Pembicaraan untuk menghentikan kekerasan antara Amerika Serikat dan Iran tidak menunjukkan kemajuan berarti setelah gelombang kekerasan yang meningkat di Timur Tengah. Konflik ini semakin parah ketika kelompok milisi Hizbullah, yang diketahui mendapat dukungan dari Iran, menolak gencatan senjata yang dimediasi AS di Lebanon pada Kamis.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi gencatan senjata kini berada di tahap “akhir”. Namun, menteri luar negeri Iran sebelumnya mengatakan bahwa pembicaraan tersebut telah menemui jalan buntu. Pada Rabu lalu, Iran meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Kuwait dan Bahrain, mengakibatkan seorang tewas dan puluhan lainnya luka di bandara utama Kuwait, usai serangan AS terhadap kapal tanker minyak yang menuju Iran.
Sementara itu di Lebanon, militan Hizbullah menyatakan penolakan terhadap syarat-syarat gencatan senjata yang baru diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS. Mereka hanya beberapa jam setelah pengumuman tersebut. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan dari Israel menewaskan sedikitnya delapan orang. Militer Israel juga melaporkan bahwa Hizbullah telah menembakkan sejumlah roket ke arah pasukan mereka.
Baca Juga
- Kim Jong Un Pamer Pabrik Nuklir Baru, Sebut Kapasitas Naik
- Menlu AS: Risiko Nuklir Iran Lebih Buruk dari Krisis Ekonomi Global
- DPR AS Voting Hentikan Perang Iran, Tolak Kebijakan Trump
Artikel terkait lainnya: Istana Bantah Prabowo Ingin Reshuffle Menkeu Purbaya. Istana menyebut bahwa aktivis buruh Said Iqbal akan bergabung dengan pemerintah. Sementara itu, bursa saham Asia bersiap menghadapi pelemahan akibat ketegangan baru antara AS dan Iran.
Ketegangan antara AS dan Iran juga mengakibatkan harga minyak tetap tinggi, menurut laporan pasar dalam 23 jam terakhir. Di sisi lain, Wall Street mengalami penurunan setelah konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak.
```