Rekomendasi Saham Emiten Buyback Terbaru: ADRO dan MIKA Jadi Pilihan Analis 2026

Rekomendasi Saham Emiten Buyback Terbaru: ADRO dan MIKA Jadi Pilihan Analis 2026
Foto: Rekomendasi Saham Emiten Buyback Terbaru: ADRO dan MIKA Jadi Pilihan Analis 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Puluhan emiten di Bursa Efek Indonesia tengah bersiap untuk melakukan aksi pembelian kembali atau buyback saham. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas kondisi pasar modal yang saat ini sedang mengalami tekanan cukup signifikan.

Meskipun buyback sering kali dianggap sebagai sinyal positif, para investor tetap diingatkan untuk lebih selektif dalam menyusun portofolio. Selain aksi buyback, beberapa perusahaan tercatat juga memilih melakukan pemecahan nilai nominal saham atau stock split untuk menjaga performa mereka.

Sukarno Alatas selaku Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia menjelaskan bahwa secara teoritis, kedua aksi korporasi tersebut memang bisa menjadi sentimen positif bagi pasar. Namun, dalam kondisi pasar yang masih sangat fluktuatif, dampak yang dirasakan akan sangat bergantung pada fundamental masing-masing emiten.

Menurut Sukarno, aksi buyback biasanya memiliki pengaruh yang lebih kuat untuk menjaga level harga saham. Hal ini dikarenakan buyback mengirimkan sinyal bahwa valuasi perusahaan sudah murah sekaligus mampu mengurangi jumlah saham yang beredar di masyarakat.

Di sisi lain, mekanisme stock split memiliki tujuan yang sedikit berbeda dari buyback. Langkah ini lebih difokuskan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan dan membuat harga saham menjadi lebih terjangkau bagi para investor ritel.

Daftar emiten yang direkomendasikan untuk dicermati oleh investor :

  • PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO): Perusahaan ini berencana mengalokasikan dana maksimal Rp4 triliun untuk aksi buyback yang berlangsung hingga April 2027.
  • PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA): Emiten pengelola rumah sakit ini menyiapkan dana hingga Rp1 triliun untuk membeli kembali sahamnya mulai Juni 2026.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI): Bank pelat merah ini juga ikut meramaikan pasar dengan rencana buyback saham senilai maksimal Rp1,17 triliun.
  • PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO): Setelah mencatatkan laba, GOTO berencana melakukan buyback dengan nilai yang cukup fantastis mencapai Rp3,50 triliun.

Pihak Kiwoom Sekuritas menilai saham ADRO sangat menarik untuk dipantau karena memiliki kinerja operasional yang solid pada kuartal pertama tahun 2026. Selain itu, valuasi sahamnya masih tergolong murah dan memiliki sejarah pembagian dividen yang cukup kuat bagi pemegang saham.

Sementara itu, saham MIKA dianggap prospektif untuk investasi jangka menengah hingga jangka panjang. Fundamental emiten kesehatan ini dinilai sangat defensif, ditambah valuasinya yang mulai menarik setelah sempat mengalami koreksi harga di pasar.

Berdasarkan data keuangan terbaru, ADRO mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 23,40% secara tahunan (YoY) menjadi US$470,91 juta. Kenaikan ini didorong oleh penguatan di seluruh lini bisnis, mulai dari pertambangan hingga jasa pendukung lainnya.

Laba bersih yang diraup oleh emiten terafiliasi Boy Thohir ini juga melesat tajam sebesar 67,07% YoY menjadi US$128,14 juta. Pencapaian ini menunjukkan efisiensi dan performa bisnis yang tetap terjaga di tengah dinamika industri komoditas.

Kinerja positif juga ditunjukkan oleh PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) pada tiga bulan pertama tahun 2026. Perusahaan berhasil mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp1,36 triliun, naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,27 triliun.

Pertumbuhan pendapatan MIKA didukung oleh peningkatan layanan pada segmen rawat inap maupun rawat jalan. Alhasil, laba bersih emiten ini tumbuh menjadi Rp325,80 miliar dibandingkan catatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp310,96 miliar.

Berdasarkan kompilasi data keterbukaan informasi sejak Maret hingga Mei 2026, tercatat setidaknya ada 28 emiten yang telah mengumumkan rencana buyback. Fenomena ini menunjukkan adanya upaya masif dari perusahaan untuk menjaga stabilitas harga saham mereka di lantai bursa.

Rincian rencana aksi korporasi beberapa emiten besar :

Nama Emiten Jenis Aksi Korporasi Alokasi Dana / Rasio Periode Pelaksanaan
ADRO Buyback Maks. Rp4 Triliun 20 April 2026 - 20 April 2027
MIKA Buyback Maks. Rp1 Triliun 10 Juni 2026 - 9 Juni 2027
BMRI Buyback Maks. Rp1,17 Triliun 30 April 2026 - 29 April 2027
GOTO Buyback Maks. Rp3,50 Triliun 19 Juni 2026 - 18 Juni 2027
RAJA Stock Split Rasio 1:5 Tahun Berjalan 2026
DSSA Stock Split Rasio 1:25 Tahun Berjalan 2026

Tabel di atas merangkum beberapa langkah strategis yang diambil oleh perusahaan-perusahaan besar untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang sahamnya. Terlihat bahwa alokasi dana untuk buyback kali ini cukup besar, mencerminkan optimisme internal perusahaan terhadap nilai intrinsik mereka.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. misalnya, meski melakukan buyback, tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,6% YoY menjadi Rp15,4 triliun. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan dengan modal kuat tetap mampu melakukan aksi korporasi tanpa mengganggu kesehatan finansialnya.

Kabar mengejutkan juga datang dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang akhirnya berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp171 miliar. Dengan kondisi kas yang melimpah, GOTO optimistis menjalankan buyback saham senilai Rp3,50 triliun dalam waktu dekat.

Selain aksi beli kembali saham, tren pemecahan nilai saham atau stock split juga sedang dilakukan oleh tiga emiten lainnya. PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) memecah saham dengan rasio 1:5, sementara PT Itsec Asia Tbk. (CYBR) dengan rasio 1:2.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi emiten dengan rasio stock split paling besar, yakni mencapai 1:25. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memicu gairah transaksi di pasar sekunder dan memperluas basis investor domestik.

Penting untuk diingat bahwa seluruh data dan analisis dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi tertentu. Segala bentuk keputusan investasi merupakan tanggung jawab penuh masing-masing investor dengan mempertimbangkan risiko yang ada.

Artikel terkait

Rekomendasi