Perusahaan minyak raksasa asal Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan tengah menyusun rencana besar untuk menjual sejumlah aset strategisnya. Nilai penjualan ini diperkirakan mencapai USD35 miliar atau setara dengan Rp616 triliun.
Langkah ini mencakup berbagai sektor, mulai dari infrastruktur energi hingga portofolio properti perusahaan. Divestasi ini menjadi yang terbesar dalam sejarah perusahaan demi menjaga stabilitas keuangan di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Strategi Divestasi dan Keseimbangan Modal
Aramco berupaya menyeimbangkan belanja modal perusahaan sembari tetap memenuhi komitmen pembagian dividen kepada para pemegang saham. Fokus utama dari rencana ini adalah melepas kepemilikan minoritas pada aset sektor hilir dan menengah.
Meski mengundang investor global untuk masuk, Aramco dipastikan tetap memegang kendali penuh atas bisnis produksi minyak di sektor hulu. Strategi ini diambil untuk memperkuat posisi finansial tanpa mengganggu operasional inti perusahaan.
Program pelepasan aset tersebut sebenarnya sudah mulai dirancang oleh pihak manajemen sejak satu tahun terakhir. Hal ini dipicu oleh tingginya minat para investor internasional terhadap potensi aset energi yang dimiliki Arab Saudi.
Kepercayaan diri Aramco semakin meningkat setelah kesepakatan besar dengan konsorsium Global Infrastructure Partners pada Agustus tahun lalu. Transaksi senilai USD11 miliar tersebut melibatkan fasilitas pengolahan gas alam Jafurah.
Target Penjualan Aset Strategis
Salah satu poin utama dalam agenda ini adalah penjualan sebagian saham pada fasilitas terminal ekspor dan penyimpanan minyak. Fasilitas tersebut berlokasi di kompleks Ras Tanura yang merupakan pusat distribusi vital bagi perusahaan.
Dalam menjalankan proses transaksi ini, Aramco dikabarkan menggandeng Citigroup sebagai mitra strategis. Nilai dari penjualan aset di terminal ekspor tersebut diprediksi bakal menembus angka lebih dari USD10 miliar.
Selain infrastruktur energi, raksasa minyak ini juga mulai melirik potensi keuntungan dari aset properti yang mereka kelola. Perusahaan sedang menjajaki skema jual-dan-sewa-kembali (sale-and-leaseback) untuk portofolio properti mereka.
Kawasan Dhahran di Provinsi Timur yang menjadi pusat hunian ribuan karyawan turut masuk dalam daftar aset yang akan dikerjasamakan. Manajemen menargetkan nilai transaksi dari sektor properti ini setidaknya mencapai USD10 miliar.
Rincian rencana penjualan aset strategis Saudi Aramco:- Penjualan kepemilikan minoritas di sektor infrastruktur energi midstream dan downstream kepada pemodal internasional.
- Pelepasan sebagian saham terminal ekspor minyak Ras Tanura dengan estimasi nilai di atas USD10 miliar.
- Penerapan skema sale-and-leaseback untuk aset properti di wilayah Dhahran dengan target USD10 miliar.
- Mempertahankan kendali eksklusif pada operasional hulu (upstream) untuk menjaga kedaulatan produksi minyak.
Langkah-langkah di atas menunjukkan upaya Aramco dalam mengoptimalkan struktur modalnya dengan memanfaatkan aset-aset non-inti. Hal ini dilakukan guna mendukung pertumbuhan jangka panjang perusahaan di pasar energi global.
Daftar berikut merangkum estimasi nilai dan jenis aset yang masuk dalam rencana besar Aramco tersebut.
| Kategori Aset | Estimasi Nilai (USD) | Fokus Utama Transaksi |
|---|---|---|
| Terminal Minyak Ras Tanura | Lebih dari 10 Miliar | Penyimpanan dan ekspor |
| Portofolio Properti | Minimal 10 Miliar | Skema sale-and-leaseback di Dhahran |
| Infrastruktur Gas & Lainnya | Hingga 15 Miliar | Aset midstream dan downstream |
Tabel tersebut memberikan gambaran mengenai target ambisius perusahaan dalam mengumpulkan likuiditas dari berbagai lini bisnis. Semua proses ini dilakukan dengan tetap mengedepankan efisiensi dan transparansi bagi para investor global.