Lonjakan kasus penipuan digital di industri aset kripto membuat Indodax mengambil langkah tegas untuk memperkuat edukasi keamanan digital bagi penggunanya.
Upaya ini dilakukan sebagai respons atas maraknya praktik phishing, munculnya nomor layanan pelanggan palsu, hingga pembuatan situs tiruan yang sangat meresahkan.
Waspadai Modus Manipulasi Psikologis
CEO Indodax, William Sutanto, menjelaskan bahwa pelaku kejahatan saat ini cenderung tidak lagi menyerang sistem teknologi yang rumit secara langsung.
Para peretas kini lebih sering menggunakan metode manipulasi agar pengguna secara sukarela memberikan akses akun, kode OTP, atau informasi pribadi mereka.
Menurut William, literasi mengenai keamanan digital kini sudah seharusnya menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ia menekankan bahwa tautan berbahaya dan nomor palsu sering kali menjadi pintu masuk utama bagi para penipu untuk menguras aset korban.
Data Kerugian dan Serangan Siber di Indonesia
Berdasarkan data terbaru dari Tiger Research, teknik manipulasi psikologis atau social engineering menjadi faktor utama kerugian di industri Web3.
Sepanjang kuartal pertama tahun 2026, metode ini menyumbang sekitar 74,7% dari total kerugian, naik signifikan dari angka 64,3% pada tahun sebelumnya.
Beberapa modus kejahatan siber yang paling sering ditemukan di lapangan antara lain:
- Praktik phishing melalui pesan singkat atau email.
- Layanan pelanggan (customer service) palsu di media sosial.
- Situs web dan nomor telepon ilegal yang menyerupai kanal resmi.
- Penyebaran tautan berbahaya untuk mencuri data sensitif.
Daftar di atas menunjukkan betapa beragamnya cara yang digunakan pelaku untuk mengelabuhi masyarakat agar terjebak dalam skema penipuan mereka.
Skala Ancaman Keamanan Digital Nasional
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melaporkan bahwa Indonesia menghadapi setidaknya 5,5 miliar serangan siber sepanjang tahun 2025 lalu.
Angka ini menunjukkan lonjakan hingga tujuh kali lipat jika dibandingkan dengan rata-rata tahunan pada periode tahun 2020 hingga 2024.
Berikut adalah rangkuman data kerugian dan statistik keamanan siber di Indonesia:
| Kategori Data | Statistik / Nilai Kerugian |
|---|---|
| Total Kerugian Penipuan Keuangan | Rp9,1 Triliun (2024 - Jan 2026) |
| Jumlah Serangan Siber (2025) | 5,5 Miliar Serangan |
| Penyebab Kerugian Web3 (Q1 2026) | 74,7% Social Engineering |
Data yang dihimpun oleh OJK bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) ini menegaskan urgensi perlindungan data bagi setiap pemilik akun keuangan digital.
Modus Penipuan Melalui Mesin Pencari
William Sutanto juga menyoroti taktik baru di mana pelaku menyalahgunakan mesin pencari untuk menampilkan informasi kontak perusahaan yang tidak valid.
Penipu sengaja memunculkan nomor layanan pelanggan palsu dan situs tiruan agar muncul di hasil pencarian teratas guna menjaring korban yang kurang teliti.
Oleh karena itu, Indodax mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi ulang melalui kanal komunikasi resmi sebelum melakukan transaksi apa pun.
Langkah preventif ini diharapkan dapat menekan angka kerugian akibat kejahatan siber yang terus mengintai para pengguna platform aset kripto di tanah air.