Calon Ketua Umum BPP HIPMI, Reynaldo Bryan, menekankan bahwa suksesnya program hilirisasi nasional tidak hanya dilihat dari jumlah investasi yang masuk ke Indonesia.
Ia mengungkapkan bahwa ukuran keberhasilan harus ditinjau dari pemerataan manfaat ekonomi yang bisa dirasakan oleh pelaku usaha di daerah.
Pernyataan ini disampaikannya dalam Debat Ketiga Calon Ketua Umum BPP HIPMI yang juga dihadiri Pendiri HIPMI Abdul Latief, Ketua Umum BPP HIPMI Akbar Himawan Buchari, serta panelis nasional lainnya seperti Sandiaga Uno, Raja Sapta Oktohari, Kiki Verico, dan Fithra Faisal Hastiadi.
Tantangan Utama Hilirisasi
Reynaldo menilai bahwa tantangan terbesar dari pelaksanaan hilirisasi adalah belum meratanya manfaat ekonomi, terutama di area penghasil komoditas.
“Masalah utama hilirisasi yang dihadapi di berbagai daerah adalah distribusi manfaat ekonomi yang belum merata. Investasi dan industri harus melibatkan pengusaha lokal agar memberikan nilai tambah nyata bagi usaha di daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengusaha lokal tidak boleh hanya sebagai penonton di tengah derasnya arus investasi.
Pelaku usaha lokal harus aktif terlibat dalam rantai nilai industri guna meningkatkan kapasitas bisnis dan memperkuat ekonomi daerah.
Reynaldo juga menyarankan agar konsep hilirisasi ke depan dibangun dengan pendekatan yang lebih inklusif.
Kehadiran pabrik maupun fasilitas pengolahan harus disertai dengan penciptaan ekosistem usaha yang mendorong pertumbuhan bagi UMKM dan pengusaha lokal.
Inklusivitas dalam Hilirisasi
“Hilirisasi harus bersifat inklusif melalui penguatan rantai pasok lokal, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemberdayaan UMKM, serta kebijakan yang menjamin dampak ekonominya dirasakan oleh pengusaha daerah,” ujar Reynaldo.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa HIPMI memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan antara kepentingan pengusaha daerah dan agenda pembangunan nasional.
Menurutnya, partisipasi pelaku usaha lokal dalam proyek hilirisasi dapat mempercepat pemerataan ekonomi dan menciptakan lebih banyak pengusaha tangguh di Indonesia.
“Daerah tidak boleh hanya menjadi lokasi investasi tanpa manfaat ekonominya kembali ke masyarakat dan pelaku usaha setempat. Hilirisasi harus meningkatkan pemerataan, memperkuat pengusaha lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya.
```