Rupiah Terperosok ke Rp17.706 per Dolar AS, Terlemah di Tahun 2026

Rupiah Terperosok ke Rp17.706 per Dolar AS, Terlemah di Tahun 2026
Foto: Ilustrasi Rupiah Terperosok ke Rp17.706 per Dolar AS, Terlemah di Tahun 2026.
Ukuran teks

Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus mengalami tekanan pada penutupan perdagangan hari Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda tercatat merosot cukup tajam hingga menyentuh level baru yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup melemah sebesar 38 poin atau sekitar 0,22 persen ke posisi Rp17.706 per dolar AS. Tren penurunan ini juga dikonfirmasi oleh data JISDOR Bank Indonesia yang mematok kurs di level Rp17.719 per dolar AS pada hari yang sama.

Faktor Global di Balik Pelemahan Rupiah

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang, menjelaskan bahwa sentimen negatif yang menekan rupiah saat ini didominasi oleh perkembangan situasi geopolitik global. Salah satu fokus utama pasar adalah pernyataan terbaru dari Presiden AS Donald Trump terkait konflik di Timur Tengah.

Dalam risetnya, Ibrahim menyebutkan bahwa Trump berencana menunda aksi militer terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi. Langkah ini diambil dengan harapan bisa mencapai kesepakatan untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Pernyataan tersebut memberikan harapan adanya kesepakatan damai antara kedua negara setelah ketegangan yang meningkat. Namun, ketidakpastian di wilayah tersebut tetap membuat pelaku pasar merasa waspada terhadap aset-aset berisiko tinggi.

Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Pasokan Global

Beberapa poin penting mengenai dampak eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi :

  • Gangguan Jalur Perdagangan: Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia kini praktis tertutup akibat konflik tersebut.
  • Keamanan Energi: Penutupan jalur ini mengancam ketersediaan sekitar seperlima pasokan minyak mentah global secara keseluruhan.
  • Kekhawatiran Pasar: Gangguan logistik energi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya lonjakan harga minyak dunia dalam waktu dekat.
  • Komunikasi Diplomatik: Iran melalui Kementerian Luar Negeri telah menyampaikan posisinya kepada AS dengan bantuan Pakistan sebagai perantara.

Hingga saat ini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai poin-poin kesepakatan yang dibicarakan oleh pihak Teheran. Ketidakjelasan rincian diplomasi ini turut menambah fluktuasi pada nilai tukar mata uang di negara berkembang termasuk Indonesia.

Upaya Stabilisasi dan Proyeksi Mendatang

Meskipun saat ini kurs sedang tertekan, Bank Indonesia (BI) memberikan komitmen untuk tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan ke depan. BI menargetkan posisi rupiah dapat kembali menguat ke level Rp16.200 per dolar AS pada bulan Juli mendatang.

Ringkasan perbandingan data kurs rupiah terkini :

Indikator Kurs Posisi Saat Ini (19 Mei 2026) Target BI (Juli 2026)
Pasar Spot (Closing) Rp17.706 per USD Rp16.200 per USD
JISDOR Bank Indonesia Rp17.719 per USD Rp16.200 per USD
Persentase Penurunan 0,22% -

Tabel di atas menunjukkan selisih yang cukup signifikan antara nilai tukar saat ini dengan target yang diharapkan oleh otoritas moneter. Upaya stabilisasi ini diharapkan dapat segera memberikan sentimen positif bagi pasar domestik.

Gubernur Bank Indonesia menyatakan optimisme bahwa rupiah akan kembali stabil dan menguat pada periode Juli hingga Agustus 2026. Keyakinan ini muncul setelah adanya koordinasi intensif dengan Presiden terpilih, Prabowo Subianto, guna mengawal kebijakan ekonomi nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi