Rupiah Melemah, Ekonom Sebut Penyebabnya Bukan Sekadar Kurang Intervensi BI

Rupiah Melemah, Ekonom Sebut Penyebabnya Bukan Sekadar Kurang Intervensi BI
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah, Ekonom Sebut Penyebabnya Bukan Sekadar Kurang Intervensi BI.
Ukuran teks

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memberikan pandangannya terkait langkah Bank Indonesia (BI) dalam menangani pelemahan rupiah. Menurutnya, intervensi yang dilakukan BI tergolong efektif untuk menjaga agar kondisi pasar tetap stabil di tengah tekanan global.

Meskipun demikian, Yusuf memberikan catatan bahwa intervensi tersebut bersifat defensif. Langkah ini bertujuan agar penurunan nilai tukar terjadi secara teratur dan tidak menimbulkan guncangan besar pada sistem keuangan nasional.

Faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar menurut pengamatan pasar:

  • Arah Kebijakan Fiskal: Investor terus memantau apakah kebijakan fiskal pemerintah memberikan rasa aman atau justru memicu kekhawatiran baru.
  • Konsistensi Aturan: Kepastian hukum sangat krusial bagi investor karena perubahan regulasi yang mendadak sangat berpengaruh pada rencana investasi jangka panjang.
  • Iklim Investasi: Prospek aliran modal masuk dalam jangka menengah sangat bergantung pada kondisi lingkungan bisnis di Indonesia secara keseluruhan.

Yusuf menegaskan bahwa masalah nilai tukar saat ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan intervensi moneter. Jika tekanan berasal dari masalah struktural atau persepsi risiko fiskal, intervensi BI hanya berfungsi untuk memperlambat dampak sementara waktu.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Stabilitas Rupiah

Tekanan terhadap mata uang Garuda dinilai bersumber dari berbagai aspek di luar kendali kebijakan moneter. Hal ini membuat peran BI saat ini seolah menjadi garda terdepan dalam menangani masalah yang akarnya berada di luar domain mereka.

Yusuf menekankan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar harus menjadi tanggung jawab kolektif berbagai lembaga pemerintah. Di sisi lain, parlemen juga mulai menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak pelemahan ini bagi masyarakat luas.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mendesak pemerintah untuk segera melakukan mitigasi yang cepat. Ia menilai pelemahan rupiah yang tidak segera diatasi akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya produksi industri.

Dampak potensial dari pelemahan nilai tukar yang perlu diwaspadai:

  • Meningkatnya biaya produksi bagi sektor manufaktur yang mengandalkan bahan baku luar negeri.
  • Lonjakan harga pada barang-barang impor yang dikonsumsi masyarakat.
  • Potensi kenaikan inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat secara umum.

Misbakhun juga meminta agar Bank Indonesia lebih proaktif dalam mengantisipasi pelemahan rupiah yang lebih dalam. Fokus utamanya adalah menjaga kepercayaan pelaku pasar agar tidak terjadi pelarian modal besar-besaran dari Indonesia.

Ia menambahkan bahwa stabilitas bukan sekadar soal angka kurs semata, melainkan tentang kepastian usaha. Oleh karena itu, komunikasi kebijakan dari otoritas terkait harus disampaikan secara jelas, cepat, dan memiliki kredibilitas tinggi di mata publik.

Artikel terkait

Rekomendasi