroan.
Pihak manajemen merinci bahwa nilai transaksi ini setara dengan 110,27% dari total aset yang dimiliki SINI saat ini. Selain itu, transaksi ini juga memiliki sifat afiliasi karena PTRO memiliki keterkaitan dengan salah satu pihak pengendali perseroan.
Walaupun bersifat afiliasi, SINI menegaskan bahwa tidak ada unsur benturan kepentingan dalam rencana transaksi tersebut. Hal ini juga ditegaskan telah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam POJK Nomor 42 Tahun 2020.
Pelunasan Utang Bank dan Penyehatan Finansial
Selain fokus pada akuisisi tambang KMS, dana hasil rights issue tersebut akan dialokasikan untuk keperluan finansial internal lainnya. SINI berencana melakukan percepatan pelunasan utang kepada sejumlah lembaga perbankan sebelum masa jatuh tempo tiba.
Rincian kewajiban perbankan yang direncanakan untuk segera dilunasi perseroan adalah sebagai berikut:
- Fasilitas pinjaman dari BNI senilai Rp300 miliar yang semula akan jatuh tempo pada bulan Agustus 2026.
- Fasilitas pinjaman dari BNI lainnya sebesar Rp300 miliar yang masa jatuh temponya berakhir pada September 2026.
- Kewajiban pinjaman kepada Bank Mandiri dengan nilai Rp300 miliar yang dijadwalkan jatuh tempo pada September 2026.
Melalui pelunasan utang lebih awal ini, SINI mengharapkan adanya efisiensi keuangan yang signifikan bagi perusahaan. Pengurangan beban bunga pinjaman secara otomatis diproyeksikan akan mendongkrak margin laba bersih perseroan ke depannya.
Manajemen juga memproyeksikan bahwa struktur modal perusahaan akan mengalami transformasi yang sangat positif setelah aksi korporasi ini selesai dilakukan. Perubahan posisi keuangan ini terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Tabel di bawah ini menggambarkan proyeksi perubahan posisi keuangan SINI pasca pelaksanaan rights issue:
| Komponen Keuangan | Sebelum Rights Issue | Proyeksi Setelah Rights Issue |
|---|---|---|
| Posisi Ekuitas | Negatif Rp687,41 Miliar | Positif Rp1,53 Triliun |
| Kas & Setara Kas | - | Rp2,32 Triliun |
| Total Aset | - | Rp3,99 Triliun |
Data tersebut menunjukkan bahwa ekuitas perusahaan yang semula berada di zona negatif akan berbalik menjadi surplus triliunan rupiah. Peningkatan kas dan total aset juga diharapkan mampu memperkuat daya saing SINI di industri pertambangan nasional.
Tahapan Persetujuan dan Koordinasi Lanjutan
Untuk melancarkan rencana besar ini, SINI akan segera meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pertemuan penting tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 26 Mei 2026 mendatang.
Setelah mendapatkan lampu hijau dari RUPS, langkah berikutnya adalah menyampaikan pernyataan pendaftaran rights issue secara resmi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Proses ini merupakan syarat mutlak agar aksi korporasi dapat dilaksanakan secara sah.
Di sisi lain, pihak penjual yakni PT Petrosea Tbk. (PTRO) juga tengah mengurus perizinan dari pihak ketiga. Perseroan saat ini masih menunggu surat persetujuan dari sejumlah bank kreditur terkait rencana pelepasan aset KMS tersebut.
Beberapa bank besar yang terlibat dalam koordinasi ini antara lain adalah Bank BCA, BNI, serta Bank Mandiri. SINI memastikan bahwa mereka terus menjalin komunikasi yang intensif dengan PTRO untuk memastikan semua dokumen persyaratan terpenuhi.
Amir Antolis menambahkan bahwa koordinasi ini sangat krusial agar tidak ada kendala saat pendaftaran dilakukan ke OJK. Semua pihak berharap agar transaksi pelepasan saham dan rights issue ini dapat berjalan sesuai dengan linimasa yang telah direncanakan.
Langkah ekspansi SINI ke sektor tambang melalui akuisisi KMS ini dipandang banyak pihak sebagai upaya serius perusahaan untuk memperluas portofolio bisnisnya. Kerja sama strategis antara entitas yang terafiliasi dengan tokoh-tokoh besar seperti Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu ini pun kian menarik perhatian pelaku pasar modal.
Sebagai informasi tambahan bagi para investor, seluruh keputusan investasi harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Berita ini disajikan sebagai informasi publik dan bukan merupakan instruksi untuk melakukan transaksi jual atau beli saham di pasar modal.