Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada Jumat, 5 Juni 2026, dengan kurs mencapai Rp18.049 per dolar AS. Depresiasi ini dipengaruhi oleh konflik geopolitik dan data ekonomi AS yang terbaru.
Pengamat valuta asing, Ibrahim Assuaibi, memprediksi nilai rupiah masih cenderung melemah di rentang Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS. Sentimen global terutama disebabkan oleh meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Lebanon.
Israel baru-baru ini memperluas operasi militernya di wilayah selatan Lebanon. Washington sebelumnya mengumumkan gencatan senjata dengan syarat penghentian permusuhan oleh Hizbullah.
Selain konflik geopolitik, pasar juga memantau data ekonomi AS terbaru. Laporan penggajian non-pertanian yang diawasi ketat menunjukkan perusahaan swasta menambah 122.000 pekerjaan pada Mei, melampaui ekspektasi.
Di dalam negeri, kekhawatiran muncul terkait peningkatan harga minyak mentah yang dapat mempengaruhi defisit fiskal. Risiko intervensi pemerintah dalam komoditas dan spekulasi tentang perubahan dalam klasifikasi pasar modal turut menjadi pertimbangan.
Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai, dalam skenario terbaik, rupiah dapat mencapai level Rp17.089 per dolar AS dengan dukungan dari intervensi BI dan kebijakan fiskal yang kuat.
Namun, skenario terburuk dapat terjadi jika terdapat intervensi politik ke Bank Indonesia, disertai kondisi ekonomi global yang tidak menguntungkan.
Detail Faktor Utama Penggerak Rupiah:
- Geopolitik: Konflik di Timur Tengah dengan gencatan senjata yang rapuh.
- Data Ekonomi AS: Peningkatan penggajian non-pertanian yang melampaui ekspektasi.
- Domestik: Lonjakan harga minyak mentah berpotensi menambah defisit fiskal.
- Potensi Intervensi: Kebijakan dan spekulasi tentang klasifikasi pasar modal memengaruhi.
Faktor-faktor tersebut menciptakan dinamika yang kompleks bagi nilai tukar rupiah ke depan. Kebijakan internal dan eksternal menjadi kunci penting bagi stabilitas ekonomi.