Rekomendasi Saham Hari Ini: PTBA, ASII, dan MYOR Terbaru Paling Dicari 2026

Rekomendasi Saham Hari Ini: PTBA, ASII, dan MYOR Terbaru Paling Dicari 2026
Foto: Rekomendasi Saham Hari Ini: PTBA, ASII, dan MYOR Terbaru Paling Dicari 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan pada hari Rabu (20/5) dengan mencatatkan koreksi. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini melemah sebesar 0,82% hingga mendarat di posisi 6.318,50.

Pergerakan negatif ini dipicu oleh besarnya tekanan pada saham-saham di sektor industri dasar. Di sisi lain, para investor asing masih aktif melakukan aksi jual bersih atau net sell di pasar reguler dengan nilai mencapai Rp130,88 miliar.

Meski indeks secara umum melemah, beberapa saham tetap mencatatkan performa gemilang di zona hijau. Saham Mora Telematika Indonesia (MORA) menjadi yang terdepan dengan lonjakan harga mencapai 19,75%.

Selain MORA, saham Sinarmas Multiartha (SMMA) turut menguat 8,49% dan Bank Mandiri (BMRI) naik 2,42%. Namun, kekuatan ini tidak cukup untuk membendung tekanan dari grup saham petrokimia dan energi.

Penurunan paling tajam dialami oleh Chandra Asri Pacific (TPIA) yang anjlok hingga 14,74%. Selanjutnya, Barito Pacific (BRPT) merosot 10,18% dan Barito Renewables Energy (BREN) juga terkoreksi sedalam 7,62%.

Berdasarkan pengelompokan sektoral, sembilan dari sebelas sektor di bursa berakhir di zona merah. Sektor industri dasar menjadi beban terberat dengan penurunan drastis sebesar 4,67%.

Sebaliknya, sektor keuangan muncul sebagai penyeimbang dengan mencatatkan penguatan tertinggi mencapai 1,21%. Walaupun terjadi tekanan di pasar reguler, investor asing secara total di seluruh pasar membukukan beli bersih senilai Rp249,17 miliar.

Kondisi Pasar Global dan Sentimen Makroekonomi

Berbeda dengan pasar domestik, bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street justru ditutup di zona positif. Indeks Dow Jones melonjak 1,31% ke angka 50.009, sementara S&P 500 naik 1,08% ke level 7.432.

Indeks Nasdaq juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 1,55% menjadi 26.270. Saat ini, para pelaku pasar global sedang memusatkan perhatian pada rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada data neraca berjalan Indonesia untuk kuartal I-2026. Data tersebut diproyeksikan mencatat defisit sebesar US$4,50 miliar, angka yang lebih lebar dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar US$2,54 miliar.

Sentimen lain yang memengaruhi pasar adalah rencana pemerintah melakukan sentralisasi ekspor komoditas utama melalui pembentukan BUMN ekspor. Program ini akan menyasar ekspor Crude Palm Oil (CPO) serta batu bara.

Kebijakan sentralisasi tersebut dinilai memberikan tekanan psikologis terhadap sektor komoditas. Hal ini pun turut memberikan dampak langsung pada fluktuasi pergerakan IHSG di lantai bursa.

Laporan Kinerja Emiten di Awal Tahun

Di tengah kondisi pasar yang dinamis, Indika Energy (INDY) melaporkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan. Perseroan mencetak laba US$13,59 juta pada kuartal I-2026, naik 33,88% dari periode tahun sebelumnya sebesar US$10,15 juta.

Meskipun pendapatan hanya tumbuh tipis 0,73% menjadi US$493,21 juta, efisiensi tetap terjaga. Kinerja positif ini turut didorong oleh pendapatan investasi yang melonjak 73,51% secara tahunan menjadi US$5,47 juta.

Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya nilai investasi perusahaan pada Nanshan Aluminium International Holdings Ltd. Saat ini, nilai investasi tersebut tercatat telah mencapai angka US$20,04 juta.

Perseroan juga berhasil memangkas total beban usaha sebesar 1,57% menjadi US$419,18 juta. Penurunan beban pokok ini dipengaruhi oleh bertambahnya persediaan batu bara senilai US$15,23 juta pada awal tahun ini.

Kondisi persediaan yang meningkat ini mengindikasikan volume produksi perusahaan lebih besar dibandingkan volume penjualan. Hal ini berdampak positif pada penurunan beban pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS).

Sementara itu, emiten perkebunan Cisadane Sawit Raya (CSRA) menargetkan pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 700 ribu ton tahun ini. Target ini meningkat cukup tajam dari realisasi tahun lalu yang sebesar 500 ribu ton.

Hingga penutupan kuartal pertama 2026, produksi TBS perseroan sudah mencapai 18% dari target tahunan. Perusahaan juga menyiapkan dana belanja modal (capex) sebesar Rp100 miliar untuk ekspansi lahan dan peremajaan tanaman.

Dengan berbagai strategi tersebut, CSRA optimistis pendapatan tahun ini bisa tumbuh 5,87% secara tahunan. Target pendapatan dipatok mencapai Rp2 triliun, naik dari realisasi sebelumnya yang berada di angka Rp1,89 triliun.

Aksi Korporasi dan Rencana Buyback Saham

Kabar menarik datang dari Bangun Kosambi Sukses (CBDK) yang berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Perusahaan mengalokasikan dana maksimal sebesar Rp250 miliar yang bersumber dari kas internal.

Pada kuartal pertama 2026, posisi kas perusahaan terpantau sangat kuat di angka Rp2,75 triliun. Jika rencana buyback ini dilakukan secara maksimal, posisi kas akan tetap sehat pada kisaran Rp2,50 triliun.

Namun, aksi korporasi ini diperkirakan akan menurunkan total aset perusahaan menjadi Rp22,18 triliun. Nilai ekuitas atau modal sendiri juga berpotensi mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp12,22 triliun.

Manajemen menegaskan bahwa jumlah saham yang dibeli kembali akan tetap mengikuti regulasi POJK mengenai saham treasuri. Proses ini akan difasilitasi melalui Ina Sekuritas Indonesia dalam rentang waktu 20 Mei hingga 19 Agustus 2026.

Rekomendasi Saham Pilihan

Berikut adalah rangkuman rekomendasi saham dari Mega Capital Sekuritas untuk dicermati oleh para investor hari ini:

Kode Saham Rekomendasi Area Beli (Rp) Target Harga (Rp) Stop Loss (Rp)
PTBA Buy 2770 - 2820 2850 - 2900 2650
ASII Buy 5900 - 5950 6050 - 6100 5700
MYOR Buy 1845 - 1865 1890 - 1920 1750
OASA Buy 416 - 424 432 - 442 394
KETR Buy 600 - 615 625 - 645 565

Data tabel di atas menyajikan rekomendasi teknikal untuk beberapa saham potensial dari berbagai sektor. Investor disarankan memperhatikan titik masuk (entry point) dan batas risiko (stop loss) yang telah ditentukan.

Perlu diingat bahwa seluruh analisis dan rekomendasi saham yang disajikan dalam artikel ini bersifat informatif. Penulis maupun analis tidak memberikan paksaan untuk melakukan transaksi beli atau jual pada aset tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing investor. Sangat penting bagi Anda untuk menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko serta tujuan keuangan jangka panjang secara bijak.

Artikel terkait

Rekomendasi